Setia pada harapan baik


Menurut saya, hanya mereka yang setia kepada harapannya yang akan memiliki semangat, mampu membuahkan tekad dan mewujudkan gerak langkah. Kesetiaan kepada harapan, ya hanya itu yang dibutuhkan.

Harapan itu ibarat tanaman yang harus dirawat. Tentu saja, tidak semua orang memilih untuk merawat tanamannya. Mungkin ada yang merasa terlalu berat merawat tanamannya sehingga dia tinggalkan. Seiring waktu berlalu, ada yang tidak ingat dengan harapan-harapannya, ada yang tergoda kesenangan lain yang ‘menawarkan diri’nya. Beberapa yang lain, ada yang menjadikan harapan itu motivasi setiap gerak langkah yang dilakukan, no matter what. Entah mereka senang atau tidak dengan prosesnya.

 

Dengan berbekal harapan, seseorang bisa hebat

Dulu, semasa kecil kita mau melakukan apa saja kita inginkan, mencoba apa saja hal yang menarik apapun resikonya, karena kita memang tidak peduli. Disaat yang sama, kita juga tetap melakukan hal-hal yang tidak kita sukai demi mencapai sesuatu. Kita, semasa kecil, senang untuk setia pada harapan, entah apapun konsekuensinya, entah bagaimanapun prosesnya.

Masih ingatkah ketika kita masih kecil ? Di sekolah diajarkan membaca, menghafal pelajaran, bahkan melakukan hal-hal yang lebih banyak tidak kita sukai. Kita juga dilarang begini, begitu, dan banyak hal yang ingin kita lakukan tetapi dilarang. Dan saat yang paling indah di sekolah adalah waktu istirahat, jam pelajaran kosong, dan saat pulang sekolah. Tapi kita tetap bersekolah, apapun yang terjadi. Hingga akhirnya, pada beberapa orang, malah menjadi ‘kecanduan’ untuk sekolah. Atau bagi mereka yang kurang beruntung, mengusahakan bagaimana untuk tetap bisa bersekolah.

Bagi sebagian orang, sekolah adalah penjara. Tapi bagi sebagian yang lain, sekolah adalah waktu bermain dengan cara yang agak lain. Tetapi dibalik itu semua, terpaksa atau tidak, tersimpan harapan dari seorang anak-anak polos. Harapan untuk menjadi seseorang dewasa, berprofesi yang mereka idamkan, di kemudian hari. Seseorang yang bermanfaat bagi sesama, memberi kebanggan kepada orang tua dan keluarga, teman, bahkan untuk negaranya. Atau mungkin hanya untuk dikenal sebagai orang hebat, bisa melakukan apapun yang dia inginkan, dsb.

Kita juga senang belajar bersepeda, walau harus jatuh bangun berkali-kali. Tekadang belajar memanjat pohon walau harus tergores ranting-ranting tajam. Siapa juga yang akan menyangka bahwa seorang penderita polio bisa menjadi presiden. Seorang anak petani bisa menjadi presiden.

Dan tahu-tahu, kini kita sudah bisa bersepeda, bisa memanjat pohon, dan sudah berprestasi melebihi ekspektasi kita. Walau pada awalnya kita tidak pernah tahu apakah kita bisa mewujudkan harapan-harapan kita. Waktu itu, kita hanya menguatkan diri untuk setia pada harapan. No matter what, the show must go on, walau harus berdarah-darah atau berderai air mata. Begitupun dengan seorang penderita polio dan anak petani tersebut.

 

Harapan juga bisa membuat orang berkeping-keping

Takdir itu punya penguasa. Manusia punya harapan, semangat dan usaha. Ada kalanya kita harus tunduk pada keputusan “penguasa takdir” yaitu Allah SWT. Inilah yang sulit untuk disiapkan, prepare for worst case. Ada sebuah kisah seseorang (wanita) dalam masalah asmara. Dia telah ditinggalkan oleh orang yang dia cintai. Selama mereka putus komunikasi, si wanita tetap menaruh harapan bahwa suatu saat si lelaki akan kembali untuknya. Walau secara logika hal tersebut sulit sekali terwujud. Hingga suatu hari, terdengar kabar bahwa lelaki tersebut akan menikah dengan wanita lain. Mulai saat itu, si wanita diliputi kesedihan yang dalam. Ternyata, alasan si wanita tetap memelihara harapannya adalah karena selama itu si lelaki belum menikah dengan wanita lain. Seharusnya dia sudah bisa mengenali bahwa tanaman cintanya/harapannya sudah mati sejak lama. Sehingga dia tidak perlu jatuh ke dalam kesedihan yang lebih dalam dengan memelihara harapan palsu, dan bisa segera merawat tanaman cinta/harapan yang baru.

Kita harus kenal tanaman seperti apa yang sedang kita pelihara. Apakah tanaman yang baik dan membuahkan hasil, atau tanaman yang membawa keburukan. Dan tanaman apapun yang kita pelihara, kita harus bersiap kalau di suatu hari tanaman kita tiba-tiba mati. Artinya harapan tersebut sudah tertutup untuk diwujudkan menjadi kenyataan.

Tidak bisa disalahkan, jika seseorang memiliki harapan, setidakmungkin apapun itu. Karena selama masih ada ruang yang memungkinkan untuk tumbuh, bahkan harapan palsu-pun akan tumbuh dengan subur. Dan setiap harapan akan menunjukkan jalan takdirnya, akan menunjukkan hikmahnya bagi pemiliknya.

 

“Though hope is frail, it’s hard to kill

Who knows what miracle you can achieve,

When you believe,

somehow you will,

You will when you believe”

(whitney houston – mariah carey)

 

Setia saja pada harapan, berlaku sebaik-baiknya dengan tekad kesetiaan itu. Ikhlaskan semua jalan takdirnya. Lalu lihatlah apa yang terjadi (Mario Teguh bangetsss, love you sir). Faidza ‘azamta fatawakkal ‘alallah

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s