Melihat ke atas dan ke bawah bersamaan


Another post from my last trip to jakarta. Biasanya saya nggak pernah nulis sesuatu di blog tentang trip ke jakarta, selama 4 tahun ini. Tapi trip ke jakarta kali ini spesial, karena inilah pertama kalinya saya naik busway…horeee… Biasanya suka naik taxi kemana-mana karena takut tersesat.

Kakak kelas, kenalan, mantan teman kuliah, teman SMA, teman kuliah, teman kantor banyak tak terhitung yang sudah berkarya di jakarta. Sebagian besarnya saya kenal baik. Setiap ke jakarta jadi bingung, akan mengunjungi siapa. Bingung karena tidak ada kendaraan pribadi, malas naik transportasi umum karena takut tersesat, dan bingung lagi karena jarak tempat tinggal mereka yang jauh dari jakarta pusat tempat saya menginap. Kali ini terlaksana juga mengunjungi kakak kelas SMA yang bertempat tinggal di bintaro. Perjalanan kesana seakan menuju ke negara antah berantah….jauuuhhh…. Sebelumnya tidak pernah menduga bahwa perjalanan dari jakarta pusat ke bintaro memakan waktu 1 jam. Karena sudah terlalu malam ketika tiba di bintaro, akhirnya saya putuskan menginap. Karena besok pagi saya harus berangkat training jam 9, saya terpaksa harus kembali ke jakarta pusat sendirian dengan naik angkutan umum. Dan inilah pengalaman perdana naik trans bintaro dan busway dari ratu plaza ke sarinah.

Ternyata busway ini sebenarnya memudahkan hidup orang jakarta. Karena waktu tempuhnya relatif cepat dan ada petunjuk tulisan terminal dan arahnya, sehingga penumpang tidak tersesat. Mirip dengan subway dan bus di singapura. Kesan pertama, saya senang naik busway. Saya tidak mempermasalahkan walau tidak dapat tempat duduk, karena busway ini ber-AC dan bebas macet. Jika ingin mengurangi kemacetan, saya rasa transportasi semacam busway atau subway memang patut dikembangkan seperti halnya di Singapura.

Hal yang paling berkesan ketika naik busway adalah, jembatannya yang super panjang, orang-orang yang tertib mengantri, gedung-gedung tinggi yang bisa dilihat jelas dari jembatan penyeberangan, serta para pengemis dan penjual barang-barang di sekitar jembatan.
Malam terakhir saya naik busway, saya surprise melihat beberapa pengemis cilik tertidur di jembatan. Tentu saja mereka seharusnya sudah berada di tempat tidur paling tidak jam 20.00. Tapi sekarang mereka sedang menunggui gelas plastik kosong di depannya sambil tertidur, dengan kaki dan tangan penuh koreng…ckckck…ini pemandangan di jembatan menuju halte busway sarinah. This is in the middle of the city, the heart of this city, hello??? Yuhuuu??? Any government’s staff home???

Ketika sampai di halte bunderan HI, wow, disana sudah terlihat berdiri megah Hotel Indonesia dan Plaza Indonesia. Well, sedangkan saya masih di jembatan dan masih kepikiran dengan para pengemis kecil tadi. Berkali-kali saya tidak habis pikir dengan ‘fenomena’ ini dan isi UUD 1945 “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara negara”. Oke, katakanlah saya terlalu sentimentil, tapi siapa yang tidak? Melihat anak 4 tahun yang seumuran keponakan saya yang sedang ceria-cerianya dan mencuri perhatian orang-orang disekitarnya dengan kelucuannya, harus merasakan beban hidup sedemikian rupa.

Ironis melihat gedung-gedung tinggi, hotel mewah bintang 5, dan pengemis cilik yang kelelahan hingga tertidur di jembatan. Semua pemandangan ini jadi satu dan bisa ditemukan di pusat kota Jakarta. Ya Allah Tuhanku, ampunilah kami. Ampunilah bangsa ini. Tunjukilah kami jalan dan hidayah agar kami tidak menghancurkan bangsa kami sendiri. Aamiin.


2 thoughts on “Melihat ke atas dan ke bawah bersamaan

  1. ……..anak sekecil itu berkelahi dengan waktu.
    Sepintas memang terlihat ada ketidak adilan. Disatu tempat orang bisa habisin sejuta dalam sehari tapi di tempat lain nyari duit sepuluh ribu susahnya setengah mati. Tapi itulah kenyataan, itulah ladang bagi yang mampu untuk berbagi pada sesama. Kalau kaya semua ? mirip cerita di jaman Rosul tentang orang yang melakukan jima’ di bulan Romadhon. Dia membayar hukuman dengan bersedekah buat dirinya sendiri.
    Jakarta ? cuma sekali kesana pas nonton bola.

    1. Lha itu dia pak, jaman rasul sudah dibuktikan bisa. Hmmm ya banyak dari kita pasti akan bilang “itu kan jaman rasul”. Sebuah jaman yang kita bilang katrok karena belum kenal handphone😀.
      Salam kenal ya pak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s