Kapal yang bernama pernikahan


Suatu hari seorang teman bercerita tentang kondisi teman-teman di kantornya. Bla bla bla… Yang saya garisbawahi disini adalah beberapa ada yang selingkuh (katanya sudah jadi rahasia umum disana). Alhamdulillah kondisi yang jauh berbeda dari tempat kerja saya. Di tempat kerja saya sekarang, bapak-bapaknya selalu ingin pulang on time. Ada beberapa alasan mereka pulang on time, beberapa dari mereka bilang sudah kangen sama anaknya (lho, padahal kan sudah ketemu setiap hari), ada yang bilang segera membantu istrinya jaga anak-anak (apa nggak capek habis kerja?), dll. Begitu juga saya sangat surprise melihat ibu-ibu di bagian teknik (sebagian sama saya) yang ketika kerja malam, diantarkan dan ditunggui suaminya (bukannya ngelarang atau marah-marah). Yang saya tangkap, bapak-bapak disini tipe suami yang sayang keluarga, entah bagaimanapun kondisinya. Begitupun dengan ibu-ibu disini, mereka begitu menyayangi keluarganya bagaimanapun kondisinya.

Sering saya mendengar beberapa curhat mereka (dengan secara tanpa mereka sadari sudah curhat ke saya). Bagaimana permasalahan yang sedang mereka alami, kendala dan kesulitan yang sedang mereka rasakan. Saya memang tidak bisa memberikan solusi, tetapi saya mempunyai telinga dan kesediaan waktu untuk menampung keluh kesah mereka, sambil mengucapkan kata-kata favorit saya : “ooo gitu”, “hmmm”, “oalah”, “ya ya aku ngerti”…. Atau terkadang mereka hanya menceritakan bagaimana jadwal kegiatan rumah tangganya di rumah. Dari situ, saya belajar teori bagaimana seharusnya berkomunikasi dengan pasangan dan bagaimana saling support dalam semua situasi dan kondisi. Memang berat, ketika suatu saat kekuatan komitmen diuji. Diuji dengan kekurangan harta, kekurangan waktu, tentang anak-anak, bahkan kehadiran orang lain yang mewarnai rumah tangga entah itu orang tua, mertua, pembantu, teman lama, dll. Apalagi ketika suatu saat visi misi kita yang diuji. Dimana mulai munculnya perbedaan yang begitu mendasar tentang arah dalam menentukan perjalanan rumah tangga (mau dibawa kemana??—nyanyi–). Dari ujian-ujian itulah akan nampak kesungguhan seseorang. Apakah seseorang itu dulu menikah karena mengharapkan keamanan finansial, ingin mendapatkan pasangan yang cantik atau tampan, ingin mendapatkan pasangan yang berpendidikan tinggi, dsb. Justru niatan-niatan menyimpang itulah yang akan diuji dikemudian hari. Begitu menurut beberapa orang, dan memang sudah kejadian.

“Yah namanya juga rumah tangga, yang namanya permasalahan itu akan terus menerus ada, tidak akan pernah berhenti”, begitu kata beberapa teman saya yang umurnya tidak terpaut jauh. Lama-lama saya menjadi manusia yang “merasa pintar”, merasa banyak tahu resiko, karena saya sudah sering mendengar “sejuta kisah rumah tangga”. Dan saya merasa harus menghindari hal-hal tidak enak yang bernama resiko. Saya merasa berpindah dari kehidupan single kepada kehidupan rumah tangga adalah ibarat berpindah dari tepi pantai yang tenang untuk mengarungi laut badai yang mengerikan, penuh resiko. Walaupun seseorang selalu mengatakan kepada saya bahwa tidak sesulit yang saya bayangkan, tetap saja mengarungi laut badai itu merupakan hal yang mengerikan. Kecuali saya ketemu dengan Will Turner (salah satu karakter di pirate of caribbean), seorang lelaki bertanggung jawab yang sudah terlatih mengalahkan ganasnya lautan, bahkan berhadapan dengan kraken dan davy jones (sponge bob biasa menyebutnya dengan the flying dutchman).

Pernikahan itu sebuah ibadah yang bernilai pahala tinggi, mungkin karena memang di dalamnya terdapat banyak ujian. Kapten kapal tentu hanya manusia biasa, pasti ada kekurangan dan lalainya. Karena itu dia membutuhkan asisten yang handal (anggep manusia yang ada di kapal cuma ada 2). Dan ketika kapal itu tidak memiliki bangunan yang kokoh, maka bisa jadi ia tidak akan sanggup menghadapi ganasnya badai, bahkan kraken dan davy jones. Bisa-bisa yang terjadi adalah si kapten atau asisten kapten kapal malah menyelamatkan diri masing-masing dan membiarkan kapal karam. Wah tampaknya ke-sok tahu-an saya semakin menjadi-jadi nih.

Intinya adalah komunikasi, berbicara dari hati ke hati. Berkomunikasi dalam hal ini tidak hanya mengeluarkan apa yang ada di otak kita, tetapi menyediakan hati yang lapang untuk berbagi dan memahami. Curhatlah dengan pasangan Anda, karena dialah yang akan menemani perjalanan Anda mengarungi lautan badai. Sungguh tidak adil jika orang terdekat kita menjadi yang terakhir tahu tentang perasaan kita atau apa yang kita lakukan. Kapten kapal juga tidak seharusnya otoriter, karena tidak mungkin dia menguasai semua teknik berlayar dengan baik. Mungkin kapten tahu kemana arah yang harus dituju (dia yang memegang peta dan kompasnya), tapi bisa jadi teknik mengembangkan layar, membaca cuaca, dll lebih dikuasai asistennya. Bolehlah sekali-kali berdebat, tapi bukan untuk saling menyalahkan dan menjatuhkan. Berdebat dalam arti berdiskusi untuk menentukan keputusan terbaik untuk kelangsungan semua penghuni kapal. Sepertinya sudah waktunya saya akhiri ke-sok tahu-an saya, hehe.

Pribadi-pribadi baik –> keluarga-keluarga yang baik –> masyarakat yang baik –> negara yang baik –> dunia yang lebih baik.

Let’s make a better world start from ourselves and our wonderful family.

Sent from my BlackCat, powered by Indosat’s Strong Signal


3 thoughts on “Kapal yang bernama pernikahan

  1. Kalo di kantorku bagi yang berkeluarga sangat dianjurkan untuk pulang on time heheh….

    Emang komunikasi kuncinya tapi praktek pasti ga semudah teorišŸ˜‰

    Mudah2an kamu cepet merasakan ups & downs pernikahanšŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s