Insiden naik motor with friends


Ini kedua kalinya saya mengalami insiden ketika naik motor dengan teman. Dan tentu saja, semua akan menjadi kehebohan tersendiri. Ketika saya keluar bersama teman perempuan, kami selalu memakai 1 motor saja berboncengan. Biasanya saya selalu yang dibonceng (mempertimbangkan aspek berat badan dan cara saya menyetir motor yang dinilai lelet).

Insiden pertama adalah ketika saya ketinggalan di depan WTC. Awalnya teman saya yang super heboh ini mengeluh berat sepeda motornya ketika melewati portal pengecekan kartu parkir (matic mode on). Akhirnya saya turun dari motor. Eeee nggak tahunya setelah kartu parkir diperiksa petugas, dianya ngacir aja ninggalin saya. Padahal sudah saya panggil-panggil, tetap nggak merasa. Akhirnya setelah beberapa ratus meter dia baru curiga kalau ‘bawaan’nya ketinggalan karena beberapa kali dia ngomong dan tidak ada yang menyahut.

Hari ini terjadi insiden lagi dengan teman yang lain. Teman saya ini memang dari awal menawarkan untuk membonceng karena merasa berat badannya jauh melebihi saya. Tetapi saya niat mau mencoba dulu lah, soalnya saya yang ngajak keluar. Alhasil ketika selesai mengisi bensin dan hendak melewati jalan turunan menuju jalan utama, motor oleng dan teman saya ini langsung melorot ke depan. Motor sudah dalam posisi miring dan saya merasa kehilangan kendali, rasanya sedikit lagi akan jatuh. Dengan heboh saya berusaha turun dari motor (dengan teriak-teriak heboh sendiri) dan menyerahkan kemudi ke teman saya. Untungnya teman saya cukup tenang dan segera menghandle motor (untunglah dia lebih tinggi dari saya, sehingga kakinya langsung nyampe tanah, hehe).

Tapi tunggu, cerita belum selesai. Ketika dibonceng dua orang temen saya ini, dalam hati saya tidak lupa selalu istighfar karena merasa nyawa saya terancam. Dua teman saya ini adalah biker yang TOP, TOP cueknya, TOP ngebutnya, TOP nyelap-nyelipnya. Maklum, saya kan masih single, kata orang-orang belum ngerti nikmatnya dunia, wehehehe. Jadi saya harus kembali dengan selamat. Bahkan ketika pertama kali dibonceng biker macam mereka ini, saya sempat teriak-teriak, entah nyuruh pelan, nyuruh hati-hati, bahkan pernah juga saya ketok helmnya.

Bagi para pengguna jalan yang beberapa kali saya lewati dengan teman-teman saya ini, mohon dimaafkan ya kalau ada yang tidak berkenan.

Drive save. Drive with manner.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s