Oleh-Oleh dari Gaza Part 2 (Peran Ibu)


Hari sabtu 15 Desember 2012 kemarin adalah saat yang istimewa karena saya mengikuti kajian yang diisi langsung oleh 2 ustadz dari Gaza, Palestina. Kalau tidak salah tulis nama beliau adalah ustadz Muhammad Zubairi dan ustadz Fathi. Ustadz Zubairi mengiji kajian tentang peran muslimah, sedangkan ustadz Fathi bercerita tentang Al-Quds. Berikut ini saya rangkumkan hal-hal yang telah disampaikan beliau berdua.

Pada bagian pertama ini berisi catatan saya tentang tausiah ustadz Zubairi tentang peran ibu.

Pertama-tama ustadz Zubairi salut dengan semangat menimba ilmu yang dimiliki ibu-ibu Surabaya, terutama yang hadir pada saat itu. Beliau juga salut karena para ibu di Indonesia mengajarkan moral yang baik bahkan mengajari memakai hijab sejak kecil.

Peran ibu sangat penting. Peran tersebut dimulai sejak mengandung hingga anak tersebut beranjak dewasa. Ketika mengandung diberikan makanan halal hingga lahir. Setelah anak lahir, ibu juga yang pertama kali mengajarkan hal-hal kepada anaknya, seperti mengajarkan basmallah sebelum makan dan hal-hal lain hingga anaknya menjadi generasi robbani.

Anak lahir dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yg menjadikannya nasrani, yahudi, dan majusi. Dan peran ibu adalah sebuah madarasah bagi anak-anaknya. Jika ibu baik maka mereka akan menciptakan generasi yang baik, berkepribadian, dan berintergritas.

Peran utama seorang suami adalah bekerja dalam segala bidang yang dia mampu. Tetapi yang dilakukan para suami hanyalah pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan hal-hal duniawi, misalnya dengan logam atau binatang ternak. Tetapi peran ibu sungguh berbeda, yaitu untuk mencetak generasi-generasi rabbani.

Para ibu harus menyadari bahwa dalam proses mentarbiyah anaknya adalah sebuah ladang jihad, karena mereka akan mencetak generasi masa depan yang menjadi kebanggaan kita bersama. Peran penting ini hanya diberikan pada para ibu dan bukan yang lain. Jika para ibu benar-benar menjalankan fungsi utamanya, maka kita akan melihat sebuah bangsa yang berintegritas. Akan tetapi jika sebaliknya, melalaikan pendidikan terhadap anak-anaknya, tidak hanya dosa terhadap kelalaiannya, tapi juga menanggung dosa kesalahan anak-anak dan generasi yang ditinggalkannya. Oleh karenanya jika kita melihat anak-anak dalam sebuah keluarga itu sholih sholihah, maka kita bisa melihat baiknya ibunya dan begitupun sebaliknya. Seperti analogi seorang yang menanam pohon, jika menanam jenis pohon yang buahnya asam maka tidak akan dapat menghasilkan buah yang rasanya manis.

Peran ibu diatas adalah hal yang wajib dipahami agar ibu-ibu di Indonesia bisa menjadikan anak-anaknya menjadi kebanggaan di hadapan Allah. Seorang ibu akan juga mempengaruhi profesi anaknya, apakah ibu akan mengajarkan anaknya untuk meraih dunia saja atau dunia dan akhirat.

Kebiasaan Ibu-ibu palestina (dan juga kebiasaan di kalangan arab pada umumnya) adalah selalu berdialog dengan anak-anak mereka. Mereka menanamkan harga diri, keberanian dan tidak takut pada hal-hal kecil. Jika tidak demikian maka tidak akan ada anak-anak intifadah (Tahu kan apa itu intifadah? Berjuang dengan melempar batu). Seperti sebuah gambar yang sering kita lihat ada seorang anak melempar batu di depan sebuah tank. Anak tersebut bernama Faiz. Seperti Faiz, anak-anak Gaza tidak takut mati, tetapi mencintai kematian. Ibu-ibu Gaza tidak hanya menyiapkan anak-anaknya untuk syahid, mereka bahkan mengikuti/mengantarkan anaknya hingga anaknya benar-benar syahid, memakaikan peralatan bom di tubuh anaknya dan mengantarkan serta memastikan bahwa bom tersebut meledak dan anaknya syahid. Ibu-ibu berkata pada anaknya, mungkin kita tidak bisa bertemu lagi syurga tetapi kita akan bertemu di syurga. Suatu hari ummu muhammad farhad, mengumumkan agar ibu-ibu berkumpul di rumahnya. Hal tersebut beliau lakukan untuk merayakan pernikahan anaknya dengan 70 bidadari (syahid). Orang disana berbahagia jika keluarganya meninggal karena syahid karena akan bertemu dengan para bidadari surga.

Sebuah tausiah yang luar biasa. Bisa dibayangkan ibu-ibu di sekitar saya pada bergumam, bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang mengerikan menurut mereka (harap maklum).

“Yang pertama kali melakukan aksi syahid di Indonesia adalah seorang wanita, di tengah-tengah pasukan belanda, yang tampil lebih gagah daripada para laki-laki. Kami menginginkan ibu-ibu di Indonesia kembali pada fungsinya yaitu menciptakan anak-anak yang bisa berjihad membebaskan negara ini dari segala masalah, mencintai baitul maqdis yang merupakan tanggung jawab kita semua.” Begitu kalimat beliau mengakhiri tausiahnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s