My Friend and His 2 Religion


Maaf sebelumnya, postingan saya kali ini sedikit sensitif bagi yang beragama lain. Jadi mohon kebijaksanaan pembaca sekalian.

Saya dulu sewaktu SD pernah sekelas dengan seorang teman yang awalnya beragama islam. Saya sempat kasihan dengan teman SD saya ini. Dia adalah anak ‘korban’ pernikahan 2 agama yang berbeda. Dia dulu termasuk dalam jajaran anak pintar di kelas dan tidak suka aneh-aneh (maklum teman-teman SD saya dulu mayoritas dari keluarga kurang pendidikan dan kurang kasih sayang dan perhatian orang tua sehingga suka berkelakuan aneh-aneh dan tidak pantas di sekolah). Kakaknya yang laki-laki pun demikian, terbilang lumayan dari sisi akademik. Bukannya mau ikut campur urusan orang lain, tapi sekarang saya ikut prihatin dengan kehidupan mereka. Fyi, rumah mereka cuma berjarak 50 langkah dari rumah saya (bukan 5 langkah seperti lagu dangdut ya hehehe).

Dulu ibunya beragama islam sampai ketika hampir meninggalpun masih beragama islam (semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau). Sayangnya ketika pemakaman, beliau dikuburkan secara non islam sesuai agama suaminya. Menurut cerita ibu saya, ibu teman saya ini mempertahankan satu-satunya identitas keislaman yang dia miliki yaitu Al-Qur’an, yang entah bagaimana lolos tidak dibuang oleh suaminya.

Dari 3 saudara teman saya, hanya dia yang ingin mengikuti ibunya yaitu beragama islam (dulunya). Tetapi menurut cerita dia kepada saya, setiap kali dia akan sholat, sajadah, sarung, dan Al-Qur’an disembunyikan oleh ayahnya. Well, waktu itu saya juga masih kecil sehingga tidak begitu care, wong saya dulu sholatnya juga masih bolong-bolong. Lama-kelamaan dia jadi jarang ikut pelajaran agama islam dan mengikuti pelajaran agama lain. Kata dia, dia disuruh seperti itu oleh ayahnya, kalau tidak menurut akan dimarahi. Sehingga pada satu titik resmilah dia tidak beragama islam lagi. Setelah itu kami tidak pernah lagi ngobrol bareng. Setelah SD saya dengar teman saya ini masuk sekolah khusus agama tertentu.

Saya tidak paham bagaimana cinta membutakan visi manusia tentang masa depannya, but that’s real, really happen. Saya menghimbau kepada sesama muslimah agar jangan sampai menikah dengan orang berbeda agama. Selain hubungan kita dianggap zina, anak-anak kita pun bisa tidak jelas agamanya (atau jelas beragama non islam). Apalagi kalau suaminya dikemudian hari berubah sikap melarang-larang anggota keluarga untuk beragama islam. Dan ngerinya lagi, kita sendiri malah nanti jadi dimurtadkan, naudzubillah. It’s true lho, ciyus, saya tidak mengarang cerita tapi semua based on true story. Tidak perlulah kita menukar kehidupan selamanya di akhirat dengan cinta yang kebersamaannya cuma beberapa tahun di dunia. So, be carefull with your love girls.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s