Seruan Nafsu


Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. (QS. Yusuf : 53)

Materi kajian tarjim kemarin membahas surat Yusuf ayat 52-54. Ketika tiba pada ayat ke 53, ternyata ustadz Majid menjelaskan terperinci tentang jenis-jenis seruan nafsu. Penjelasan tentang nafsu baru kali ini saya dengar sehingga menarik untuk di share.

Basically, Allah menganugerahi manusia 3 buah nafsu, yaitu nafsul amaroh, nafsullawwammah, dan nafsul muthmainnah.

  1. Nafsul Amaroh artinya Nafsu yang sering mengajak / memerintahkan kepada kejelekan.
  2. Nafsullawwammah artinya Nafsu yang mencela maksudnya dengan adanya nafsu ini maka seseorang dapat memiliki perasaan menyesal ketika berbuat dosa.
  3. Nafsul Muthmainnah artinya Nafsu yang tenang.

Nafsu jelek ibarat seperti kuda. Pada alamiahnya, kuda merupakan hewan liar yang hidup di alam bebas. Tetapi kuda dapat dilatih sehingga menjadi jinak dan dapat dikendalikan. Begitupun dengan nafsu yang cenderung kepada kejelekan, dia harus dilatih dan dikendalikan.  “Jihad yang paling utama adalah jihad seseorang  melawan hawa nafsunya” Hadits ini dishahihkan oleh Nashiruddin al-Bani dalam Shahihul Jami’ (1099) — (sumber).

Allah memberi manusia nafsu ke arah kejelekan tetapi juga memberikan nafsu penyesalan. Jika nafsul amaroh datang, maka pencegahnya adalah nafsullawwammah. Jika penyesalan yang dituruti dan dilanjutkan dengan taubat, maka nafsu jelek akan menjadi nafsul muthmainnah. Tetapi jika yang terjadi sebaliknya, maka nafsul amaroh akan menjadi dominan sehingga seruan nafsullawwammah seakan tidak terdengar lagi sehingga melakukan dosa akan menjadi sebuah hal yang biasa (naudzubillah).

Dalam surat As-Syams, Allah bersumpah hingga 11 kali bahwa manusia diberi potensi fujur dan takwa.

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, . (QS. As-Syams : 1-9)

Jika manusia itu baik, maka dia akan lebih baik dari malaikat. Mengapa demikian? karena malaikat tidak punya nafsu sedangkan manusia punya. Sehingga jika seorang manusia bisa berhasil mengendalikan hawa nafsunya, maka dia akan bisa sabar dalam menghadapi cobaan (sabar ikhtiari).

Harapan saya buat diri saya sendiri agar bisa mengendalikan nafsu mengantuk ketika hadir kajian (ini nafsu atau bukan ya? hehehe).

Demikian sedikit share saya semoga bermanfaat ^.^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s