Kondangan ke Pekalongan


Waktu yang ditempuh ternyata jauh lebih lama daripada ke jogja. Kota di Jawa tengah yang sudah pernah saya kunjungi memang hanya jogja…hahaha, itupun menurut saya sudah lama sekali waktu tempuhnya. Ternyata ada yang lebih jauh dari jogja… (pemikiran polos).

Pertama kali mendengar teman saya akan pergi ke kota ini, saya langsung menyatakan ikut kesana walaupun saya belum tahu letaknya disebelah mana dan disana mau apa. Yang saya tahu, teman saya akan menghadiri pernikahan salah seorang teman baiknya. Setelah tiket dipesan barulah saya tahu kalau letaknya begitu jauh, karena perjalanannya sekitar 6 jam dengan kereta. Untunglah kereta berangkat dan pulangnya nyampainya di stasiun pasar turi. Jadi saya tidak perlu keluar ongkos transport lagi karena jarak yang sangat dekat antara stasiun dan rumah saya.

Well, inilah perjalanan perdana saya ke pekalongan.

me @alun-alun pekalongan
me @alun-alun pekalongan

Di pekalongan, kami mendapatkan hotel yang cukup baik dengan letak yang strategis, yaitu di depan stasiun pekalongan. Namanya hotel syariah. Terimakasih pada teman saya yang cukup sabar dalam mencari informasi akomodasi (jadwal kereta dan hotel). Hotel syariah ini memiliki rate mulai 190.000 – 220.000. Kamarnya cukup besar dan bersih, dilengkapi televisi siaran nasional, lemari cukup lega untuk 2 orang, dan kamar mandi yang bersih (tanpa air panas). Oya ditambah AC dan gratis sarapan pagi.
Transportasi di pekalongan juga cukup murah, tarif angkot yaitu sekitar 2000 saja per-orang. Sedangkan tarif becak lebih murah dari Surabaya.

Becak pekalongan
Becak pekalongan

Transportasi umum ke semua jurusan seperti taxi jarang ditemukan disini, karena memang naik becak dan angkot saja sudah cukup murah dan nyaman kecuali kalau sudah malam hari. Beda kondisi jalan raya di Surabaya dan Pekalongan adalah, jika di Surabaya wilayah dalam kota hanya diisi oleh kendaraan-kendaraan penduduk saja sedangkan untuk kendaraan-kendaraan kelas berat melewati jalan antar provinsi, jalan tol atau jalan khusus antar kota. Tetapi di Pekalongan kondisinya sungguh mengerikan, yaitu jalan raya dalam kota campur dengan kendaraan-kendaraan kelas berat, yaitu truk-truk besar dengan plat kendaraan yang bermacam-macam dan bus-bus antar kota…that’s scary enough for me. Bahkan kata teman kami yang menemani selama kami disana, selama musim mudik yaitu menjelang idul fitri, kondisi dalam kota selalu macet parah penuh dengan pemudik. Tapi kondisi hari-hari biasa sebenarnya kota ini cukup tenang (jika tanpa kendaraan-kendaraan trayek antar kota yang besar-besar dan super cepat ‘berkeliaran’ di dalam kota). Pengalaman yang lucu selama di Pekalongan adalah ketika naik becak. Becak di pekalongan memiliki tambahan lengkungan besi di depan, awalnya kami mengira itu hanya untuk hiasan saja, tetapi ternyata ada fungsinya yaitu untuk menarik becak ketika jalanan menanjak, hohoho.

Kota Pekalongan adalah kota kecil yang cukup menarik, fasilitas umum cukup lengkap, kaya akan variasi kuliner dan bangunan-bangunan yang masih asli tempo doeloe. Orang-orangnya pun cukup ramah. Saya sudah merasa cocok dengan ciri khas kulinernya, terutama sambelnya (yang saya lupa menanyakan apa namanya). Selain itu harga makanan disini juga cukup membuat kantong saya bernapas lega, beda jauh dengan di Surabaya. Bagi Anda pecinta batik, daerah ini merupakan surga batik. Jenis batik yang beraneka macam dan murah, karena Anda bisa langsung membelinya dari rumah sang pembuat dan penjual tangan pertama. Bravo! Saya cocok dengan batik yang ada di kawasan kampung Arab. Saya dan teman saya sampai mencatat nomor telepon para penjual disana. Buruan deh kesini buat beli baju. Bagi yang suka pantai, disini juga ada pantai yang cukup bersih. Lumayan enak dibuat bersantai. Beruntungnya saya dan teman saya karena tuan rumah sangat baik dan guide kami yang bersedia meminjamkan sepeda motor dan dipandu berkeliling kota.

batik pekalongan
batik pekalongan

Salah satu hal yang cukup membuat repot teman saya adalah keinginan saya untuk incip Garang Asam dan saya bersikeras tidak akan pulang sebelum mencobanya. Eh ternyata rasanya mirip rawon, hanya encer dan memang ada campuran rasa kecut (katanya dari unsur bahan tomat).

soto tauto di alun-alun
soto tauto di alun-alun

Akhirnya setelah lama berkutat dengan makanan khas pekalongan, yaitu nasi megono, soto tauto dan Garang asam.

nasi megono
nasi megono
nasi arab di kondangan
nasi arab di kondangan

Hari terakhir di Pekalongan ditutup dengan makan-makan gratis di kondangan berupa makanan khas arab dan malam harinya berupa lele goreng+sambel Pekalongan yang uenakkk gak kalah dengan buatan ibu saya.

Terimakasih buat sahabat saya Lussy, mbak Ifa (si Pengantin) dan mbak Ira (guide kami selama di Pekalongan). Semoga kelak Allah mempertemukan kita kembali dalam pertemuan yang menyenangkan, terutama pertemuan yang tiada bandingnya di surgaNya, aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s