Mencari Ridho Allah


Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh, salam keselamatan, semoga rahmat dan barokah Allah SWT selalu diberikan kepada kita semua. Sholawat serta salam kita ucapkan untuk Nabi Muhammad.

“Mencari ridho Allah” (bukan mencari Ridho Rhoma ya…alamak), kalimat ini sungguh terkesan teoritis dan ‘langitan’.  Membacanya saja sudah berat dan bisa membuat orang kehilangan nafsu makan (nggak gue banget). Seakan-akan mencari ridho Allah hanya pantasnya dilakukan oleh para ustadz, ustadzah, guru agama dan yah semacamnya lah. Tapi apakah benar demikian ? Apakah orang-orang selain mereka tidak perlu mencari ridho Allah ? Kalau kita beranggapan demikian, berarti tampaknya kita terlalu serius dalam hidup ini.

Bagaimana bisa mencari ridho Allah hanya pantas dilakukan oleh orang-orang yang berjenggot, berjilbab lebar dan orang-orang yang kuliah jurusan agama kalau ternyata mencari ridho Allah itu bisa didapatkan bahkan dari perbuatan yang menurut kita sepele. Tidak percaya ? Makanya sekali-kali datang ke kajian agama. Lagian kan gratis… Sudah dengerin gratis, dapat ilmu pula. Lebih capek yang ngomong ngasih ceramah daripada yang cuma modal kuping buat dengerin.

Kali ini saya akan sedikit share catatan kajian dari ustadz Musbihin Sahal dengan tema “Meraih Ridho Allah”. Kajian ini disampaikan pada tanggal 7 Agustus 2012, namun baru kali ini saya ingat untuk memposting ke blog. Mohon maaf sebelumnya kalau beberapa hadits tidak bisa saya tuliskan secara lengkap karena memang saya ada naik turun konsentrasi (maklum kadang disambi chat biar tidak terbang ke alam mimpi).

Berdasarkan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiallahuanha, ketika tiba waktu hisab dihadapan Allah, ada 3 orang yang dipanggil dan disidang di hadapan Allah. Orang-orang yg disidang oleh Allah tersebut antara lain :

1. Orang yang sering membaca Al Quran.
(Setelah beberapa dialog… ) Allah bertanya kepada orang tersebut, Apa yang kau lakukan terhadap Al-Quran itu ?
Orang tersebut menjawab, Al-Quran itu saya baca siang dan malam.
Allah  bertanya, untuk apa?
Orang tersebut menjawab, untuk mencari ridhoMu.
Allah berkata, kamu berbohong. Begitupun malaikat yg ada disitu mengatakan dia berbohong.
Kamu membaca Al-Quran agar orang mengatakan bahwa kamu pembaca Al-Quran yang bagus, yang hebat. Dan orang-orang di kampungmu sudah mengatakan hal itu. Kamu tidak mendapatkan apa-apa.

2. Orang yang banyak harta
Allah bertanya, Bukankah kamu Kuberi harta hingga kamu tidak butuh bantuan orang lain, kamu gunakan untuk apa harta itu?
Orang tersebut menjawab, Saya gunakan sedekah, silaturahmi.
Allah bertanya, Untuk apa kamu sedekah, silaturahmi ?
Orang tersebut menjawab, Untuk meraih ridhoMu yaAllah.
Allah berkata, Kamu bohong.
Begitupun malaikat di sekitarnya mengatakan dia berbohong.
Kamu banyak memberi, sedekah, infaq agar orang-orang menamaimu dermawan. Dan orang-orang di sekitarmu sudah mengatakan demikian. Kamu tidak mendapatkan apa-apa.

3. Orang yang terbunuh/berperang di jalan Allah
Allah bertanya, Untuk apa kamu sampai terbunuh ?
Orang tersebut menjawab, Kau perintahkan untuk keluar untuk berperang ya Allah.
Allah bertanya, Untuk apa kamu sampai terbunuh ?
Orang tersebut menjawab, Untuk mencari ridhoMu ya Allah.
Allah berkata, Kamu bohong. Kamu berjuang karena ingin disebut pahlawan, pemberani, dan orang-orang sudah menyebutmu demikian.

Tiga orang pertama tadi ,(kata Nabi pada Abu Hurairah) adalah yang pertama masuk neraka. (Naudzubillah).

Mereka masuk neraka bukan karena ibadah-ibadah tersebut tidak berpahala, tapi karena tidak ikhlas karena Allah saja, ada tendensi lain sehingga tidak mendapatkan ridho Allah. Tidak mendapatkan apa-apa selain maksud yang ingin diperolehnya.

Sekecil apapun perbuatan kita ,tapi jika dilakukan dengan ikhlas, maka akan memperoleh ridho Allah. Kita ingat beberapa hadits :
Jangan kau remehkan kebaikan walau dengan 1 biji kurma.
Jangan kau remehkan kebaikan walau dengan tersenyum kepada saudaramu.
Berdasarkan hadits di atas, bahkan hal kecil jika dilakukan dengan ikhlas maka akan bernilai ibadah dan mendapatkan ridho Allah. Apalagi kalau kebaikan yang lebih besar.

Kemudian bagaimana ciri-ciri orang ikhlas ?
Kita tidak bisa menjudgement/menilai seseorang itu ikhlas atau bukan, karena ikhlas tempatnya di hati.
Beberapa ciri orang yang ikhlas antara lain :

1. Dia khawatir terkenal kebaikannya.
Sebuah kata-kata bijak (atau hadits? saya kurang memperhatikan penjelasan ustadz) Jadilah kamu sumber-sumber ilmu, lampu-lampu ilmu yang tidak dikenal oleh penduduk bumi tapi terkenal di penduduk langit.
Jika seseorang mampu untuk tidak terkenal, maka hendaknya dilakukan.

Ada sebuah kisah sahabat yang takut untuk diketahui oleh orang lain ketika hendak berinfaq. Sahabat tersebut menaruh uang di bawah sajadah dengan niat agar ditemukan oleh orang miskin. Tapi ternyata sajadah tersebut dibuka oleh anaknya sendiri. Si bapak mengatakan bahwa si anak tidak berhak atas uang tersebut karena si ayah takut niat baiknya tidak bernilai ibadah karena uangnya diambil anaknya sendiri. Tetapi anak yang menemukan uang tersebut beranggapan bahwa uang itu haknya.
Setelah berdebat akhirnya mereka datang dan menanyakan hal tersebut pada Nabi. Nabi mengatakan bahwa si bapak tetap mendapatkan pahala atas niatnya, sedangkan anaknya juga tetap berhak atas uang tersebut.

2. Selalu merasa kebaikan yang dilakukan masih kurang
Orang seperti ini khawatir Allah tidak mengampuni dosanya dan tidak menerima kebaikannya. Sehingga senantiasa berlomba untuk melakukan kebaikan dan merasa bahwa kebaikan yang dilakukannya selalu kurang.

3. Kalau beramal tidak banyak bicara
Senang berbuat tetapi tidak banyak bicara. Orang yang keberadaannya tidak dicari, tapi hatinya laksana lentera petunjuk Allah.

4. Orang yang ikhlas dan sama baiknya dalam kedudukan/posisi apapun, baik ktk jd tentara ataupun panglima (baik ketika jadi bawahan atau atasan)
Seperti contoh Khalid bin walid. Ditengah-tengah peperangan, jabatannya selaku panglima diganti oleh khalifah umar. Ketika ditanya pendapatnya, maka khalid menjawab Saya berperang bukan karena umar.

5. Tidak peduli dengan ridho manusia
Apa gunanya ridho manusia tapi mendapatkan murka Allah. Karena pada akhirnya kita akan kembali mempertanggungjawabkan semua perbuatan pada Allah. Sehingga tidaklah penting apa pendapat manusia.

6. Cintanya, bencinya, ridhonya hanya untuk Allah, karena Allah saja, bukan karena dirinya atau manfaat yang akan didapatnya

Tidak ada masalah ketika seseorang dijelek-jelekkan orang lain asalkan terpuji di sisi Allah.

Jadi kesimpulannya, mendapatkan ridho Allah adalah kunci agar kita tidak dijebloskan ke dalam neraka. Dan tidak harus dicari dengan melakukan ibadah-ibadah yang luar biasa di mata manusia. Kebaikan apa saja yang dilakukan dengan ikhlas, insyaAllah akan mendatangkan ridhoNya.

҉ȟϻϻ┅(•͡˘˛˘ •͡) ternyata susah-susah gampang. Bahkan memberi uang pada pengamen/pengemispun kita tidak bisa yakin apakah dilakukan dengan ikhlas atau karena tidak ingin disebut pelit oleh tetangga ? Bagaimana menjaga agar setiap perbuatan kita ikhlas ? Tunggu kelanjutan catatan saya dengan tema “Menjaga Keikhlasan” oleh ustadz Muhammad Sholeh Drehem.
Wallahua’lam bishowab.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s