Menjadi Agen Islam yang Baik


Dulu nggak ngerti bagaimana sejarahnya seseorang bisa punya jerawat menempati hampir setiap pori-pori muka. Kata orang, kalau puber biasanya suka banyak muncul jerawat di wajah. Itu cuma katanya sih. Well, walaupun sudah lewat umur puber, mungkin sekarang ini saya memang lagi puber, xixixi. Soalnya sekarang saya sedang panen jerawat. Astaghfirullah… jerawat nggak habis-habis, malah bertambah terus.

Pencarian saya mencari obat jerawat menuntun saya ke seorang dokter kulit rekomendasi dari teman yang berprofesi sebagai dokter juga. Sesampainya di tempat praktik dokter, kulit saya dilihat/diperiksa menggunakan kaca pembesar/lup (yang ukurannya juga besar) yang biasa dipakai detektif-detektif di film jaman dulu. Tampaknya dokter ini bakat juga mengikuti jejak sherlock holmes, hahaha hohoho. Setelah itu saya bertanya ke beliau “kok bisa ya sekarang saya punya banyak jerawat, padahal dulu jarang sekali jerawatan. Saya juga rajin bersihkan muka dok”. Dengan coolnya si dokter menjawab “ooo ini tidak ada hubungannya dengan rajin atau tidaknya membersihkan muka mbak. Bisa karena stress, pikiran, dan semacamnya”. Kalau bisa saya simpulkan sih inti masalahnya ada pada aspek psikologis saya ~o~

Memang akhir-akhir ini saya dihadapkan pada situasi sulit yang sering menjebak saya untuk lupa bersyukur. Di satu sisi, saya ingin mewujudkan cita-cita pribadi. Tetapi di sisi yang lain, keluarga membutuhkan saya untuk tetap mensupport mereka. Bahkan sekarang saya bingung untuk membiayai acara resepsi pernikahan saya (tenang saja kalau yang ini masih bisa dipending, soalnya calonnya belum ada, wkwkwk). Bahkan saya merasa sedih dan mules melihat perusahaan tempat saya bekerja saat ini, yang dulunya besar, mantan pembayar pajak terbesar di negeri ini, perlahan-lahan dijadikan ladang praktik KKN oleh oknum petinggi-petinggi perusahaan. Tuduhan saya ini bukannya tidak berdasar, sebab terlalu banyak contoh intransparansi. Sedih melihat rumah kedua, perlahan-lahan seperti menjerumuskan dirinya sendiri menuju kehancuran.

Shock seminggu yang lalu akibat sistem penilaian yang kacau juga membuat sifat masa kecil saya keluar, yaitu mogok bicara dan menjadi galak kepada semua orang. Gagallah sudah program saya menjadi wanita yang sholihah. Ya ini ujian yang datang akibat konsekuensi dari doa yang selalu saya panjatkan “Ya Allah jadikan saya dan kakak-kakak saya wanita yang sholihah”. Tampaknya Allah tidak tinggal “diam”. Datanglah ujiannya bertubi-tubi, diawali dari coding program dan database saya yang hilang dan lupa belum saya backup.

Whatever itu, Alhamdulillah saya segera mendapat pencerahan akibat membaca buku “99 cahaya langit eropa”. Motto hidup fatma (teman sang penulis buku) dalam cerita tersebut mengingatkan bahwa setiap muslim harus menjadi agen islam yang baik. Menjadi agen islam yang baik dengan menebarkan kebaikan, persahabatan, manfaat, dan perdamaian di manapun berada. Semboyan yang mengingatkan saya akan semboyan yang saya kenal semenjak SMA “nahnu du’at qobla kulli syai'”, bahwa kita adalah dai (penyeru kebaikan) sebelum menjadi (profesi) apapun.

Berkali-kali dan tidak bosan saya ulang-ulang kalimat ini untuk diri saya bahwa “Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Tidak ada kata terlambat untuk berubah menjadi lebih baik”. Selalu ada jalan keluar untuk setiap permasalahan, karena dalam 1 kesulitan, Allah selalu memberikan 2 kemudahan (lagi-lagi seperti kisah hidup fatma yang setelah kehilangan anaknya, malah bisa mewujudkan keinginannya). Semoga Allah selalu menuntun kita semua dalam cahaya HidayahNya, menjadi manusia yang bermanfaat sampai akhir hayat, aamiin.

*maafkan, ini tulisan agak absurd menjelang tidur. Ingin tidur tapi tidak bisa karena rupanya kekenyangan. Astagfirullah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s