Keluarga “Pupuk Bawang”


Hidup ini susah ya? Dan sekaligus complicated. Bagi beberapa orang, hidup ini bisa juga dibuat sedikit santai dengan mengandalkan keluarga atau orang-orang dekat mereka. Dalam hal ini saya menyoroti masalah kemandirian sebuah keluarga. Memang saya rasanya kurang tepat membahas masalah ini karena belum mengalami secara realnya. Dan kalau ada yang mengatakan saya orang paling tidak mandiri, ya sah sah saja karena kenyataannya memang masih hidup numpang ortu, hehe. Namun setidaknya saya bisa berkaca dari sana tentang manakah yang patut dan tidak patut dilakukan. Beberapa contoh yang saya lihat di sekitar adalah tentang keluarga muda yang begitu tergantung kepada orang tua dan kerabat mereka. Lingkungan yang saya amati adalah di lingkungan tempat tinggal saya sendiri dimana kondisi sebagian besar masyarakatnya kurang begitu mampu secara financial dan kurang secara tingkat pendidikan, maupun agama.

Fenomena ketergantungan ini seakan menjadi pembenaran bahwa kurang/tidak adanya persiapan dalam memasuki dunia pernikahan dan berkeluarga. Persiapan yang kurang dimiliki salah satunya adalah memahami peran suami/istri dalam keluarga yang menimbulkan beban tidak seimbang antara suami/istri. Ada kalanya suami hanya menjadi pencari nafkah diluar rumah, dan menjadi raja di dalam rumah. Sedangkan istri berperan layaknya seorang ART yang tidak pernah mendapatkan hari libur, bahkan urusan anak diserahkan kepada si istri. Dan begitupun sebaliknya, ada seorang suami yang bekerja tak kenal lelah sedangkan si istri dengan enaknya menghabiskan harta suaminya. Ada kalanya suami istri sibuk dengan urusan mereka sendiri, sedangkan anak mereka dititipkan kepada kerabat/orang tua.

Masalah yang sering menjadi polemik yang berkembang dalam keluarga besar adalah tentang anak. Seringnya anak dititipkan pada kerabat /nenek kakek, menjadikan anak bisa menjadi lebih nyaman pada kerabat/nenek kakeknya daripada kepada orang tua mereka sendiri. Sehingga ketika si anak rewel, maka ‘pawang’ si anak bukan lagi ibu ayahnya, tetapi kerabat/nenek kakeknya. How can this happen ? Terkadang bahkan ibu ayahnya sendiri tidak begitu khawatir tentang si anak karena sudah ada kerabat/nenek kakek yang selalu menjaga di rumah. Sehingga ayah ibu si anak dengan bebas saja pergi entah kemana sementara si anak sedang rewel di rumah. Tetapi giliran ada perilaku anak yang kurang berkenan di hati mereka, yang disalahkan ya ‘pawang’nya. Enak ya jadi orang tua jaman sekarang ?

“Sudah cukupkah kasih sayang kepada anak ?”. Pertanyaan relatif ini tidak akan bisa dijawab dengan pasti karena setiap orang tua pasti mengatakan “pertanyaan apa itu? Setiap orang tua pastilah memberikan kasih sayang dan perhatian penuh pada anaknya” (tentu saja kasih sayang dan perhatian versi mereka). Bagi beberapa orang tua yang memiliki anak terlalu banyak, ada yang menitipkan anaknya pada orang tua/kerabat tanpa peduli dan tanpa memberikan hak-hak anak misalnya uang sekolah, perhatian meskipun lewat telepon, dan seringnya kunjungan. Ada yang mengasuh anaknya sendiri dan merasa sudah memberikan perhatian dengan cara membelikan anaknya baju, sepatu, tas bagus, makanan enak, seringnya diajak jalan-jalan tetapi jarang sekali bermain bersama atau ngobrol ketika waktu senggang. Sedangkan perhatian dan kasih sayang yang memang anak butuhkan lebih banyak dipenuhi oleh kakek neneknya. Ini contoh ekstrim yang memang terjadi.

“Hidup ini sudah ruwet mbak, maka jangan lebih dibuat ruwet, santai saja”. Benarkah hidup kita harus santai dengan mengorbankan ketentraman kerabat/orang tua kita ? Tanpa sadar, lama-lama kita menghabiskan sumber daya dan energi mereka hanya untuk mengurusi kita dari lahir hingga kita berkeluarga. Bahkan ketika orang tua kita pensiun, mereka bukannya menikmati hidup tetapi menjadi asisten rumah tangga kita, huffttt jangan sampai deh kejadian sama saya, naudzubillah.

“Tapi orang tua saya bahagia dengan direpoti cucunya”. Bahagiakanlah mereka dengan cucu tanpa membuat mereka capek atau ikutan begadang karena kita tidak mampu mengurusi anak kita yang rewel setiap malam. That’s how I called make them happy (itulah yang saya sebut membahagiakan mereka).

Berani berbuat, berani tanggung jawab. Bagi saya, jika berani menikah, maka berani berkeluarga. Jika berani berkeluarga, maka berani mempunyai anak dengan segala konsekuensinya. Untuk menjadi mandiri awalnya mungkin banyak salah salah dan meminta bantuan orang lain termasuk orang tua sendiri. Tetapi namanya manusia hidup rasanya tidak sreg kalau tidak melakukan introspeksi dan perubahan. Beruntunglah bagi mereka yang sudah bisa memberi kemanfaatan bagi keluarga dan sekitarnya dan bukan sebaliknya malah menjadi sumber masalah dan kekhawatiran.

Salah satu solusi yang ditawarkan oleh sebuah partai islam adalah dengan melakukan semacam seminar pra nikah. Dalam seminar ini peserta akan diberikan seluruh pengetahuan tentang seluk beluk pernikahan mulai pra hingga pasca. Pembicara seminar tentu saja orang-orang yang sudah pernah menjalani periode seperti materi yang sedang mereka sampaikan. Seminar ini merupakan seminar padat materi dan harus diikuti oleh seluruh peserta. Bahkan beberapa teman yang sudah menikah pun tidak segan ikut seminar ini karena memang banyak materinya masih mereka butuhkan untuk menghadapi kehidupan pasca ijab qobul. Aturan seminar ini, jika ada yang melewatkan 1 materi saja, maka dinyatakan tidak lulus oleh panitia tetapi diperbolehkan mengulang materi tersebut di seminar berikutnya. Saya sendiri pernah mengikuti selama 3 pertemuan full, dan saya rasakan ilmu-ilmu di dalamnya sangat bermanfaat. Mungkin seminar-seminar seperti ini perlu lebih digalakkan di masyarakat. Sehingga harapan kita membentuk lingkungan, kemudian Negara yang lebih baik akan bisa terwujud.

Oh ya mungkin ada yang tidak mengerti apa arti pupuk bawang ? Pupuk bawang adalah frase yang diambil dari bahasa jawa yang artinya tidak sungguh-sungguh/main-main. Misal, dalam sebuah permainan yang diikuti oleh anak-anak kelas 5 SD didalamnya juga diikuti oleh anak-anak TK yang masih terlalu kecil dan belum memahami benar bagaimana permainan tersebut. Maka anak-anak TK tersebut diberi dispensasi dalam permainan sehingga ketika melakukan kesalahan tidak akan mendapatkan hukuman. Dalam contoh permainan tersebut anak-anak TK diberi status pupuk bawang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s