Friends for Benefits (1)


Setelah memiliki banyak kucing lucu, saya jadi berubah mindset bahwa sahabat terbaik buat saya adalah hewan peliharaan. Hewan peliharaan saya selalu bisa diajak bermain dan bisa menghibur kalau sedang sepi. Memang, hewan tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu. Tapi di dunia ini salah satu hal yang disenangi tetaplah transparansi dan kejujuran. And animals can’t lie, mereka hanya beradaptasi.

Seorang teman (manusia) tetaplah orang lain yang memiliki aktivitasnya sendiri, rahasianya sendiri, dll. Sebaik-baik teman, tidak akan bisa merasakan benar-benar empati kepada sahabatnya. Buktinya ketika kita kesusahan atau mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan, paling banter mereka hanya mengucapkan turut bersedih atau komentar yang lain untuk menghibur. Di jaman canggih seperti ini, malahan tidak perlu bertemu untuk bisa mengucapkan empatinya, cukup kirim text message. Teman baik mungkin yang datang berkunjung ketika kita mengalami musibah.

Teman yang bukan saudara kandung tetaplah orang lain. Sedekat-dekatnya teman, pasti ada jarak. Sebaliknya, sejauh-jauh saudara kandung, pastilah lebih dekat dari teman. Dekat dan jauh dalam konteks banyak hal. Teman yang saudara kandung adalah suatu anugerah yang patut disyukuri.

Apa yang dibutuhkan dari seorang teman? Tidak ADA! Apa yang diharapkan dari seorang teman? Tidak ADA! Teman itu seperti penjual es krim yang sangat kita sukai ketika hari sangat panas. Dia tidak akan melayani pembelian es krim dari kita saja. Dan kita sangat menyukai kehadirannya hanya ketika hari panas. Teman juga seperti penjual mie ayam. Saya sangat menyukai ketika malam hari terasa lapar. Dan teman akan memberi ketika kita punya sesuatu untuk diberikan. Seperti halnya para penjual yang akan memberi yang kita inginkan ketika kita punya uang. Hati-hati juga dengan penjual yang tiba-tiba datang dan memaksa kita membeli barang dagangannya!

Teman yang benar-benar teman adalah mereka yang juga ingin mengenal keluarga kita. Teman yang tulus datang ke rumah kita hanya sekedar ngobrol silaturahim walaupun tidak ada hal penting. Ketika kita saja yang sering mengunjunginya, maka tampaknya hanya kita yang butuh teman sedangkan dia tidak. Saya kini berhati-hati dengan ini. Jangan sampai feel teman baik itu hanya dimiliki oleh saya seorang. Padahal ada teman lain yang lebih layak untuk dijadikan teman. Jangan sampai sibuk dengan teman yang bukan teman.

Ada teman yang sangat dikenal dalam keluarga saya, begitupun saya juga dikenal dalam keluarganya. Tapi ada juga teman yang tidak pernah diketahui kemunculannya di keluarga saya, tapi saya sangat dikenal dalam keluarganya. Lha ini ceritanya teman bertepuk sebelah tangan, cuma saya yang sering silaturahim. Ini sebuah hubungan yang tidak sehat.

Ngomong soal teman memang tidak akan ada habisnya. Satu hal yang saya pegang, ketika ada kasih sayang, maka semua akan terkalahkan. Bukan artinya jadi nomer satu setiap saat, tapi tetaplah proporsional. Saya jadi ingat beberapa teman yang apa adanya dan selalu siap membantu, maka saya pun ingin demikian kepada mereka. Sebaliknya ketika tidak ada kasih sayang, maka akan jadi nomer kesekian setiap saat, lebih banyak rejecting and cancellation. Memang, kita wajib setia setiap saat hanya pada Tuhan karena Dia menjaga dan mendengar doa kita setiap saat. Yang kedua adalah ibu dan ayah. Setelah itu, baru yang lain.

Friends for benefits? Siapa yang tidak? Ya ada sih beberapa… If you find them, you can mark them as bestfriend, I think it’s you🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s