Budaya Ngakali


Kalau ingat perjalanan saya dari Pasuruan sampai Surabaya, saya selalu tak habis pikir kok bisa saya bertengkar dengan kernet angdes. Kira-kira 6 bulan yang lalu saya bersama seorang teman pulang dari kebun raya purwodadi Pasuruan menuju Surabaya naik angdes yang jenisnya colt (atau bison ya?). Ketika akan naik, kami sudah bertanya apakah angdes ini sampai ke Surabaya, dan dijawab “ya”. Nyatanya angdes berhenti ditempat pangkalan mereka dan mengoper kami ke angdes lain yang sudah hampir penuh. Alhasil kami harus berdesak-desakn bahkan saya tidak mendapat tempat duduk. Saya sangat marah karena kami sudah membayar mahal dan berakhir dengan ditipu. Si kernet malah bilang saya naik ke angdesnya tanpa membayar, tentu saja karena ongkos sudah saya serahkan ke angdes pertama. Setelah penumpang dioper ke angdes kedua, uang berpindah dari kernet 1 ke kernet 2. Seharusnya solusinya waktu itu saya tidak usah naik saja, tapi memang kondisinya tidak memungkinkan karena hampir malam.

Bagi mereka hal tersebut sudah biasa, bagi saya itu menipu penumpang. Di Surabaya hal tersebut kadang terjadi, hanya saja seringnya bukan dioper ke angkot yang penuh. Setelah cekcok lama dengan kernet, saya berpikir bahwa memang inilah kondisi grassroot di Indonesia. Budaya santun, jujur dan ramah memang sudah hilang diganti dengan orang-orang licik. Terimalah kondisi negerimu, this is real.  Pantas saja banyak pemimpin yang juga suka menipu karena mereka dulu pasti juga dibesarkan di tengah-tengah masyarakat seperti ini. Masalah kernet ini hanya salah 1 contoh praktek kelicikan yang saya temui, kalau lihat acara investigasi sebuah tv swasta malah lebih ngenes lagi.

Menurut saya, semua perilaku licik dan semacamnya dikarenakan mereka tidak mengerti agama, tidak mengerti bahwa mendzalimi orang itu dosa (seandainya masyarakat rajin menimba ilmu agama, kehidupan semua orang akan lebih baik). Saya orang Surabaya, bagi saya penting untuk mengerti agama, menepati komitmen dan jujur. Lebih penting dari berkata-kata halus. Kosakata orang Surabaya dinilai kasar oleh orang-orang daerah lain di jawatimur (termasuk Pasuruan) maupun jawa tengah. Walaupun menurut orang Surabaya biasa, banyak juga orang yang kaget. Bahkan beberapa ada yang tersinggung ketika diajak ngobrol dengan bahasa Surabaya karena dinilai kasar. Kalau orang-orang yang merasa berkata-kata halus lebih baik dari yang dinilai berkata kasar seharusnya diaplikasikan dengan baiknya perbuatan. Kita juga mungkin berpikir, seharusnya tingginya pendidikan para pemimpin kita diaplikasikan dengan tingginya budi pekerti mereka. Tapi saya hanya bisa bilang, pemimpin adalah cerminan masyarakatnya.

So, licik / ngakali, everyone did that. Di indonesia, licik / ngakali orang lain itu sudah biasa dan membudaya karena itulah yang diajarkan masyarakat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s