Kampung Inggris Pare : Heran


Kaget ketika pertama kali saya datang ke kampung inggris di Pare kabupaten Kediri, ternyata asap rokok dimana-mana. Ironis karena ditempat orang-orang terdidik mencari ilmu, merokok seperti hal biasa. Apalagi sumber asap berasal dari anak-anak usia sekolah dan mahasiswa karena saya datang kebetulan bertepatan dengan jadwal liburan sekolah dan kuliah. Di tempat les saya juga tidak diberlakukan larangan merokok di sekitar tempat les alhasil tidak ada jarak 1 meter tanpa kosong dari asap rokok. Begitupun dengan orang umum, di sekitar kampung inggris ini banyak sekali yang merokok. Udara bersih cuma ada di kos.

Keheranan saya tidak berhenti sampai disitu. Orang pare senang sekali membunyikan klakson motor atau mobil ketika akan lewat walaupun jalanan sepi. Ketika ada orang sedang bersepeda dan ada mobil atau motor akan lewat maka mereka pasti membunyikan klakson. Hal yang mengherankan adalah banyak dari mereka yang membunyikan klakson tanpa berhenti selama beberapa meter (bisa dibayangkan heboh suaranya) . Hal klakson mengklakson tidak hanya terjadi di jalan brawijaya yang besar tetapi juga di jalan lain sekitar kampung. Hal tersebut nyambung dengan karakter orang pare yang suka mengeluh dan tidak sabaran. Ini yang merasakan bukan saya saja ternyata. Pernah ketika saya akan membeli kosmetik di sebuah toko kosmetik besar di pasar pare, menemukan mbak SPG yang bahkan “harus” mengeluh terlebih dahulu di depan saya sebelum melihat daftar harga. Si mbaknya bilang kira-kira begini “wah kalau itu harus lihat daftar harga dulu mbak” dengan mimik muka cemberut, dalam hati saya “terus? Gue harus bilang wow?”. Teman saya pun pernah dimarahi pedagang di pasar karena meralat jumlah barang yang akan dibeli… orang-orang pare tuh “aya aya wae”. Bahkan ibu kos juga sampai harus “rebutan” space jemuran dengan para anak kos di tempat saya sambil ngomel-ngomel hahaha. Di pare tidak ada pedagang yang mengucapkan terimakasih setelah saya membeli barang mereka. Mungkin karena di Pare ini orang berjualan jarang ada saingannya sehingga apapun yang mereka lakukan tetap akan laku. Sepertinya demikian.

Kalau ada award bad attitude village in the world mungkin saya akan mengusulkan untuk memasukkan desa ini untuk masuk daftar nominasi. Tapi tidak ada yang sifatnya mutlak di muka bumi ini. Baru semalam ketika saya dan teman-teman kos mencari tempat makan di jalan anyelir, kami menemukan warung makan enak, ibu penjualnya ramah banget banget banget. Arah tempatnya dari pertigaan jalan mawar – jalan anyelir belok kiri sampai ketemu toko parfum. Sebelah toko parfum ada pos kamling kecil, nah seberangnya adalah warung si ibu. Masakannya enak banget dan harganya murah, jualannya ada soto, terong sambal ijo, ikan dan lauk pauk goreng ditambah gratis 2 kerupuk. Ketika makan di warung ini saya serasa di Surabaya. Maklum, sejak kecil saya selalu bermukim di Surabaya dan dimanjakan oleh enaknya masakan-masakan Surabaya yang penuh bumbu. Di warung ini kami bercanda melulu dengan si ibu. Sayangnya warung ini mungkin akan terasa kurang nyaman bagi cewek yang pemalu karena biasanya yang datang kesini adalah para cowok. Oleh karena itu si ibu seneng banget ketika rombongan kami mampir ke warung beliau, apalagi kami orangnya heboh-heboh. Kalau ke kampung inggris wajib datang ke warung ini lagi.

Keheranan berikutnya ada apa lagi? mungkin heran dalam hal yang lain yang baik🙂 Pastinya tidak ada yang mutlak di dunia ini, termasuk di Pare.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s