Hidup Mulia atau Mati Syahid


Akhirnya saya berkesempatan nonton film pertama dari trilogi The Hobbit. Seperti film Lord of The Rings, sebagian besar isi film adalah ‘perang-perangan’ antara kejahatan vs kebaikan. Mungkin bagi sebagian orang, film ini hanya cerita belaka karena banyak makhluk aneh dan unsur magic. Tapi menurut saya, cerita ini memiliki makna yang dalam. Dan semua yang digambarkan dalam cerita tersebut, bisa dibilang sama seperti yang ada di dunia ini.

Kesan makna yang ada muncul dengan sendirinya setelah menonton film, seperti halnya setelah nonton film Lord of The Rings. Setelah nonton film Lord of The Rings berulang kali barulah logika saya terketuk, kok rasanya ada yang aneh ya dengan film ini. Cuma saya belum bisa menemukan feel anehnya bagaimana. Ternyata setelah saya browsing di internet, banyak sekali yang berteori tentang film ini. Barulah saat itu saya ‘ngeh’ dan menyetujui salah satu teori yang ada. Terkadang saya terpaksa harus menyetujui teori yang terkesan aneh, karena walaupun aneh tapi begitulah adanya yang terjadi.

Film The Hobbit yang pertama ini menceritakan 13 kurcaci + Gandalf dan Bilbo Baggins yang hendak merebut kembali kerajaan kurcaci (erebor) dari seekor naga. Salut saya rasakan dengan 15 orang yang berjuang dari usaha penghancuran lawan yang bertubi-tubi. Feel menonton film ini sama dengan film Lord of The Rings dan Muhammad Al-Fatih Sang penakluk konstatinopel. Benang merahnya adalah mewujudkan sesuatu yang mustahil menjadi kenyataan dengan perjuangan habis-habisan, keyakinan, dan apa saja hingga nafas terakhir yang ada dalam diri mereka. I could say, those films are amazing and inspiring.

Sepulang menonton film the Hobbit, saya jadi semakin terngiang-ngiang nyanyian para kurcaci yang juga dinyanyikan di film Lord of The Rings. Bisa saya katakan, lagu yang kalem, damai tetapi berisi impian dan semangat perjuangan merebut kembali tanah kelahiran. Saya meyakini perjuangan dalam film tersebut adalah juga yang dialami para pejuang Indonesia jaman dulu, dan dalam film Al-Fatih pun digambarkan hal yang sama.

Sekali lagi, cerita dari JRR Tolkien mengetuk hati dan kesadaran saya kuat-kuat. Hati dan logika saya berkata, itu lho yang namanya hidup. Hidup mulia atau mati dengan terhormat, dalam islam disebut mati syahid. Seandainya dibandingkan dengan keadaan saya sekarang, maka saya masih jauh sekali dari slogan itu, “Hidup mulia atau mati syahid”.

Pelajaran lain yang saya petik dari ketiga film favorit saya diatas adalah keyakinan bahwa kita tidak sendiri. Akan selalu ada pertolongan dari arah yang tidak kita sangka-sangka selama kita selalu menebar kebaikan. Kita adalah penentu arah perjuangan. Kita juga bisa memutuskan apakah kita akan ikut memperjuangkan sebuah kejayaan ataukah tetap bersama kasur empuk dan kehidupan nyaman kita di rumah. Selalu ada pilihan bagi para kurcaci dan Bilbo untuk mundur dari petualangan, karena mereka sudah memiliki kehidupan yang nyaman dan damai di kampung masing-masing. Tetapi mereka memilih untuk berjuang. Bagi saya akan merupakan sebuah penyesalan ketika saya meninggal tanpa pernah berjuang hingga titik darah penghabisan, memperjuangkan kalimat Allah. Semoga bisa diberi kesempatan dan kekuatan.

Masih berharap Allah menunjukkan jalan agar bisa hidup bermanfaat, tidak sia-sia dan mati tanpa penyesalan. Rabbana dzalamna anfusana wa illamtaghfirlana watarhamna lanakuunanna minal khaasiriin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s