Just -Single- Question & Sentence


Benarkah seburuk itu jika belum mempunyai suami di usia yang cukup “tua” ? Beberapa pertanyaan atau pernyataan tidak menyenangkan/intimidasi secara langsung maupun tidak langsung kadang dialami oleh para single yang dinilai masyarakat sudah cukup umur tetapi belum menggenapkan separuh agama.

 

Ditanyai umur

Bukannya saya malu menjawab umur saya berapa. Umur panjang adalah sebuah karunia dari Allah. Saya hanya malas menjawab umur saya berapa karena pasti akan banyak pertanyaan lanjutan setelah itu. Pertanyaan lanjutan yang biasa ditanyakan adalah “kenapa belum juga menikah?”, “milih orang yang seperti apa?”, “pasti banyak pilih-pilih ya?”. Seharusnya langsung saja saya dimasukkan ruang eksekusi hukuman karena pasti jawaban saya “tidak tahu”. Atau terkadang otomatis saya akan menjawab “kalau sudah tahu umur saya berapa terus apa yang akan terjadi ?”. Lha disinilah biasanya orang akan “hmmm ketus banget, pantas … ”. Padahal saya hanya menjawab secara rasional. Terkadang orang lain lebih perasa daripada orang yang seharusnya jadi perasa. Dan orang (saya pun juga demikian) hanya mau mendengar apa yang mereka harapkan akan didengar.

 

Judgement

It’s sucks to know that most people used to connect little mistakes we’ve made with the way God give us His destiny. Some of them seems have the right to judge, for example : “oh pantas saja dia belum dikaruniai bla bla bla karena dia bla bla bla”. That judgement words show that it seems that they who talking like that feel to have more good side. Oh really ? But sometimes, I make the same mistake. If I don’t like someone, automatically I’ll try to find their mistakes and then I do judgement like people did. Oh forgive me Lord.

Yah rasanya mak jleb walaupun kalimat tersebut bukan ditujukan buat saya. Serasa ikutan introspeksi diri. Walaupun cuma ditulis di status, hanya saja kurang pantas. Jika kita mengetahui ada sesuatu yang buruk dengan teman kita, alangkah baiknya jika didoakan dan bukannya disukurin. Dalam hal ini ada seorang teman yang sedang jengkel dengan temannya yang menurut dia berkelakuan ketus sekali. Sehingga sampai ditulis di status yang intinya pantas saja dia belum mempunyai pendamping karena ketus. Semoga saya tidak sampai berkata seperti itu. Gampang saja orang mengatakan demikian, karena dia belum pernah merasakan bagaimana rasanya hidup dalam intimidasi lingkungan sekitar tentang masalah “belum menikah”. Rasanya seperti penderitaan orang akan melahirkan tapi secara psikologis, it’s stressing.

Dan bukan berarti seseorang yang cepat dapat jodoh itu selalu lebih baik dari yang belum. Bukankah begitu ? Sudahlah mari berhenti mengambil simpulan-simpulan dan berhenti sok tahu tentang orang lain. Only God knows.

 

Pertanyaan dan Iming-Iming

Sering kali teman-teman kantor yang sudah menikah bertanya kapan saya akan menikah. Sering kali pula mereka berkata bahwa menikah itu enak, sangat menyenangkan, menikmati hidup, dsb. Saya tahu tujuan mereka adalah untuk memberi saya semangat. Dan kalau saya sudah semangat dan termotivasi, so what? Mau bantu cari jodoh? Ketika gantian saya yang meminta tolong dicarikan jodoh, jawabannya “susah nyariin buat kamu, soalnya takut ditolak”. Rempong bener dehhhh ah. Rasanya mereka tidak tahu seberapa keras saya berusaha tentang masalah “belum menikah” ini. Absolutely.

Apakah kalau orang belum menikah tidak bisa hidup dengan bahagia ? Hampir setiap hari saya mendengar keluhan yang topiknya kadang pembantu, kadang anak-anak rewel, kadang tentang suami, kadang mertua. Tapi di lain waktu, mereka yang mengeluh tadi menyuruh saya untuk segera mengikuti jejak mereka (berkeluarga). Ajakan tersebut seakan jadi bernada “ayo ikutan berkeluarga biar bisa mengeluh seperti kami”. Kesimpulannya, siapa yang tidak bahagia ?

Berkaca dari keluhan orang-orang sekitar saya yang sudah berkeluarga, saya tidak mau mengeluh ketika saya sudah mengambil sebuah tanggung jawab. Katanya enak dan menyenangkan? So, stop complaining! Berhenti mengeluh! No PAIN, no GAIN man! Berani senang, artinya berani menerima konsekuensi efek “senang” tersebut.

 

Cerita dari A sampai Z daily routine

Benar-benar membosankan ketika tiba waktu “bercengkrama” dengan ibu-ibu dan bapak-bapak dan mereka membicarakan daily routine atau very small detail tentang keluarga mereka. Pastinya pembicaraan tersebut hanya akan nyambung diantara mereka yang sudah berkeluarga. Ketika yang satunya berkata “anak saya kemarin lucunya sudah bisa nyanyi”, maka yang lain akan menyahut “oh anak saya juga kemarin sudah bisa eek di toilet”, dan akan terus bersahut-sahutan until can’t mention when. Jadilah orang-orang seperti saya ini hanya,”oh begitu”, “kucing saya juga bisa eek di pasir lho”.

 

Well, bukan hanya orang yang belum menikah, saya rasa orang yang belum punya anak, orang yang belum mendapatkan pekerjaan juga akan jengah dengan pertanyaan orang-orang yang cuma sekedar bertanya. Bertanyalah jika setelah itu akan menghasilkan solusi dari pihak yang ditanyai. Kalau cuma sekedar iseng bertanya, mending bertanya sama tembok ? hehehe just kidding.

Mawar itu ungu,

violet itu merah …

zzzz (puisi oleh Patrick star)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s