Saya dan kalian = end


Tempat baru selalu membuat kita memiliki harapan baru, tentunya harapan tentang kondisi yang lebih baik. Tapi bagaimana bila yang terjadi adalah sebaliknya ? Ya, kita tidak pernah tahu sebelum mencobanya kan ?

Beberapa saat yang lalu saya mengalami sebuah peristiwa tidak mengenakkan dengan beberapa orang teman sekantor, yang efeknya, saya menjadi bahan tertawaan orang-orang sekantor. Seharusnya sih cuek saja, tapi kali ini bagi saya sangat menyinggung privasi sehingga saya merasa tertawaan mereka tidak lucu dan membuat saya sangat marah. Daripada saya ngomong yang tidak-tidak, saya langsung saja menuju ke mushola untuk menenangkan diri. Perasaannya mirip ketika dulu jaman masih SD, teman-teman saya mengolok-olok nama bapak saya. Bedanya kali ini, yang mengolok-olok bapak saya adalah teman baik saya … Merasa seperti itu, agak lebay sih, tapi ya begitulah.

Setelah sholat magrib, hampir semua yang tertawa tadi sudah pulang. Tanpa pikir panjang, saya segera mengemasi perlengkapan kantor saya dan pindah meja ke tempat saya semula (sebelum pindah ke meja cluster milik tetangga). Sebenarnya beberapa minggu setelah pindah meja baru tersebut muncul keinginan untuk pindah ke meja asal karena tidak kerasan. Awalnya saya pikir hanya saya yang kurang bisa menyesuaikan diri, tetapi kenyataannya ada orang lain yang merasakan hal seperti saya (tahu setelah beliau sendiri yang curhat).

Meja depan saya adalah seorang ibu dan sebelah saya adalah (selalu) senior favorit saya Mr.Gixz. Ibu di depan saya ini selalu melirik, setengah menoleh ke arah saya ketika berbisik-bisik dengan temannya (hey if that is a secret why don’t you talk to another place??? Rather than intimidating someone else with your strange look on your face). Alasan beliau was-was adalah karena suatu ketika saya pernah mendengar pembicaraannya dengan ibu-ibu yang lain ketika mereka berbincang di depan saya — tanpa saya harus susah payah berusaha mendengarkan (artinya suara mereka cukup keras untuk didengar). Jadi merasa nggak enak karena dianggap penguping (karena pernah dijudge demikian). Dan pernah saya sangka bahwa ibu-ibu suka diskon-an, tapi ternyata membuat saya tertimpa ‘musibah’. Saya membeli sebuah dompet kulit imitasi merk singapura dengan harga cukup murah karena diskon 50%. Bukannya terimakasih karena diberi info, tapi malah disangka sok…hedeh… Nyesel deh dah kasih info… Blukuthuk blukuthuk…

Memuncak sudah isi ‘warehouse 13’ (saya menyebut ruang penyimpanan uneg-uneg saya dengan warehouse 13, seperti judul miniseri). Tanpa pikir panjang lagi… Marilah kita akhiri keanehan ini dengan pindah lingkungan.

Sebenarnya peristiwa ini mirip peristiwa hijrah Rasulullah ke Madinah. Haha versi saya memirip-miripkan. Sebenarnya saya masih agak bingung bagaimana sikap yang seharusnya diambil, apakah tetap bertahan pada lingkungan tersebut ataukah meninggalkannya. Tetap ada disana artinya bermuka dua dengan berpura-pura tidak ada apa-apa atau membicarakan uneg-uneg dengan mereka. Saya agak susah untuk berkomunikasi dengan mereka karena barrier senioritas. Sedangkan memutuskan pindah artinya menyampaikan sesuatu secara implisit, yaitu “kalian dan saya end”. Yah paling tidak sedikit shock therapy buat mereka, bahwa tidak selamanya tindakan ‘abuse’ mereka itu lucu. Tidak juga bahwa mereka adalah manusia yang tidak pernah salah. Katakanlah saya kekanak-kanakan, tapi membuat orang lain marah tanpa meminta maaf adalah lebih buruk dari kekanak-kanakan.

Dari situ saya menyadari bahwa gurauan atau omongan tidak enak (tanpa bergurau) yang kita lontarkan pada orang lain bisa jadi membuat seseorang sangat tidak nyaman. Kita tidak pernah tahu kapan kita akan melanggar privasi mereka ketika kita lancang mengumbar aib atau praduga kita tentang mereka sebagai gurauan diantara teman-teman kita. Jadi lebih berhati-hati dengan perkataan dan sikap mulai saat ini. Mulai saat ini hanya akan menjalani kehidupan profesional dan hanya akan berteman dengan sangat sopan dan ramah dengan semua orang. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita, aamiin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s