Mobbed – The Boy Friend


Mobbed edisi kemarin adalah tentang seorang wanita yang meminta teman laki-lakinya untuk meneruskan hubungan ke jenjang yang lebih serius.

For your information, mobbed adalah sebuah acara di salah satu stasiun televisi berbayar luar negeri. Jika dilihat asal katanya, mobbed artinya dikerumuni. Tetapi esensi acara tersebut adalah tentang membuat kejutan kepada seseorang atau beberapa orang. Kejutan yang dibuat adalah berdasarkan request/permintaan dari seseorang dengan sebuah tujuan tertentu, mungkin meminta maaf, melamar atau yang lainnya.

Mobbed yang baru saja saya lihat kemarin cukup membuat “gelo” alias membuat perasaan saya ikut merasakan kecewa seperti yang dialami oleh wanita yang merencanakan kejutan di acara mobbed ini. Ceritanya si wanita adalah seorang guru dan mempunyai teman laki-laki yang juga seorang guru di sekolah yang sama. Si wanita beranggapan bahwa si laki-laki adalah teman yang selama ini dia cari, cocok sebagai rekan mengajar, curhat dan membicarakan banyak hal. Sehingga si wanita mulai merasakan perasaan spesial kepada si teman laki-lakinya tersebut.

Alur cerita mobbed kali ini si laki-laki diundang untuk mendapatkan penghargaan bersama beberapa orang lainnya. Pada acara pura-pura tersebut, pembawa acara menyampaikan beberapa prestasi yang pernah dicapai oleh si laki-laki, beberapa diantaranya asli dan beberapa diantaranya cuma rekaan. Tujuan acara pura-pura tersebut adalah membentuk mindset orang tersebut bahwa dia harus berani mengatakan kejujuran, jika memang sesuatu hal tidak benar. Hubungannya dengan acara kejutan adalah nanti ketika si wanita menanyakan apakah si pria bersedia untuk ke tingkat hubungan yang lebih, maka si laki-laki akan dapat mengatakan perasaannya sejujur-jujurnya dan bukannya hanya sesuatu yang ingin didengar oleh si wanita.

In the middle of the show, si laki-laki hanya bisa berkomentar “wow”, “wow” dan “wow” karena terlihat dia memang terkejut. Kayaknya familiar sekali ya dengan kata-kata yang sering diucapkan para ABG belakangan ini “Trus gue harus bilang wow gitu?”, hehehe.

Setelah acara pura-pura sudah selesai dan beberapa tari-tarian, si laki-laki dibawa menuju sebuah panggung kecil di tengah-tengah ratusan penari bersama si wanita. Kemudian si wanita menyatakan apa yang dia rasakan dan menanyakan apakah si laki-laki berkenan untuk menerima tawarannya. Merupakan saat yang mendebarkan dan saat yang penuh keberanian bagi si wanita. Apalagi dia akan bertanya kepada laki-laki sahabatnya sekaligus teman kerjanya. Jika saya berada di posisi si wanita, saya akan memilih untuk diam saja dan tidak mengungkapkan apapun. Terus terang saya salut kepada si wanita tersebut karena tidak semua wanita berani melakukan seperti yang dia lakukan. Si laki-laki sangat berhati-hati dalam menjawab tampaknya dia takut untuk melukai hati teman wanitanya tersebut. Hingga akhirnya si laki-laki mengatakan bahwa dia menyukai wanita tersebut hanya sebagai teman, tidak bisa lebih. Terlihat sekali begitu kecewanya si wanita tersebut karena dia menduga bahwa teman laki-lakinya 90% akan mengatakan bersedia. Untungnya di atas panggung, si wanita bisa menahan diri untuk tidak menangis. Tetapi di wawancara backstage dia curhat dengan menangis. Salut saya buat dia. Semoga pertemanan mereka tidak terasa aneh setelah kejadian tersebut.

Sebenarnya perasaan si wanita ini beberapa kali juga saya alami, dimana ketika menemui kecocokan dengan seseorang maka saya beranggapan bahwa orang tersebut merasakan hal yang sama (tapi perasaan tersebut tidak selalu harus cinta). Tetapi seiring dengan waktu, saya diakhirnya selalu mengetahui bahwa perasaan tersebut hanya muncul dalam diri saya sendiri. Dan hubungan kami hanya berhasil sebagai teman karena biasanya teman laki-laki saya akan menemukan wanita pujaannya di tempat lain, dan tentunya bukan saya. Tapi ya biasa saja lah, toh teman-teman saya juga gak keren, biasa saja. Itulah mengapa di sebuah artikel di internet ditulis bahwa salah seorang tipe lelaki yang tidak boleh dijalin hubungan lebih dari teman adalah teman baik kita sendiri, hehehe.

Saya senang kok ketika teman-teman saya menemukan wanita yang cocok dengan mereka. Bahkan sebenarnya tidak perlu juga merahasiakan ketika mereka sedang menjalin hubungan dengan orang lain, karena saya tidak akan merusak hubungan mereka malah saya akan mensupport. Takut saya kecewa? Wah saya malah tidak kecewa sama sekali melihat teman baik saya bahagia. Hanya saja saya perlu teman baru yang memiliki banyak waktu luang. Sedih juga rasanya menjadi orang yang terakhir mengetahui berita baik sahabat sendiri setelah orang –orang lain, karena pada dasarnya saya tidak suka mencari-cari informasi tentang seseorang. Sebagai manusia, saya juga mengharapkan kejujuran dalam sebuah hubungan pertemanan dengan seseorang. Benar-benar tidak enak menjadi yang terakhir tahu berita baik teman kita sendiri yang selama ini menjadi teman untuk berbagi. Tapi, saya menghormati sikap mereka. Semoga pertemanan yang ada akan tetap baik hingga kemudian hari, aamiin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s