My New Values


Lama sekali tidak update blog dikerenakan banyaknya kesibukan pribadi maupun sedikit kesibukan kantor. Banyak sekali nilai-nilai baru, pengalaman yang membuat saya terus bertumbuh dan (seharusnya) menjadikan saya lebih dewasa baik secara sosial terutama secara spiritual.

“Tuhan tidak pernah salah”. Pernah mendengar pernyataan senada? Saya selalu menyadari setelah beberapa peristiwa terjadi, dan tampaknya saya adalah orang yang susah diajari sehingga banyak hal dan peristiwa yang harus saya lalui agar saya bisa ngeh. Setelah ngeh untuk sebuah pelajaran, setelah itu saya bisa “move on” ke pelajaran berikutnya.

Pelajaran pertama adalah tentang komunikasi, dalam hal ini dengan lingkungan sosial terutama teman baik. Merasa agak menyesal beberapa saat yang lalu marah pada teman baik saya karena keterlambatannya, sebab saya sendiri pun banyak salah pada dia walau bentuknya bukan keterlambatan, atau paling nggak keterlambatan saya kurang dari 5% prosentasenya. Teman saya mengatakan bahwa saya harus lebih speak up sehingga tidak dengan tiba-tiba suatu saat meledak dan bahwa komunikasi adalah kunci berhasilnya sebuah hubungan pertemanan maupun perkawinan. Saya menyadari bahwa selama ini saya seperti tempat sampah yang menampung kesalahan orang lain terhadap saya, dan ketika sudah memenuhi tresholdnya maka tempat sampah itu akan meledak. Tentu saja speak up ini bukan hal mudah karena saya harus berbicara sebagai orang yang lebih bijak sehingga tidak mengganggu hubungan baik dengan lingkungan sosial saya. Untung teman saya sayang pada saya dan memberitahu apa yang jelek dan harus dirubah dalam diri saya.

Meredam emosi. Sering saya ngomel atau marah ketika bertemu orang yang berkendara seenaknya di jalan raya. Padahal orang yang saya omeli tidak akan mengerti kesalahannya apalagi memperbaikinya, yang ada keriput di wajah saya bertambah karena bersungut-sungut. Begitupun dengan komentar terhadap status saya di dunia maya, chill out, slow down baby take it easy. Pernah saya bertanya pada seorang teman kantor yang orangnya sangat keibuan, lembut dan penuh kasih sayang, bagaimana dia bisa begitu baik dan sabar. And guess what she said ? Dia bilang, “aku ini orang pemarah lho”… Deng… Are u kidding? Kalau orang seperti itu saja pemarah, saya ini disebut apa ya? Belajar woles (huuuu i hate that word… lho kan dah mulai mau marah)

Tidak usah pusing memikirkan pikiran negatif orang lain terhadap kita.
Beberapa saat yang lalu ada tes haji di kantor. Semacam ikut tes beasiswa pendidikan, ada tes tulis dan wawancara. Bagi karyawan yang lolos akan mendapatkan gratis biaya haji. Tampaknya Allah memang memberi rejeki pertama kepada saya ketika saya lolos tes tulis online. Di hari yang sama setelah tes, teman-teman mencari jawabannya dan menshare kepada para peserta. Saya baca sekilas dan hitung-hitung nilai saya 100 lebih dikurangi maksimal 15 kontribusi jawaban yang salah (saya kira-kira nilainya karena waktu itu saya juga sudah agak lupa jawaban saya sendiri. Jawaban kalau benar semua 150 poin, kalau salah dikurangi 1). Saya baru tahu keesokan harinya bahwa jawaban saya kemarin tidak masuk ke data panitia sehingga saya harus tes ulang 2 menit setelah ditelpon panitia. OMG harus mikir lagi dong. Alhamdulillah soalnya sama dengan kemarin. Tapi saya mencoba jujur dengan mengingat jawaban saya sendiri kemarin dan meminimalisir jawaban salah dengan cara mengkosongi saja.
Ketika saya lulus tes online dan orang-orang tahu bahwa saya tes ulang dengan soal yang sama, bisa ditebak komentar yang ada seperti apa. ~.~
Tentu saja saya merasa tidak enak dengan kejadian ini karena kesannya seakan-akan bisa saja orang lain mendapat nilai lebih tinggi kalau saya tidak tes ulang. Padahal nilai saya sebelum tes ulang saja sudah lebih bagus dibanding teman-teman yang lain (fakta bukannya sombong). Ada sebuah teman kantor yang cukup bijak dan menenangkan hati saya dengan mengatakan “Allah memberi rezeki dengan cara yang kadang tidak terpikirkan oleh kita”. Ya sudah ini memang rezeki saya, no matter what people said, lagipula sesuatu yang terlihat kebetulan tidak akan terjadi tanpa kehendakNya.

Jangan berharap pada ketidakpastian. Inilah yang selalu memerangkap saya dalam sebuah kegalauan. Hal ini terutama masalah feel of love. Ketika logika saya mengatakan tidak sedangkan hati saya mengatakan untuk mempertimbangkan. Memang tidak perlu over analyze dengan hal semacam ini, hanya perlu melihat fakta dan menjalaninya dengan bijak serta tidak perlu over react. Remember : “sesuatu yang berlebihan itu tidak baik”. Untuk urusan feeling, justru feeling kita sendiri (saya aja kali ya, hehehe) malah yang sering membuat galau, ya karena itu tadi over analyze sometimes over react tidak menyikapi dengan biasa saja.
Satu hal yang saya pegang, kadang teman kantor hanya sekedar bercanda ketika membuat lelucon perjodohan. Dan lelaki manapun akan yang serius akan menunjukkan kalau mereka memang serius untuk sebuah komitmen dalam sebuah hubungan/relationship.

Prepare for the turning of the fortune wheel. Ketika membaca 1200-an karyawan technical provider sebelah di-vendor-kan, saya jadi ngeri ketika membayangkan hal tersebut terjadi pada saya (yang sooner or later akan terjadi). Pernah dengar “Tidak selamanya seseorang itu diatas atau dibawah”? (rasanya kalimat tersebut interpretasinya banyak ya? hehe). Tidak usah galau dengan ketidakpastian masa depan, prepare saja mulai sekarang untuk the worst.

Lumayan banyak peristiwa yang saya alami belakangan ini. Alhamdulillah menyadarkan saya akan banyak hal, bagaimana itu teman yang baik, bagaimana itu sikap yang tidak pantas sehingga tidak patut ditiru, dll. Mungkin ada yang mau memberi masukan ? I’ll be glad to read ^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s