Mungkin karena Itu Kita Diuji


Why me? Why us? Kadang mengucapkan pertanyaan itu bukan dalam konteks mengeluh, kadang hanya penasaran saja. Penasaran kira-kira apa yang sudah kita lakukan sehingga mendapatkan sebuah kebaikan ataupun sebuah ujian.
Seorang ustadz pernah berkata bahwa seorang muslim tidak boleh mengeluh ketika mendapatkan musibah dengan berkata “kenapa saya menerima ujian/musibah ini ?” dikarenakan bisa menghapus amalan kebaikannya (saya lupa pembahasan ayatnya kok juntrungannya ke situ).

Memang, Allah knows best. Apa yang telah ditakdirkan untuk hambaNya memang itu yang terbaik untuk dia. Seorang senior saya pernah menasehatkan tentang kenapa seseorang menerima ujian. Ada 2 kemungkinan :
1. Dulu orang tersebut pernah berbuat kesalahan dan lolos. Sehingga saat ini waktunya menerima pembalasan di dunia.
2. Dulu orang tersebut memang tidak berbuat kesalahan, tetapi ujian tersebut diberikan karena Allah ingin memberikan ‘hadiah’ untuk yang bersangkutan, di kemudian hari.

Untuk kasus yang pertama, walaupun seseorang merasakan sakit, sedih, tetapi itu semua untuk membersihkan dosanya. Jadi tidak banyak tanggungan di akhirat kelak. Untuk yang kedua ini mungkin jadinya seperti kisah nabi Yusuf alaihissalam. Beliau tidak melakukan kesalahan tetapi dipenjara selama 7 tahun. Dikemudian hari beliau malah menjadi pejabat di istana.

Dan begitupun yang sedang terjadi terhadap saudara-saudara muslim di gaza, mesir, suriah, rohingya, china, dll. Hikmahnya terlalu banyak untuk dituliskan.

Ujung-ujungnya ilmu ikhlas dan berbaik sangka kepada Allah. Mulai sekarang, berusaha untuk selalu ikhlas atas semua yang menimpa diri ini. Mencoba ikhlas dengan musibah yang sedang menimpa kakak saya yang tertua. Semoga ujian yang sedang diberikan kepadanya bisa menghapuskan dosa-dosanya di masa lalu. Dan jika fase hidupnya ini adalah fase hidupnya yang terakhir, maka semoga Allah meridhoi di umurnya yang tersisa. Aamiin ya robbal ‘aalamiin.

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada seorang muslim pun yang tertusuk duri atau tertimpa bencana yang lebih besar dari itu kecuali akan tercatat baginya dengan bencana itu satu peningkatan derajat serta akan dihapuskan dari dirinya satu dosa kesalahan. (Shahih Muslim No.4664)

Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.:
Bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada satu kepedihan pun atau keletihan atau penyakit atau kesedihan sampai perasaan keluh-kesah yang menimpa seorang muslim kecuali akan dihapuskan dengan penderitaannya itu sebagian dari dosa kesalahannya. (Shahih Muslim No.4670)

@RS. Dr. Soetomo, kunjungan kesekian kalinya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s