End Year Trip to Sumenep : Departure


Akhir tahun 2012 adalah saat yang menyenangkan karena penuh dengan libur panjang yey yippi … Ada 2 minggu yang memiliki libur hari selasa, sehingga hari seninnya dijadikan hari cuti bersama (HarPitNas=Hari Kecepit Nasional). Tentunya kesempatan ini dimanfaatkan oleh banyak orang untuk liburan atau sekedar menikmati waktu bersama keluarga di rumah. Begitupun saya yang memanfaatkan libur tahun baru untuk berkunjung ke rumah kakak di Sumenep. Berhubung jatah cuti saya masih banyak, saya manfaatkan saja 1 hari untuk mengambilnya buat liburan kali ini (daripada hangus semua), jadilah libur tahun baru saya mulai hari jumat sampai selasa.

Untuk menuju ke Sumenep bisa dilakukan dengan 2 cara yaitu melalui jalur darat atau laut. Kali ini saya ke Sumenep melalui jalur darat, menumpang travel melewati jalur selatan pulau Madura.

Melewati jembatan suramadu
Melewati jembatan suramadu

Jalur selatan ini cukup sepi tetapi lumayan sempit. Sepanjang  yang kami lewati dari ujung pulau (jembatan suramadu) sampai ke Sumenep, jalan hanya cukup untuk 2 mobil jika berpapasan. Sehingga jika hendak menyalip mobil di depan harus benar-benar sabar sampai jalan di depan sepi. Selain jalan yang sempit, penerangan jalan sangat kurang jika malam hari. Lumayan deg-deg ser dan terus berdoa sepanjang perjalanan, semoga kami semua selamat mengingat kecepatan travel yang dahsyat di tengah gelapnya jalan.

Alhamdulillah kami semua selamat tak kurang satu apapun walaupun rasanya pinggang dan kaki pegal karena tempat duduk yang seharusnya untuk 3 orang diduduki oleh 4 orang, ditambah lagi barang bawaan di belakang yang menggunung mendesak kursi (kuatir bakalan ambruk ke depan). Maklum tarif travel ini tergolong murah, hanya 60 ribu rupiah sekali jalan jadi tidak memungkinkan untuk protes T.T. Travel menuju Surabaya berangkat sehabis subuh sekitar pukul 04.30 dan kembali ke Sumenep sekitar pukul 11.00.

Perjuangan menyesakkan selama 5 jam dalam travel terbayar setelah sampai di sana. Ternyata daerah rumah kakak saya ini terletak di kota tetapi desa, hehe bingung jelasinnya. Walaupun berbatasan dengan perumahan modern dan dekat dengan pasar yang agak besar, tetapi suasananya masih pedesaan. Saya semula juga mengira bahwa pembangunan di Sumenep ini mengenaskan, tetapi jalan dan sarana sebenarnya sudah lumayan bahkan banyak perguruan tinggi. Saya sudah lupa situasi di sini karena terakhir kesini masih kelas 6 SD.

Malam hari kami (saya, ibu dan keponakan) sampai di desa Kebunan Sumenep. Guess what? Baru turun dari mobil, sudah terasa udara yang dingin seperti di Malang. Besok paginya ternyata lebih dingin lagi. Tetapi menjelang matahari sudah bersinar terang, mulailah terasa panasnya. Jadi disini memang cuacanya agak ekstrim. Kata kakak saya, udara seperti itu tidak terlalu dingin, biasanya musim tertentu 2x lipat dinginnya. Padahal dingin seperti ini kalau di Surabaya sudah tergolong dingin sekali.

Hari pertama berakhir dengan tidur dalam kedinginan…. Brrr….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s