Oleh-oleh dari Gaza


Kemarin kamis Alhamdulillah ustadz Muhammad sholeh drehem sudah bisa mengisi kajian ba’da dhuhur di kantor. Beliau sempat absen 2x karena ada kepentingan berangkat ke Gaza untuk menyampaikan amanah bantuan ke sana. Dalam kajian minggu ini saya bersemangat sekali karena berharap mendengar banyak cerita dari beliau. I was very excited.

Cerita beliau diawali dengan betapa dekatnya masyarakat Gaza dengan Al-Qur’an. Sewaktu di sana beliau sempat bertemu dengan ibu-ibu yang memiliki anak-anak hafidz Quran baik yang berasal dari Indonesia atau Palestina, padahal anak-anak mereka lebih banyak dari rata-rata anak orang indonesia (lebih dari 5). Bukan hanya ibu-ibu atau anak-anak, bahkan petugas penjaga perbatasanpun tak pernah lepas dari membawa mushaf Al-Quran dan saling mengecek hafalan Quran diantara mereka. Yang menarik adalah ketika musim panas, di Gaza diadakan summer camp hafidz Al-Qur’an. Summer camp ini ditujukan untuk semua lapisan masyarakat, profesi dan umur. Bagi peserta yang sudah memiliki 2 juz hafalan, setelah keluar summer camp selama 2 bulan dijamin bisa menjadi seorang hafidz. Hal ini menunjukkan betapa dekatnya Al-Qur’an dengan penduduk Gaza.

Kemudian beliau sempat bertemu dengan PM Palestina ustadz Ismail Haneeya di kantor yang sekaligus juga rumah beliau. Menurut cerita ustadz Muhammad, kantor PM berada ditengah-tengah perkampungan penduduk, benar-benar berada masuk di antara gang-gang kampung. Sesuatu yang tidak pernah diduga sebelumnya. Subhanallah contoh pemimpin yang merakyat. Kalau di Indonesia hampir tidak ada pemimpin yang seperti ini. Dan PM sangat berterimakasih atas bantuan rakyat Indonesia. Dari Gaza mereka melihat di televisi banyaknya orang yang berdemo membela Gaza. Beliau mengatakan bahwa orang Indonesia sudah dekat di hati masyarakat Gaza.

Pada suatu waktu kunjungannya, ustadz Muhammad dipertemukan dengan seorang pemuda di jalan. Pemuda tersebut berpakain rapi, memakai celana jeans, rambut diminyaki, gayanya perlente tetapi salah satu matanya rusak. Ternyata satu matanya itu terkena serpihan bom pada perang kemarin. Dan pemuda tersebut bukannya sedih, malah berkata inilah mata yang akan membawa saya ke surga, saya menyesal kenapa cuma satu, kenapa tidak kedua-duanya saja. MasyaAllah. Dan usut punya usut ternyata dia juga seorang hafidz Qur’an.

Tentara di Gaza juga tidak seperti tentara di negara-negara lain. Jika di negara lain ada institusi khusus dan tentara khusus, maka di Gaza tidak. Tentara di Gaza adalah mereka yang berprofesi sebagai pedagang, karyawan, pegawai negeri, dll. Mereka setiap hari memiliki jadwal menjadi tentara sekaligus menjadi profesi yang lain. Berat memang kelihatannya hidup Gaza bagi orang-orang seperti saya yang bahkan takut membayangkan seperti apa itu perang. Berbeda dengan orang-orang Gaza yang setiap saat sudah siap jika dipanggil menghadap Allah SWT. Wajah-wajah orang Gaza bukan seperti orang yang ketakutan, tetapi wajah ketabahan.

Kondisi di Gaza tentu saja berbeda jauh dengan reaksi orang-orang Israel. Ketika 1 roket Hamas mencapai Tel Aviv, mereka sudah ketakutan setengah mati. Bahkan yang mengusulkan perjanjian damai adalah dari pihak Israel sendiri, walaupun kerusakan jauh lebih besar di Gaza daripada di Israel. Israel memang sengaja mengebom tempat-tempat strategis (bukan secara tidak sengaja) seperti gedung sekolah, gedung pemerintahan, dan jembatan/akses jalan.

Karena dampak perang yang begitu besar, beberapa negara membantu dengan memberikan ‘kail’ dan bukan ‘ikan’. Negara timur tengah yang lain membeli kavling-kavling tanah yang digunakan untuk lahan pertanian. Begitupun dengan bantuan 1,5 Miliar yang dibawa oleh ustadz Muhammad sebagian diwujudkan juga dalam bentuk 2 kavling tanah pertanian yang masing-masingnya 1000 meter persegi. Diharapkan dengan lahan-lahan pertanian ini, hasilnya dapat diexport dan digunakan untuk kembali membangun Gaza. Walaupun bantuan kita tergolong sedikit jika dibandingkan negara lain, tetapi semoga menjadi amal jariyah bagi yang berdonasi. Mungkin sebagian donatur tidak tahu juga kalau bantuan mereka berwujud amal jariyah yang akan sangat membantu di akhirat kelak.


Ada seseorang yang pernah bertanya kepada ustadz bahwa di Indonesia saja banyak yang butuh bantuan, mengapa jauh-jauh ke Gaza? Ustadz menjawab bahwa umat islam dimanapun adalah seperti 1 tubuh, di negara manapun. Jika ada 1 anggota yang sakit, maka yang lain pasti akan merasa sakit. Kita tidak mengacuhkan kondisi saudara-saudara di Indonesia, tetapi saat ini yang paling berat adalah kondisi di Gaza. Kita juga sering membantu saudara-saudara di Indonesia, contohnya di tsunami Aceh, gempa jogja, dll.

Ternyata ada korelasinya antara kedekatan dengan Al-Qur’an dan kekuatan jiwa raga. Itulah rahasianya Gaza yang sedemikian kecil tidak juga hancur dan menyerah. Rasanya tidak ada alasan yang bisa dikemukakan selain dekat dengan Al-Qur’an, dekat dengan Allah, yang menjadikan ketabahan orang-orang Gaza luar biasa.

Rasanya tidak cukup waktu kajian dhuhur untuk bercerita semua oleh-oleh ustadz selama di Gaza. Cerita beliau juga sempat dimuat di koran Jawa Pos hari Jumat minggu kemarin.


Hafidz ? Tidak. Jihad di medan perang ? Tidak. Rasanya malu meminta surga dengan amalan yang segini-gini saja.


2 thoughts on “Oleh-oleh dari Gaza

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s