Independence Day Trip – Day 4


Hari keempat, the last day of the trip.

Pagi buta saya sudah terbangun dengan keributan kecil di luar kamar. Pukul 3 pagi biasanya orang-orang yang hendak berburu sunrise sudah bersiap-siap untuk menuju puncak sikunir. Sebenarnya niat hati ingin bangun dan berangkat, tetapi apalah daya badan saya masih capek sekali dan susah bergerak karena kedinginan. Walaupun penutup tubuh sudah berlapis-lapis namun tetap saja udara dinginnya masih sangat terasa.

Akhirnya saya bangun ketika adzan subuh sudah berkumandang. Kami semua segera sholat subuh. Tak disangka ternyata pak driver sudah bangun sedari tadi menunggu untuk mengantarkan kami ke puncak sikunir. Akhirnya kami semua berangkat sesudah sholat subuh, dan pastinya langit sudah terang benderang, xixixi. Walaupun begitu, ketika mendekati puncak sikunir, jalan masih gelap dan berkabut.

Jalan menuju puncak sikunir ini menanjak terus. Sampai-sampai ada papan selamat datang yang mengatakan bahwa desa yang kami lewati adalah desa tertinggi di pulau Jawa. Alhamdulillah wa syukurillah pak driver orangnya sangat handal mengemudikan mobil di jalan berkelok-kelok dan menanjak.

image
Desa tertinggi di pulau jawa

Sesampai di kaki bukit sikunir, kami mendapati parkiran yang sangat luas dan camp ground dekat telaga cebong. Telaga cebong ini terletak tepat di kaki bukit sikunir.

image

image
Bukit sikunir dan telaga cebong

Untuk menikmati sunrise, pengunjung harus mendaki bukit melalui jalan setapak yang dibuat ala kadarnya. Disini juga bisa menyewa guide. Tapi tanpa menyewa guide pun bisa, hanya saja kita harus berhati-hati sebab jalan setapak sangat sempit, ada yang berdebu, ada juga yang licin, sebelah kiri jurang. Terkadang jalan setapak hanya bisa dilewati oleh 1 orang sehingga harus bergantian melewatinya.

image
Jalan setapak di kaki bukit sikunir

Saya yakin sunrise disini sangat bagus, karena meskipun sudah lewat sunrise matahari yang nampak masih kelihatan bagus. Dan disepanjang jalan, kami sering disapa oleh orang-orang yang berpapasan dengan kami turun bukit. Kami memang anti mainsream, orang-orang sudah turun bukit, tapi kami baru naik, wkwkwk.

image

Sepulang dari puncak sikunir, kami segera bersiap-siap untuk kembali ke jogja. Kereta kami jadwalnya berangkat pukul 16.55 menuju Surabaya. Dalam perjalanan dari Dieng ke Jogja, teman-teman saya mampir ke depot mie ongklok yang katanya enak sekali. Saya tidak ikut makan karena kebetulan saya sedang puasa syawal (mumpung belum habis bulan syawalnya).

Sesampainya di stasiun kereta jogja, kami sholat dhuhur dan azar. Musholla dan ruang tunggu di sini nyaman sekali. Toilet juga sudah bagus dan cukup bersih. Banyak juga yang berjualan makanan di sekitar ruang tunggu.

Sambil menunggu, melihat-lihat orang-orang yang sedang menunggu atau baru turun dari kereta. Ternyata sekarang banyak bule yang datang ke jogja, bahkan ada serombongan bule eropa. Hmmm… lama-kelamaan bisa jadi seperti bali nih di jogja. Semoga masyarakatnya akan tetap ramah kepada wisatawan lokal walaupun sudah banyak wisatawan mancanegara yaaa.

End of the trip, sampai di Surabaya pukul 10 malam. Alhamdulillah masih diberi kesempatan melihat 1 lagi keindahan ciptaan Allah di Indonesia.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s