Liqo Motivasi


“Asslm wr.wb. insyaAllah pertemuan seperti biasa di musholla jam 11.30, ditunggu konf-nya.” Begitulah sms dari MR baru saya pagi hari ini. Hari ini memang jadwal rutin liqo dengan kelompok baru, yang saya baru bergabung didalamnya selama 3 minggu ini.

…..

Sampailah di musholla yang disepakati.

Eh… lho kok masih sepi, Cuma ada seorang ummahat seumuran MR saya tetapi MR saya kok tidak ada?? Ooo ternyata beliau pengganti MR saya yang sedang berhalangan hadir karena harus menyelesaikan report. Saya maklum saja, di lembaga pemerintah ini sedang gencar-gencarnya reformasi. Minggu lalu liqo juga ditiadakan karena beliau sedang dipanggil atasan dari atasan, halah J

 

Enaknya dengan MR pengganti adalah, kita tidak harus saklek dengan materi yang jadwalnya memang harus dibahas waktu itu. Ibu ini ternyata suka hafalan quran dan suka membaca seperti saya. TOSS dulu dong bu, hohoho.

 

Obrolan tadi siang paling berkesan ketika mbak MR menyuplik kata-kata ustadzah Yoyoh Yusroh (semoga Allah SWT meridhoi beliau, aamiin), yaitu “kita harus selalu on mission, jangan sampai off mission”. Misi kita apa? Jelas jannah. Jadi apapun yang kita lakukan memang harus selalu on track, ingatlah misi utama kita yaitu ke surga. Setiap orang pasti memiliki cara tersendiri untuk menjaga agar keseluruhan hidupnya tetap berada pada rel visi misinya. Sesuatu yang menyemangati kita untuk memperoleh tempat tertinggi di surga. Mbak MR mencontohkan beliau sendiri yang termotivasi oleh anak keduanya telah lebih dahulu meninggal dunia. Anaknya yang telah meninggal sudah terlebih dahulu berada di surga (karena meninggal ketika masih kecil), sedangkan beliau sendiri merasa belum tentu akan masuk surga. Karena itulah, motivasi menyusul anaknya ke surga selalu beliau kampayekan dalam dirinya.

 

Berlanjut tentang ustadzah Yoyoh, beliau bukan hanya sosok yang pandai berteori. Beliau sudah lebih tatarannya dari sekedar berteori, subhanallah. Tersebutlah cerita (kalau tidak salah ada di buku beliau) bahwa suatu hari beliau sedang berkunjung ke rumah seorang akhwat. Akhwat tersebut dalam keadaan baru melahirkan dan proses menyusun thesis. Seharusnya jadwalnya melahirkan adalah setelah sidang thesis, tetapi Allah berkehendak lain sehingga jadwal kelahiran anaknya maju menjadi sebelum sidang. Ketika berkunjung beliau ijin ke kamar mandi. Lama sekali beliau berada dalam kamar mandi. Sudah lama ditunggu beliau tidak keluar juga. Ternyata di dalam kamar mandi beliau mencucikan popok bayi akhwat tersebut. Subhanallah. Mungkin beliau merasa iba melihat kondisi akhwat tersebut yang keteteran karena kelahiran anaknya tidak diduga akan maju.

 

Ketika melihat contoh perilaku ustadzah Yoyoh yang sedemikian, mungkin akan terbersit lintasan pikiran bahwa sesuatu itu susah untuk kita lakukan. Tetapi sesuatu yang terpikir susah itu bukan berarti tidak mungkin. Saya rasa selama ini yang membatasi manusia adalah kemauan dan keinginan. Ada yang ingin tapi tidak mau. Tapi ada yang memang sudah tidak ingin.

 

Tadi ketika cek seberapa banyak hafalan, maka rata-rata jawabannya sama yaitu susah murojaah. Dan terkadang karena ditelan kesibukan, hafalan tidak bertambah, stagnan. Katanya, hafalan yang hilang akan menuntut pertanggungjawaban dihadapan Allah SWT. Begitupun saat terakhir kita, dilihat dari seberapa banyak hafalan kita, sampai dibagian hafalan mana ketika kita meninggal (saya kurang mengerti maksudnya, lain kali akan saya tanyakan).

 

Yang pasti, gara-gara obrolan liqo tadi, saya jadi terinspirasi untuk membuat proker keimanan. Proker ini kurang lebih isinya hampir sama dengan isi KRS mahasiswa selama 1 semester. Misalnya buku apa saja yang harus dibaca, tafsir yang harus ditadabburi, berapa hafalan Al-Quran, dsb. Dalam 1 semester tersebut target yang  telah dibuat harus dipenuhi, no matter what. Dengan demikian, tidak ada lagi namanya menyia-nyiakan waktu percuma. Tampaknya sistem perkuliahan memang efektif ditiru agar bisa memenuhi target. Masa’ target untuk kehidupan dunia saja, kita bersedia bersusah payah untuk mencapainya sedangkan untuk akhirat tidak mau susah? Atau bahkan tidak memiliki target amalan untuk meraihnya…. Semoga tidak seperti itu. Setiap semester sebisa mungkin lulus dalam setiap SKS (bukan system kebut semalam ya…hehe) yang telah dicanangkan. No matter what!

 

Selalu on mission, itulah yang harus diingat. Menemukan sumbu semangat, itu yang harus segera dicari, apapun bisa jadi sumbu semangat. Ibarat device handphone yang perlu direcharge baterainya, semangat juga perlu dirawat. Saya mencoba istiqomah merawatnya setiap minggu. Semingu mencoba sebisa mungkin beberapa kali merecharge semangat dan menambah ilmu. Yang lain bisa, mengapa saya tidak?

 

Waktu kejadian :

21 Oktober 2011

 

Vocabulary :

MR = singkatan dari murrobbi.

Murobbi adalah orang yang melaksanakan proses tarbiah  morabbi, dengan fokus kerjanya pada pembentukam pribadi muslim solih muslih ,yang memperhatikan aspek pemeliharaan [ar-ria’yah], pengembangan [at-tanmiah] dan pengarahan [at-taujih] serta pemberdayaan [at-tauzhif] — http://haroqi.multiply.com/journal/item/40?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

Ummahat = sebutan untuk kaum ibu

Liqo = isinya bisa saja bukan merupakan kajian ilmiyah, tetapi bisa diisi dengan rapat, pertemuan, musyawarah dan seterusnya.

Ahwat = sebutan untuk kaum perempuan

Yoyoh yusroh = anggota dewan dari FPKS

Jannah = surga

KRS =  kartu rencana studi

SKS = system kredit semester

 


One thought on “Liqo Motivasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s