Ujian untuk Syukur


Beberapa hari yang lalu menjelang idul adha, tiba-tiba saja saya terinspirasi bahwa : “Untuk semua kehilangan, akan diganti dengan yang lebih baik. Untuk setiap rasa syukur akan ditambah dengan yang lebih baik.”

Pada titik itu saya merasa sungguh nikmat Allah kepada saya memang luar biasa, dari nikmat iman, kesehatan, keuangan, keluarga walaupun jika membanding-bandingkan masih ada yang lebih luar biasa. Sehingga ketika saya bersedih tentang jodoh yang tak kunjung ketemu, maka perasaan itu kini hanya hinggap sesaat. Ketika saya bersedih karena uang saya ditahan oleh orang lain, maka saya yakin Allah tidak akan menahan rezeki dan nikmat-nikmatnya yang lain. Karena tidak ada kehilangan yang tidak diganti Allah, dan tidak ada rasa syukur yang tidak ditambah Allah dengan nikmat yang lebih besar.

Aisyah Radhiallaahu anha berkata, “Tidaklah seorang hamba yang meminum air bening, lalu masuk perut dengan lancar tanpa ada gangguan dan keluar lagi dengan lancar, kecuali wajib baginya bersyukur.” (sumber)

Saya adalah tipe orang yang mudah percaya. Sebagai contoh tentang perumahan. Setahun yang lalu saya memutuskan untuk membeli kredit sebuah rumah di perumahan baru. Tanah perumahan kondisi sedang diurus sertifikat tapi sudah diurug, bahkan sudah proses pembangunan rumah contoh, developer juga sudah terdaftar di REI. Ternyata setelah DP lunas saya bayarkan, developer merubah lokasi perumahan dengan alasan yang menyalahkan pihak pemilik tanah. Kantor developerpun tutup, malah membangun perumahan di kota lain yang letaknya jauh dari kota saya. Awalnya pihak developer melalui bendaharanya mengatakan kepada saya bahwa jika batal, uang DP saya akan dikembalikan 100%. Sayapun memutuskan untuk batal. Tetapi udah genap 1 tahun sejak saya membayarkan DP pertama, dan sudah 8 bulan sejak DP saya lunas, uang DP saya belum dikembalikan dengan alasan proses menjaminkan rumah untuk membayarkan DP tersebut.

Sesak sekali rasanya memikirkan hal tersebut. Kita yang susah payah mendapatkan uang, tetapi orang lain dengan mudahnya menerima uang kita tanpa amanah.

Tetapi sudah terlanjur, dan peristiwa tersebut hanyalah sebagian dari pelajaran Allah kepada saya. Beruntung saya masih diberi kesehatan jasadiah dan ruhiyah untuk tetap move on menjalani hidup saya. Saya tetap berusaha menagih sambil berdoa. Tetapi saya yakin 100% bahwa Allah pasti akan memberikan balasan kepada developer yang tidak amanah tersebut. Paling tidak, keuntungan yang saya dapatkan jika uang tidak kembali adalah saya bisa mendapatkan tambahan pahala di akhirat kelak (dari piutang tersebut, pahala orang yang masih berhutang akan diberikan kepada orang memberikan piutang jika yang bersangkutan masih menuntut untuk dikembalikan).

Sayapun terkadang suka membanding-bandingkan hidup saya dengan orang lain. Saya berpikir paling tidak teman-teman saya tidak mengalami seluruh ujian yang saya rasakan. Katakanlah mereka yang mengalami ditipu orang, tidak mengalami lambat jodoh. Mereka yang lambat jodoh, usahanya lancar, dll. Tapi saya kok mengalami semuanya, YANG NGGAK ENAK. Teman-teman saya, keluarganya jarang yang lambat jodoh, sedangkan saya, kakak saya, sepupu saya yang sudah berumur 40 tahun lebih belum juga menikah.

Lama-lama bisa budreg (bahasa jawa yang artinya stress atau tertekan) juga saya kalau berpikiran seperti itu terus. Alhamdulillah saya bisa tercerahkan ketika menghadiri pengajian keputrian hari jumat di kantor. Sang penceramah adalah sosok yang luar biasa tawakkal kepada Allah SWT. Dan beliau pun pernah mengalami kesulitan ekonomi yang luar biasa, hingga akhirnya bisa lolos dan lulus dari ujian tersebut. Beliau bercerita setiap hari seperti orang gila mencoba mensyukuri setiap hal kecil yang masih beliau miliki, piring, kasur, seprei, setiap hari beliau panjatkan syukur untuk setiap benda tersebut, serta berdoa agar hutang-hutangnya segera lunas. Beliau membuat setiap kuitansi untuk hutang-hutang dan menuliskan kata-kata LUNAS.

Beliau mengatakan memang tidak enak menjadi pada posisi ujian seperti itu, tetapi hal tersebut mengandung hikmah bagi beliau sendiri maupun bagi orang lain.

Flashback, menyetel kembali memory hal-hal yang telah saya lalui, ternyata sudah banyak sekali pelajaran yang seharusnya bisa saya petik selama 29 tahun ini. Mulai saat ini, saya akan berusaha lebih bersyukur dengan hati, lisan, dan anggota badan. Karena setiap panduan dari yang Allah perintahkan buat manusia, tidak ada ruginya sama sekali untuk dijalankan, malah akan mendatangkan untung bagi yang menjalankannya.

Imam Ibnu Rajab berkata, “Syukur itu dengan hati, lisan dan anggota badan”.

  • Syukur dengan hati adalah mengakui nikmat tersebut dari Sang Pemberi nikmat, berasal dari-Nya dan atas keutamaan-Nya.
  • Syukur dengan lisan yaitu selalu memuji Yang Memberi nikmat, menyebut nikmat itu, mengulang-ulangnya serta menampakkan nikmat tersebut, Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman, artinya,“Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutNya (dengan bersyukur)”.(QS. 93:11)
  • Syukur dengan anggota badan yaitu tidak menggunakan nikmat tersebut, kecuali dalam rangka ketaatan kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala, berhati hati dari menggunakan nikmat untuk kemak-siatan kepada-Nya. (sumber)

Alhamdulillah, saya masih diberi hidayah oleh Allah untuk bersyukur kepada-Nya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s