Sedikit Sharing Jual Beli Online


Rekan semua pastinya sudah tidak asing dengan internet dan kata “online”nya. Sebab saat ini aktivitas kita sudah mulai beberapa dipindahkan ke online, misalnya saja bersilaturahim dan berjual beli. Untuk bersilaturahim mudah saja, kita tinggal mencari tahu account (akun) facebook atau twitternya. Sedangkan untuk berjual beli, telah banyak pula situs yang menyediakan fasilitas jual beli online secara mandiri antara tiap individu, tentunya dengan beberapa aturan yang telah ditetapkan admin situs.

Situs yang menyediakan fasilitas jual beli antara lain ebay, tokobagus, tokopedia, berniaga, dll. Ada juga yang hanya memfasilitasi iklan-iklan gratis. Pengalaman saya untuk berjual beli online memang tidaklah banyak, tetapi sedikit yang saya punya bisa dibagikan buat semuanya.

Untuk membeli online lumayan sering saya lakukan, baik membeli barang di Indonesia maupun dari luar negeri. Negara di luar negeri yang pernah mengirim barang kepada saya antara lain dari amerika dan cina. Jika pembelian barang dibawah USD 50, maka tidak akan ditahan bea cukai dan dikenai pajak, hanya perlu mengganti biaya kemasan barang sebesar Rp 7000. Jika diatas USD 50 belum pernah saya alami, menurut cerita rekan-rekan lebih baik memakai forwarder. Forwarder disini adalah pihak ketiga yang kita percaya untuk membelikan barangnya “on the spot” kemudian mengirimkannya kepada kita. Sehingga kita tidak perlu berurusan dengan segala macam birokrasi di bea cukai, dan cukup membayar semuanya kepada forwarder. Dengan adanya forwarder, kita juga bisa lebih yakin dengan kondisi barang apakah sesuai dengan spesifikasinya. Oya anyway, mungkin ada yang mempertanyakan biaya kemasan yang telah saya sebut sebelumnya. Begini, setiap barang yang hendak masuk ke Negara Indonesia dari luar negeri, diberikan kemasan tambahan berupa bungkus plastik dan ditali (untuk barang kecil, untuk barang besar saya kurang tahu), mungkin juga melalui sedikit pengecekan. Karena itulah, biasanya ada penjual dari luar negeri yang bersedia untuk mencantumkan bahwa barang tersebut adalah hadiah (gift) jika harganya melebihi USD 50 (untuk menghindari perhitungan pajak rumit dan bertele-tele di bea cukai). Namun biasanya penjual dari negara-negara maju tidak bersedia untuk mencantumkan sebagai “gift”, kalau tidak salah karena aturan di negara mereka yang memang melarangnya/menerapkan aturan untuk hal ini.

Terus bagaimana bisa tahu bahwa penjual tertentu bisa dipercaya? Kalau di ebay biasanya kita bisa melihat komentar-komentar dari para kliennya. Sistem di ebay mewajibkan pembeli dan penjual untuk memberikan komentar setelah mereka bertransaksi. Jika setelah bertransaksi, kita lupa memberi komentar, maka kita akan terus diberi notifikasi dari sistem. Inilah yang membuat sangat sedikit kemungkinan untuk tertipu di ebay, karena jika track recordnya jelek akan ada rating komentar negative yang banyak. Tetapi ada juga penjual yang tidak mau diberi komentar walaupun sedikit negative (bukan beneran negative), sehingga dia akan meminta kita untuk meralat komen (huft agak sebel juga sama penjual macam gini). Mirip kaskus juga sih, track record pengirim message bisa diliat dari cendolnya (bener nggak? Maklum jarang ngaskus).

Jika membeli barang selain di ebay, bisa searching saja dulu nama toko atau nama penjual yang bersangkutan. Nantinya search engine akan mengeluarkan semua artikel yang berkenaan dengan nama-nama tersebut. Jika memang tidak ada tulisan negatif, maka dicoba dulu memesan barang yang kecil. Jika pelayanan memuaskan, maka bisa dilanjut untuk barang yang lebih ber-‘bobot’.

Sedangkan kalau pengalaman berjualan lebih banyak anehnya daripada yang layak untuk diceritakan, hehe, yaaa namanya juga pengalaman pastinya tidak semua sukses dan menyenangkan. Pengalaman calon pembeli yang kesal karena kelamaan balas pesannya, belum lagi orang-orang aneh yang cuma iseng nawar. Menawar harga yang tidak rasional, bahkan tidak bisa ditemukan di toko barang paling murah di dunia untuk barang tersebut. Ada juga yang sudah menawar dan terjadi kesepakatan harga, bahkan sudah ketemuan, eeeh ternyata suaminya berubah pikiran….batal deh (biasanya orang model begini biasa dikatain k*mpret,xixixi). Biasanya transaksi paling aman sebagai penjual, kita meminta calon pembeli untuk mentransfer uangnya terlebih dahulu, setelah itu barang segera dikirimkan dan kita kirimkan info nomor resi kepada yang bersangkutan sebagai bukti barang telah dikirimkan.

Memang sebagai penjual harus punya stok kesabaran lebih. Jadi kepikiran untuk buka toko sabar, pasti laku keras ya, ups…. Apalagi biasanya calon pembeli selalu mencari yang tidak diiklankan, aneh-aneh saja. Sudah diberitahu kalau tidak ada, malah nekat tanya lagi…whewww… sebenarnya dari sini akhirnya memutuskan bahwa tampaknya saya kurang cocok untuk berjualan online, karena stok “sabar”nya tipis, hehehe. Saya jadi membayangkan orang-orang yang sudah lama berkecimpung atau mereka yang bisnisnya sudah lancar di online. Pingin juga seperti mereka, ntar deh insyaAllah.

Yap demikian saja sedikit sekali cerita yang bisa saya bagi. Semoga usaha kita semua diberikan kelancaran oleh Allah SWT, aamiin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s