Manner Minimal


Pada jaman modern ini, umumnya anak-anak diajarkan untuk terbiasa berterimakasih, meminta tolong, dan meminta maaf. Kebiasaan tersebut lama kelamaan menjadi sebuah tata nilai yang berlaku di masyarakat kita. Contoh-contohnya dimana ketika kita diberi sesuatu lazimnya kita berterimakasih, ketika kita meminta tolong lazimnya mengucapkan kata meminta tolong/bantuan, ketika kita melakukan kesalahan lazimnya kita meminta maaf, dsb. Saya menyebutnya sebagai “manner minimal”, artinya suatu standar tingkah laku minimal yang harus dimiliki seseorang.
Tapi ternyata ada juga yang tidak ingin memaksakan anak untuk mengikuti aturan-aturan tertentu seperti lazimnya yang berlaku di masyarakat dan membiarkan mereka berkembang secara alamiah. Itu semua pilihan masing-masing orang tua. Saya termasuk salah satu anak yang sejak kecil tidak pernah diajarkan tetek bengek manner semacam itu, karena orangtua memang tidak mengerti teori ilmu parenting. Ibu saya hanya melarang saya mengumpat dan berbohong. That’s it.

Di tengah pergaulan orang-orang dewasa normal, umumnya menerapkan nilai-nilai manner tersebut dalam pergaulan mereka sehari-hari. Minimal seseorang itu harus bisa mengucapkan minta tolong, terimakasih dan minta maaf. Efek minimalnya paling tidak menjadikan seseorang lebih menghargai sesamanya. Jujur saja, tidak terbiasa mengucapkan terimakasih, minta tolong dan minta maaf memang memelihara ego seseorang di puncaknya. Sebab dalam kata-kata manner tersebut terdapat pengakuan secara tidak langsung. Misalnya saja mengakui pemberian orang lain dengan berterimakasih, memgakui kelemahan kita dengan meminta bantuan orang lain, mengakui kesalahan kita dengan meminta maaf. Kesemuanya itu memang tidak mudah dilakukan. Apalagi bagi yang tidak terbiasa. Saya sendiri baru sadar tentang mengucapkan terimakasih ketika kelas 4 SD. Sewaktu saya pergi ke dokter gigi dan melihat ada anak seumuran saya meninggalkan ruang dokter dengan mengucapkan terimakasih pada bu dokter, itulah pertama kali saya menyadari bahwa berterimakasih itu baik. Berterimakasih tidak mudah dilakukan jika pemberian/bantuan orang lain kita nilai sangat kecil atau bahkan tidak bernilai sama sekali walaupun bagi si pemberi memiliki nilai yang berarti. Meminta maaf juga sulit dilakukan jika kita tidak merasa melakukan kesalahan, padahal bisa jadi kita melakukan kesalahan tanpa kita sadari.

Berterimakasih itu wujud syukur. Meminta maaf dan meminta tolong itu wujud rendah hati.

Seandainya kita dijamin bersih dari dosa dan dijamin masuk surga, bagaimanakah tingkah laku kita?

Sahabat Abu Hurairah pernah bertanya kepada Rasul setelah ia melihat kaki beliau memar, bengkak, lecet-lecet parah. “Mengapa Anda shalat malam sampai kaki Anda lecet, bengkak, dan memar?
Padahal, Anda adalah Rasulullah.
Anda tak pernah berbuat dosa dan Anda pun pasti masuk surga.” Beliau menjawab, “Apakah tidak pantas kalau saya mensyukuri segala anugerah Allah?”

“Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)

Sumber : berbagai sumber


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s