Secercah harapan di kampungku


Tadi malam seorang teman mengunjungi saya di rumah. Seorang teman lama, salah satu sahabat baik saya semasa kuliah yang masih “keep in touch” hingga hari ini. Tetapi kemarin saya lupa memberitahunya bahwa gang di rumah saya tidak boleh dimasuki kendaraan dengan dikendarai jika pada malam hari. Saya berpikiran bahwa dia sudah tahu.

Tak berapa lama menunggu, tibalah dia bersama suaminya. Setelah greeting bla bla bla, kemudian dia bercerita kalau dia kaget sewaktu memasuki gang saya. Karena dia tidak tahu peraturan di gang saya dan memang di depan gang tidak ada tulisan “harap turun” seperti gang lain. Ketika dia baru masuk gang, ada orang yang melemparnya dengan kayu dan berteriak-teriak bahwa kendaraan tidak boleh dinaiki. Otomatis teman saya yang berasal dari keluarga dan lingkungan yang penuh dengan sopan santun, kaget bukan main. Dia menceritakan kepada saya dengan penuh “kekaguman”. Ada lagi di gang lain (karena dia sempat salah masuk gang), dia bertanya : dimana rumah catur pegawai ind***t? Kemudian orang yang ditanya mengkonfirmasi : catur yang kerja di restoran?. Padahal sudah jelas yang ditanyakan bukan catur yang kerja di restoran, wkwkwk… Tulalit. Malam tadi teman saya benar-benar merasakan “kekaguman” luar biasa dengan orang-orang di kampung saya. Saya hanya bisa tertawa ngakak mendengar ceritanya, karena saya sudah terbiasa dengan orang-orang dummy (maaf, ada yang bisa bantu saya cari ungkapan yang lebih layak?)seperti itu. Saya hanya bisa menenangkan teman saya yang shock dengan berkata bahwa mereka memang biasa seperti itu, maklumlah kebanyakan orang sini tidak berpendidikan seperti kami, “tenang jeng, mereka itu emang biasa kelakuannya kayak gitu, ntar lak mereka sudah lupa dengan jeng kalau jeng kesini lagi”.

Mungkin seharusnya kampung seperti kampung saya ini dihancurkan dari muka bumi, karena “ngebek-ngebeki nggon” (menuh-menuhi tempat saja). Kira-kira 80% penduduknya termasuk orang miskin. Dari 80% yang miskin itu, 60% nya self employed dan sisanya merupakan employee (termasuk saya) atau pengangguran terselubung. Hanya sekitar 20% dari populasi kampung saya yang menjadi bussines owner dan sebagian kecilnya menjadi investor. Padahal sebenarnya tidak perlu berpendidikan tinggi dan atau menjadi kaya untuk menjadi seseorang yang berakhlak baik (sebenarnya banyak juga orang pintar dan atau orang kaya yang saya temui juga tidak berakhlak baik seperti yang seharusnya). Karena akhlak dan moral baik itu sebenarnya sudah datang dari jiwa, ibaratnya sudah terinstall satu paket ketika manusia dilahirkan di bumi. Tetapi mungkin software kebaikan yang dititipkan Tuhan kepada mereka sudah corrupt karena dirusak kelakuan mereka sendiri.

Semoga Allah tidak menghancurkan kampung saya, karena seperti perkataan Rasulullah SAW sewaktu di Thaif, (dalam bahasa saya) : mungkin suatu saat nanti ada dari keturunan mereka yang beriman. Dan seperti juga harapan saya dengan orang-orang di kampung saya, siapa tahu nanti ada keturunan mereka yang menjadi berakhlak baik, tidak tulalit dan tidak berkelakuan seperti orang stress. Dengan berbekal harapan inilah, saya bergabung dengan rumah zakat indonesia untuk membina generasi muda di kampung saya (kami memberi nama kegiatan ini Quranic Youth). Saya tidak digaji disini, bahkan sering harus ikut mencarikan donasi untuk membiayai kegiatan pembinaan tersebut. Kegiatan-kegiatan pembinaan rutin kami adakan mingguan, dan ada juga kegiatan insidental. Setiap hari kamis, diagendakan materi tajwid, sedangkan di hari sabtu kami mengagendakan pemberian materi-materi keislaman. Tak cuma generasi muda, para ibu yang sebagian adalah “desperate housewives”pun dibina juga oleh rumah zakat, dimana salah dua pembinanya adalah kakak-kakak kandung saya. Harapan kami ke depan adalah semoga yang sudah baik menjadi lebih baik, dan yang belum baik berubah menjadi baik. Dengan memohon ampunan Allah SWT, kami juga bukan sebaik-baik manusia di muka bumi, tetapi masih dan terus dalam proses belajar. Tetapi alangkah baiknya jika ilmu kebaikan yang masih sedikit kami ketahui bisa bermanfaat. Semoga semakin banyak orang yang merasakan manfaatnya dan ikut bergabung menjadi penebar manfaat bagi sekitar.
Oya tak lupa saya sampaikan salut luar biasa kepada mbak Ira dan pak Hamzah (beliau adalah staff rumah zakat untuk wilayah bubutan), sepasang suami istri yang ditengah keterbatasan mereka, segala upaya maksimal mereka dayagunakan untuk pengabdian masyarakat.

Secercah harapan itu masih ada… Aamiin.

Sent from my BlackCat, powered by Indosat’s Strong Signal


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s