Menangislah Bila Harus Menangis


Gimana ya, rasanya lucu dan ingin tertawa tapi disaat yang sama heran dan salut kok ada orang yang gampang sekali meneteskan air mata. Mbak yang satu ini begitu kalem, dari wajahnya terlihat orangnya sangat sabar. Tapi mayoritas mbak-mbak disini juga begitu. Senang bisa kenal dan menimba ilmu bersama mereka.

Berawal dari tausiah teman saya (yang ternyata kalau nangis bisa sampai seharian), saya jadi tahu bahwa rasa jenuh dan hambar dalam menimba ilmu tidak hanya pernah saya rasakan. Baru mengucapkan beberapa kalimat curhatnya, mbak A sudah menitikkan air mata. Menangisnya mbak tersebut dikarenakan dia menyesali absennya dia dalam liqo terdahulunya. Ditambah lagi ketidakhadirannya tidak pernah dicari dan ditanyakan. Oh so sad… Dia absen liqo karena jenuh dan bosan. Rasa jenuh dan bosan mungkin bisa disebabkan dulunya dia merasakan semangat yang sangat menggebu, tapi di tengah perjalanan belum menemukan orang-orang yang sefase gelombang semangat dalam kelompok halaqohnya, bahkan dengan murobbinya sekalipun. Mungkin itu pula salah satu alasan yang pernah terjadi pada diri saya. Kalau saya solusinya agak ekstrim, yaitu minta pindah kelompok halaqoh. Alhamdulillah solusinya berhasil, it works.

Karena itulah dalam tausiahnya, mbak A mengingatkan bahwa amalan yang kecil tapi terus menerus lebih disukai Allah daripada yang besar tapi terputus. Tentu saja yang besar dan tidak terputus akan sangat disukai Allah (tapi besar dan kecil itu suatu ukuran yang sangat relatif bukan?). Dan Allah tidak akan pernah bosan sampai kita sendiri merasa bosan. Artinya dalam beramal tidak terlalu menggebu-gebu, yang proporsional sesuai kemampuan tapi tidak menyepelekan. Karena jika berlebihan, bisa-bisa kita akan cepat merasa bosan. Tidak sedikit contoh orang-orang yang dahulu sangat bagus agamanya, dikemudian hari menjadi seperti orang yang tidak pernah mengerti ilmu agama, naudzubillah. Ingat juga kisah Rasulullah melarang wanita yang memaksakan diri sholat malam hingga mengikatkan tubuhnya di tiang untuk menahan tubuhnya agar tetap berdiri.

Anyway setiap orang memiliki potensinya yang berbeda-beda, dalam hal apapun termasuk amal ibadah. Bahkan orang yang suka menangis sekalipun ternyata adalah orang yang paling memiliki potensi mudah dibuat tertawa dan tersenyum (hehehe analogi yang tidak nyambung, babah).

Hari ini pertama kalinya dalam halaqoh, saya merasakan tersentuh dan ingin menangis tetapi tetap ingin tertawa (lho aneh ya?) . Si mbak yang nangisan ini mudah tertawa kalau digoda soalnya, hehehe…dan pelaku penggoda tersebut seringnya saya. Senang mengetahui ada orang yang tidak malu menangis ketika dia memang harus menangis. Kalau saya sih agak gimana gitu nangis di depan umum.

Alhamdulillah dipertemukan dengan mereka yang berhati lembut.

Copas lirik Dewa – Air Mata :
Menangislah bila harus menangis
Karena kita semua manusia

Manusia bisa terluka, Manusia pasti menangis
Dan manusia pun bisa mengambil hikmah
Dibalik segala duka tersimpan hikmah
Yang bisa kita petik pelajaran
Dibalik segala suka tersimpan hikmah
Yang kan mungkin bisa jadi cobaan

Foot note :
Halaqoh dan liqo artinya hampir sama, yaitu lingkaran, kumpulan orang-orang. Dalam tulisan saya artinya condong pada kumpulan orang-orang yang belajar ilmu agama, biasanya duduk secara melingkar.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s