It’s in my gene


Sepertinya dalam kepala saya terus terngiang kalimat “it’s in your gene”. Ini pasti efek habis nonton x-men kemarin. All ability that we have, it is in our gene. But we don’t have to be a mutant (bacanya myu(t)’en, suka banget waktu mystique bilang myu(t)’en). We don’t need to have a genetic mutation to save our world, am i right? (i hope not letf). And for now, i think we’re not under extinction.

Agak menyesal setelah nonton film ini, karena tidak ada logisnya sama sekali. Bahkan saya sangat tidak menyarankan untuk ditonton oleh anak-anak (pembodohan terang-terangan). Walaupun orang menonton film just for fun, menonton film ini sama saja seperti mengatakan dulunya manusia itu berasal dari monyet. That’s crab! But that night is very inspiring karena teman-teman saya benar-benar penuh dengan ide dan gagasan. Makanya tidak pernah rugi hang out sama mereka. Bahkan batuk dan pilek saya yang sudah 2 minggu ini tidak ada perkembangan kesembuhan berarti, setelah itu menjadi jauh lebih baik. Alhamdulillah sekarang sudah hampir sembuh.

But yes it’s in his gene, charles xavier is smart and he is also a mutant. Dalam cerita x-men, charles kecil bertemu dengan raven kecil, ketika raven hendak mencuri makanan di rumah charles. Dari pertemuan itu, mereka sama-sama tahu bahwa mereka bukan satu-satunya manusia mutan. Charles kemudian mengijinkan raven tinggal bersamanya dalam rumahnya (atau kastilnya ya?). Prinsip charles adalah mutan harus berbaur dalam masyarakat seperti manusia normal pada umumnya. Sehingga raven yang aslinya berkulit biru harus menyamarkan/menyembunyikan jati dirinya menjadi berkulit seperti manusia lainnya. Suatu hari datanglah magneto (erik) yang berprinsip bahwa mutan tidak perlu menyembunyikan jati diri mereka, tidak peduli sejelek apapun penampilan fisik mereka dihadapan manusia non mutan. Berbeda itu sah-sah saja, someone don’t need to hide just because they are different. Saya ingat kata-kata raven kepada Dr Henry (beast) bahwa “kau sudah sempurna seperti apa adanya dirimu saat ini”. Tetapi kemudian henry berkata bahwa dia menyukai raven jika berwujud seperti manusia normal pada umumnya. Pernyataan ini yang membuat raven (mystique) bersedih.

Dalam hal penampilan memang kita tidak bisa dan tidak boleh mengubahnya (menurut yang saya pahami, kalau mengubah-ubah namanya tidak bersyukur dengan pemberian Tuhan, tidak berterimakasih). Tetapi dari sisi inner (software), kita bisa benar-benar meng-upgrade (bagi yang mau), dalam hal yang paling bisa dirasakan orang lain adalah kepribadian. Sepandai-pandainya seseorang, sebagus apapun penampilan fisiknya, jika kepribadian dia tidak menyenangkan maka tidak akan diterima masyarakat. Dan sebaliknya. Diterima oleh masyarakat bukan berarti harus sama ‘bejat’nya ketika lingkungan kita ‘bejat’. Berbaur seperti nilai-nilai kebaikan yang kita pegang, tetapi tidak lebur. Tidak seperti oat yang berubah jadi bubur ketika dicampur dengan air, tetapi seperti beras yang walaupun sudah berubah jadi nasi yang lembek, tetapi tetap menunjukkan butir-butirnya sebagai masing-masing individu butir beras (hahaha istilah apalagi ini, individu butir beras emang ada?). Kecuali setelah melalui proses yang lama, dengan kuantitas air yang banyak, beras akan menyerah juga berubah bentuk menjadi bubur.

Dari ilmu genetika, kemudian berkembang menjadi ilmu psikologi tentang kepribadian manusia. Simpulan yang didapat adalah kepribadian seseorang dipengaruhi genetika dan lingkungan/kultur, cek dis out http://id.wikipedia.org/wiki/Kepribadian.

Faktor genetik

Kepribadian dari seorang kembar identik yang dibesarkan di keluarga yang berbeda ternyata lebih mirip dengan pasangan kembarnya dibandingkan kepribadian seorang kembar identik dengan saudara-saudara kandungnya yang dibesarkan bersama-sama. Disini menunjukkan pengaruh yang sedikit sekali dari lingkungan terhadap kepribadian.

Faktor lingkungan

Misalnya, orang-orang Amerika Utara memiliki semangat ketekunan, keberhasilan, kompetisi, kebebasan yang terus tertanam dalam diri mereka melalui buku, sistem sekolah, keluarga, dan teman, sehingga orang-orang tersebut cenderung ambisius dan agresif bila dibandingkan dengan individu yang dibesarkan dalam budaya yang menekankan hidup bersama individu lain, kerja sama, serta memprioritaskan keluarga daripada pekerjaan dan karier.

Tetapi kembali lagi ke masing-masing pribadi manusia, mana hal paling dominan yang kuat dalam diri mereka tentunya itu yang akan berpengaruh. Misal, pada dasarnya saya ini suka ngobrol dan berkumpul/bersosialisasi dengan orang lain, it’s in my gene. Tetapi setelah kuliah, kecenderungan saya berubah menjadi tidak suka dengan kumpulan banyak orang (termasuk di acara hajatan, pernikahan, dan semacamnya) dan lebih suka berinteraksi lewat tekstual.

Seperti raven, siapapun akan berada pada lingkungan yang membuat mereka nyaman. Tapi apakah kita akan meninggalkan rumah hanya karena ibu/pasangan kita mengomel setiap hari karena kita tidak pernah rapi? atau ketika mereka komplain bahwa kita harus mengubah pemilihan kata-kata yang kita ucapkan menjadi lebih halus? Walaupun kita bisa berkata “hey it’s in my gene, i don’t wanna change it!”, adaptasi juga diperlukan jika memang itu membawa kebaikan. Dan sebaliknya, ketika suatu saat lingkungan kita perlahan-lahan menyeret kita kepada jurang keburukan atau sudah berbeda prinsip, rasanya pergi dari sana adalah solusi terbaik.

Kita sempurna seperti apa adanya diri kita saat ini.
Kita tidak perlu mengubah apapun yang telah Tuhan berikan.
Kita juga tidak perlu mengikuti pemikiran orang lain, meng-iya-kan apa yang mereka katakan, mengubah cara berbicara, mengubah penampilan, hanya untuk diterima dalam sebuah komunitas.
Kita hanya perlu untuk tidak mengubah apapun yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Dan pemberian paling spesialNya-lah yang akan menuntun kita ke jalan yang benar selama dia tidak dirubah, yaitu fitrah di jiwamu, di kalbumu. Pemberian spesial itu yang akan menuntun arah, akan kemana kita, bagaimana kita berbicara, bagaimana kepribadian kita, bagaimana kita bertingkah laku, pemikiran mana yang akan kita terima, dll. Segala sifat dalam gen saya seyogyanya selaras dan tunduk pada fitrah.

*Pingin juga jadi professor bidang genetika seperti professor X. Jadi keinget, dulu waktu SMA sempat bercita-cita ingin mendalami bidang genetika (lha kok kuliahnya di informatika siiihhh???). Karena kuliahnya sudah terlanjur di engineering, riset tentang genetic engineering pasti akan menyenangkan (menyenangkan pusingnya, tapi keren).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s