sholat sabet


Sudah pernah dengar yang namanya sholat sabet? hehehe. Saya juga baru dengar istilah ini belum lama. Pertama saya ngakak abis dengar istilah ini.

Tampaknya bukan hanya saya yang mengalami dilema ketika hendak sholat taraweh (kesannya serius beneran, pakai kata dilema :-D). Banyak juga yang bingung memilih masjid untuk sholat taraweh. Selalu ada 2 pilihan yang membingungkan. Masjid yang ini lebih dekat dari rumah, sholatnya 2x lipat lebih banyak jumlah rakaatnya tetapi hanya membutuhkan waktu setengah jam. Sedangkan masjid yang satunya jumlah rakaat sholatnya lebih sedikit, waktu yang dibutuhkan 2x lebih lama dari masjid satunya, tetapi sholatnya lebih tenang dan tidak perlu tergesa-gesa.

Btw, Apa itu sholat sabet? Kata teman saya habis salam langsung bet (langsung dilanjutkan dengan sholat berikutnya). Akhir-akhir ini saya sering ikut taraweh di masjid yang sholatnya sabet. Maklum karena seringnya pulang kantor mepet dengan waktu magrib, jadi taraweh dengan memilih lokasi masjid yang paling dekat dari rumah. Dan karena terbiasa sholat ala ‘the flash’, waktu nyoba sholat di masjid yang sholatnya ‘cool, calm, confidence’ jadinya lebih banyak ngelamunnya. Maklum, biasanya habis buka badan kerasa pingin nyium bantal dan kasur, apalagi kalau bukanya dengan nafsu balas dendam, hehehe.

Tapi sebenarnya kepikiran juga. Setelah beberapa kali sholat di masjid sholat sabet, terasa kurang sreg di hati. Bacaan qur’an imamnya terdengar dibaca (seakan-akan) hanya dengan sekali tarikan nafas (saya biasanya begitu kalau lagi terlalu bersemangat, entah dalam kondisi marah, panik atau yang lain). Bahkan saya tidak sempat menyempurnakan gerakan dan bacaan. Dalam hal ini jelas saya tidak tuma’ninah, padahal tuma’ninah merupakan salah satu aturan dalam sholat (apa ya istilahnya!??). Oya, yang jelas, nenek-nenek dan kakek-kakek tidak bakal mampu mengikuti ritme sabet-nya, lha saya sendiri saja sampai pusing o_O

Well, ibaratkan kita meniatkan bertemu dengan seseorang yang paling kita hormati. Kita bertemu karena ada hajat yang ingin kita sampaikan kepada beliau. Apakah pantas ketika bertemu, kita berbicara tergesa-gesa? Kita berbicara nyerocos saja tanpa jeda, I think that’s really inappropriate. Dan ketika sholat malah kita sedang menghadap Dzat yang paling mulia.

Untuk bahan renungan bersama…

Memang masih lebih baik sholat berjamaah di masjid daripada sendirian. Dan kata ustadz, sholat kita sendirian walaupun dilakukan 27 kali, tetap tidak akan bisa menggantikan keutamaan sholat berjamaah. Tapi bukankah kita senang kalau mencitrakan agama kita sebagai agama yang tahu ‘unggah-ungguh’ (sopan santun) kepada Tuhannya?

Wallahua’lam bisshowab


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s