Rumput tetangga selalu tampak lebih beruntung


Benar sungguh kebenaran kata-kata “rumput tetangga selalu tampak lebih hijau”. Baru saja saya makan siang dengan seorang teman kantor karena kebetulan kami sedang tidak berpuasa. Suatu momen yang sangat langka, karena ini pertama kali saya makan berdua dengan dia. Di hari-hari biasanya dia selalu bontot makan siang dari rumah dan makan bersama ibu-ibu di kantor (saya biasa makan siang dengan teman-teman single di luar kantor). Hari ini seusai kajian ba’da dhuhur, kami bergegas jalan kaki menuju tempat makan.

Pertama masuk tempat makan dan hanya ada kami berdua di dalam, saya merasa agak canggung karena tidak tahu pembicaraan apa yang menarik bagi dia. Apalagi tidak ada bahan (manusia lain) yang bisa dikritisi, karena yang makan di tempat itu cuma kami berdua, xixixi. Akhirnya sedikit cerita kesana kemari, basa basi, sampailah ke cerita yang agak “dalam” tentang seorang teman -yang kami cukup prihatin tentang kehidupannya- dan kami mencoba membicarakan solusi terhadap permasalahannya. Pembicaraan ini lama-kelamaan bukan tentang teman kami lagi melainkan cerita tentang pandangannya terhadap diri saya. Saya sangat terkejut mendengar penuturannya, karena saya tidak menyangka bahwa dia berpikiran saya adalah orang yang sungguh beruntung dengan berbagai alasan yang dia kemukakan. Alasan yang dia kemukakan mirip sekali dengan pengakuan kakak saya yang intinya, dia ingin sekali melakukan apa yang sudah berhasil saya lakukan. Padahal di sisi yang lain, saya ingin sekali berada pada posisi seperti dia.

Saya dan teman saya ini lahir pada tahun yang sama, dia sudah berkeluarga dan mempunyai 2 orang anak, latar belakang keluarga bahagia (normal seperti keluarga bahagia lainnya) , suami normal, anak-anak lucu, dan banyak lagi. Dan pada umur yang sama saya tidak memiliki itu semua. Di lain pihak, dia menyebut saya orang yang sangat beruntung. Hmmmm, memang sering sekali kita ingin mendapatkan kehidupan yang sempurna. Apa yang belum kita miliki, ingin segera kita miliki, ya seperti orang lain lah.

Karena hal-hal yang tidak dimiliki itulah, ternyata dia juga pernah minder dengan statusnya sebagai karyawan kontrak, sehingga minder jika harus bergaul dengan orang-orang yang berstatus karyawan tetap. Saya pun begitu, seringkali minder jika dalam sebuah perkumpulan teman-teman kantor, yang masih single adalah saya seorang. Apalagi jika dalam pembicaraan dibahas masalah keluarga dan rumah tangga, ngenezzz…

Sepulang makan, dia banyak “menceramahi” saya tentang bagaimana kita seharusnya bersikap, tidak baik jika minder, bersyukur, dan lain sebagainya. Jika orang minder, rawan menjadi orang yang tidak bersyukur karena memandang bahwa kehidupannya belum cukup baik karena belum memiliki apa yang belum dia miliki. Hari ini banyak sekali hal yang belum pernah saya dengar dari orang lain, tapi saya dengar dari dia. Memiliki teman banyak itu sungguh membahagiakan, banyak keselnya juga sudah pasti, tapi itulah seni kehidupan. Katanya orang, hidup itu selamanya sejatinya adalah pembelajaran.

“Tuntutlah ilmu dari ayunan ibu hingga ke liang lahat.” – kata-kata mutiara.


2 thoughts on “Rumput tetangga selalu tampak lebih beruntung

  1. sd sampai kuliah negeri, lulus cum laude(?), langsung lulus kerja di perusahaan telekomunikasi nasional, sudah pernah ke tempat yang banyak orang hanya tau dari internet. cantik. selalu ceria. nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan🙂.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s