Spiritualitas Puasa dan Kebebasan


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Hai… Jumpa lagi dengan saya di blog saya sendiri setelah lama jeda dari tulisan sebelumnya… sensasi serasa jadi penyiar radio di stasiun radio milik pribadi. Maklum waktu kecil sempat ingin jadi penyiar radio selain cita-cita ingin jadi dokter, astronot, dan scientist (sumpah nggak pernah terbersit keinginan jadi engineer).

Tulisan kali ini akan meresume kajian bertema “spiritualitas puasa” yang disampaikan oleh Professor Abdullah Shahab ( yang juga berprofesi sebagai dosen di ITS, tapi sayangnya bukan dosen di jurusan saya dulu – nggak penting). Sebenarnya kajian ini telah terselenggara 20 hari yang lalu dalam rangka menyambut bulan ramadhan yang diadakan oleh Sie Kerohanian Islam di kantor saya.

Mohon dimaklumi jika resume cuma menjelaskan sedikit dari yang seharusnya karena saya cukup terkesima dengan penjelasan ustadz yang “mak jleb” menohok pemikiran matrealistis dan logika saya yang cuma segitu-gitu saja.

Begini nih isi resume saya :

—————– 0O0 —————–

Membahas tentang bulan ramadhan dengan ibadah utamanya puasa tentu tak lepas dari pembahasan tentang keutamaan puasa. Keutamaan puasa yang paling penting adalah sebagai :

Sarana mensyukuri nikmat Allah SWT

Melihat kondisi kita saat ini di Indonesia (Surabaya pada khususnya, di kantor tempat kajian lebih khusus lagi) menandakan bahwa Allah telah mengangkat derajat kita sangat tinggi. Jauh lebih tinggi dari orang-orang di Negara lain yang ditimpa kelaparan, kemiskinan dan kondisi Negara yang tidak aman dan tidak sejahtera.

Pertanyaannya adalah :

            Apa bedanya kita dengan mereka ?

Apakah kita lebih bertakwa daripada mereka ? Atau ada kelebihan kita yang lain di sisi Allah SWT ?

Jawabannya adalah TIDAK ADA. Tidak ada hal yang membedakan kita dengan mereka. kita menerima semua karunia dan kenikmatan hidup ini hanyalah karena rahmat Allah SWT. Bisa saja saat ini kita yang ditukar posisi dengan orang-orang yang sedang kelaparan dan miskin di luar sana (naudzubillah), karena kuasa Allah tidak terbatas dan bisa melakukan apapun yang Dia kehendaki. Oleh karena itu tidak sepantasnya jika kita banyak mengeluh dalam menjalani kehidupan ini.

Puasa bisa dimaknai sebagai sarana :

  • Aktualisasi potensi kehendak bebas

Manusia adalah satu-satunya makhluk kasat mata yang memiliki kehendak bebas. Manusia bebas untuk melakukan apa yang dikehendaki. Contoh kehendak bebas manusia adalah manusia berani menerima amanah untuk memakmurkan bumi.

Kemudian kebutuhan jasmani yang dirasakan oleh manusia apakah berasal dari keinginan manusia sendiri atau dari otak ? Sebenarnya kebutuhan yang dirasakan oleh tubuh manusia adalah perintah dari otak. Ada bagian yang diberi nama hypothalamus yang mengatakan keinginan yang berhubungan dengan biologis tubuh. Misalnya manusia merasakan haus. Ketika kadar air dalam tubuh berkurang dari yang seharusnya, sel-sel tubuh memberikan informasi ke otak dst sehingga hypothalamus memberikan informasi bahwa manusia sedang dehidrasi dan butuh untuk minum. (begitu bahasa sederhananya, itu hanya penjelasan gaya saya).

Ketika itu, bahkan perintah dari diri sendiri diabaikan. Disitulah manusia menjadi sepenuhnya bebas dan tidak mematuhi perintah dari manapun kecuali perintah dari Allah SWT, yaitu perintah untuk berpuasa.

  • Keberanian mengatakan TIDAK

Pertanyaan-pertanyaan sederhana :

mana yang lebih kuat antara setan atau nafsu ?

kalau setan tidak ada, apakah dunia menjadi lebih baik ?

dimana tempat setan ? di tempat baik atau di tempat jelek ?

Jawaban-jawaban dari ustadz banyak yang terlewat saya tulis. Yang saya ingat bahwa nafsu manusia ibarat roda dan setan hanya mendorong saja.

Kemudian tempat setan seharusnya di tempat yang baik karena buat apa dia berada di tempat yang sudah jelek. Tujuannya adalah untuk menggoda orang-orang yang baik agar menjadi jelek. Sedangkan orang-orang yang tidak baik sudah tidak perlu lagi digoda. Bahkan ustadz sempat bergurau bahwa dedengkotnya setan memerintahkan kepada anak buahnya agar tidak dekat-dekat dengan orang yang sudah tidak baik karena takut tertular kejelekannya….hehehe…

Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah, disebutkan dalam firman Allah surat An-nisa ayat 76

                … maka perangilah kawan-kawan setan itu, (karena) sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.

Dan dijelaskan pula dalam surat Ibrahim ayat 22 bahwa setan berlepas diri dari apa yang diperbuat oleh manusia.

… Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu dan kamu pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu….

Nafsu digunakan setan sebagai tipu daya kepada manusia. Nafsulah yang menggerakkan manusia, dan setan sebagai pendorongnya.

Ketika berpuasa manusia mengalami kemerdekaannya karena dia tidak mematuhi perintah siapapun termasuk perintah dari system tubuhnya sendiri melainkan hanya patuh pada perintah Allah SWT.

——————————— 0O0 ——————————–

Demikian resume kajian , yang sebenarnya sudah telat untuk disampaikan disini. Tapi lebih baik telat daripada tidak. Semoga bermanfaat bagi semua pembaca dimanapun Anda berada, selalu stay tune di alamat blog untuk membaca tulisan saya berikutnya….

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s