Bagaimana Rasanya jadi TKI ?


Kerja di luar negeri? Jadi TKI maksudnya? Iya. Kalau kerja
di luar negeri jadi white collar sih nggak masalah ya, tapi
yang penuh tantangan lebih itu yang blue collar. Saya nggak tahu bagaimana kehidupan para TKI blue collar yang sebenarnya dan tulisan ini nggak bahas itu. Saya cuma merasakan sedikit rasa sepenanggungan dengan mereka ketika di bandara Juanda, yah di negeri sendiri.

Kerja di luar negeri jadi blue collar itu untung-untungan
ya, kalau untung dapat majikan baiiik banget ya congratz
Anda menang lotre. Tapi kalau dapat majikan aneh, ya banyak
juga yang akhirnya nyari kerjaan lain atau malah pulang dalam peti (naudzubillah, semoga saudara-saudara TKI dilindungi Allah). Begitu sih hasil
“curi dengar” sewaktu “ngumpul” sama para TKI ketika
terdampar di bandara Kuala Lumpur. Belum lagi dipandang
sebelah mata oleh orang-orang seperti saya. Tapi kalau saya
sih nggak pandang itu TKI atau bukan, selama mereka annoying
pasti saya agak gimana gitu (jadi inget 4 orang berkulit
putih yang kapan hari bercanda sambil suaranya kenceng
banget bak pakai megaphone di JNE, amsyong annoying nggilani
pake banget).

Masih ingat sewaktu antri di loket untuk reschedule jadwal pesawat gara-gara bandara Juanda ditutup karena aktivitas gunung raung. Ada TKI yang majikannya baik banget sampai ditelepon bolak-balik untuk nanyain kabarnya bagaimana dan sampai dibantu mantau ketersediaan tiket di web. Tapi tetep, semua nggak bisa antri. Malah ada yang baru datang tiba-tiba nyerondol langsung di depan yang pada antri, di depan sendiri. Overall semua orang desa itu baik-baik sebenarnya, hanya saja entah kenapa sudah nggak ada perilaku unggah-ungguh jawanya.

—–

Singkat cerita, ketika mendekati waktunya boarding…

Sudah banyak orang menunggu di ruang tunggu gate ketika saya datang. kebetulan bangku depan sendiri ada 1 yang kosong. Jadilah saya duduk di situ. Sementara bangku dibelakang sudah banyak yang terisi. Anyway busway (busway masih ngetren kan?), ibarat minyak dan air yang nggak bisa bersatu. Ada (biasalah) kalangan etnis tertentu yang nggak mau duduk di belakang, akhirnya mereka melantai di depan pintu untuk boarding (nyontohin nggak bener). Kemudian diikuti oleh beberapa yang lain. Di sini kelakuan TKI masih lebih baik karena mereka sabar nunggu dengan duduk di tempat yang seharusnya (which is di kursi), karena bandara bukan warung lesehan. Wes talah asline kelakuane wong Indonesia gak peduli sopo ae mirip mirip kok (kadang mungkin aku juga).

Begitu tiba di bandara Juanda, entah siapa yang mulai tapi tampaknya nggak akan ada yang mengakhiri. Saya super syok ketika sampai di tempat pengambilan bagasi karena sudah seperti arena bump bump car. Saya sempat juga marah-marah karena di tengah keruwetan itu ada seorang bapak pakai sarung yang ndempet-ndempetin badan dan tiba-tiba nyalip antrian (ini asli orang slebor, risih sumpah tempel-tempelan badan sama stranger). Diikuti dengan porter yang dengan santainya motong antrian dan nyelonong saja langsung depan mesin x-ray. Si porter bawain barang orang elit, tapi orang elitnya waktu saya lihatin diam saja, saya berharap dia akan ngasih tahu ke si porter untuk antri (owalah ndul podo ae kelakuane). Kudu extra sabar.

Oke masalah x-ray done. Pikiran saya sudah langsung mau keluar dan naik taxi. Begitu mau keluar, di depan pintu keluar sudah ada petugas resmi bandara nyegat (sayang saya lupa menghafal namanya). Beberapa orang di depan saya dicegat disuruh minggir, termasuk saya disuruh minggir. Begitu saya belok kiri, saya baca tulisannya kantor urusan TKI. Saya marah-marah ke petugas yang di situ : Lho pak, ini untuk TKI? NGAPAIN SAYA DISURUH KESINI? SAYA INI HABIS UMROH!!! Si petugas berkilah : lha ngapain mbak mau disuruh kesini. “Lha mana saya tahu kalau untuk TKI wong tiba-tiba disuruh minggir, ooo dasar”. Waktu itu posisi psikologis saya memang “lu senggol? gue bacok!”. Emang saya waktu itu looknya nggak banget, sudah nggak mandi dan ganti baju selama 2 hari dan bete total. Jadi wajar kalau dikira TKI, tapi saya nggak terima kenapa kalau TKI pakai dicegat-cegat?

Ngapain coba para TKI itu di suruh minggir? Mereka kan sama seperti orang lain yang pulang dari luar negeri? Orang-orang lain yang dari luar negeri walaupun statusnya bukan TKI blue collar juga melakukan aktivitas jual beli barang/jasa pastinya tapi nggak disuruh minggir. Semua warga negara sekarang ini kan kena peraturan pajak pendapatan tho? Apa nggak cukup malaknya? Edan!!!. Woi stop melakukan diskriminasi kepada bangsa sendiri !!! Disebut pahlawan devisa? Pahlawan devisa apane?! Pahlawan yang dihinakan iya… Ketika saya lihat para TKI yang disuruh minggir, mereka diperiksa lagi disitu. Sek sebentar, kalau hasil pemeriksaan paspor, x-ray nggak ada apa-apa kan ya udah tho? beres, artinya tidak ada sesuatu yang melanggar.

Ada juga cerita bagasi teman saya hilang, ternyata ketika dicek besoknya ke bandara di tuntutan bagasi, bagasinya nggak hilang tapi emang sudah dibuka-buka. Tuh kan Indonesia… duh….

Saya setuju kalau kurikulum pendidikan Indonesia di rubah 80%-nya tentang pendidikan moral dan pengamalan/praktek langsung tentang moral, teorinya 10% saja. Biar negara ini jadi negara bermoral.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s