mbak Nia dan Titik Balik


Siapa dia? Saya juga tidak begitu kenal mendalam. Saya hanya tahu bahwa dia datang untuk menawarkan titik balik dalam kehidupan saya. Dan saat ini dia datang kedua kalinya untuk menawarkan titik balik yang kedua. Sebenarnya saya merasa dia hanya perantara Tuhan untuk mengubah hidup saya. Tetapi kali ini saya merasa dia ngeselin sekali, karena terus mendorong saya untuk mengambil langkah yang sangat tidak saya sukai.

…. Sedikit kita tengok sejarah …

Waktu itu, 12 tahun yang lalu, Allah membukakan hidayah kepada saya untuk mengenakan jilbab/hijab or whatever you called it (pokoknya pakaian yang menutup aurat). Kedekatan saya kepada kegiatan keislaman sangat membantu saya membuka mata hati. Dan salah seorang yang memegang peranan penting saat itu adalah dia yang bernama mbak Nia (kakak kelas saya, cuma selisih 1 tahun). Saat itu dia adalah koordinator keputrian SKI (Sie Kerohanian Islam) di sekolah. Mbak Nia dan beberapa mbak-mbak pengurus SKI selalu menghidupkan nuansa keislaman di sekolah kami, termasuk sangat mendukung adik-adik kelasnya untuk mengenakan pakaian menutup aurat. Mbak Nia jugalah yang mengusahakan baju-baju sekolah untuk saya, ketika saya memutuskan untuk berjilbab, sampai-sampai dia merelakan satu jilbab sekolahnya untuk saya (saya akhirnya tahu bahwa dia membeli baju-baju sekolah dan jilbab dari menabung uang sakunya, bukan meminta orang tuanya yang kaya).

… Masa kini …

Beberapa hari yang lalu, dia datang kembali menemui saya. Dia datang untuk mendemokan sebuah produk. Saya memang sudah pernah mendengar testimoni tentang kebaikan produk ini. Produk yang memang terbukti khasiatnya. Tetapi satu hal yang tidak saya sukai adalah produk ini dibangun dengan sistem MLM. Saya orang yang anti MLM, karena menurut saya sistem seperti itu tidak adil. Terlebih lagi di internet terdapat banyak sekali sanggahan tentang MLM. Terlepas dari yang mengatakan negatif adalah memang orang yang tertipu dengan MLM ecek-ecek atau mereka yang belum terjun di dunia MLM atau belum pernah sukses dengan MLM atau mereka yang sudah setengah sukses. Well, setelah mbak Nia mendemokan produk ini, satu pintu yang berlabel “penolakan” dalam diri saya telah terbuka, artinya 1 poin kepercayaan terhadap produk telah saya miliki. Mbak Nia juga mempromosikan sebuah acara bernama “bootcamp” yaitu sebuah acara motivasi untuk ‘mengupgrade’ potensi siapa saja. Katanya “bootcamp” ini tidak ada hubungannya dengan promosi MLM (saya ndak tahu juga benar tidaknya). Kemudian berlanjut dengan diundangnya saya ke suatu forum acara perkenalan produk ini. Terus terang saya sangat malas dan ogah-ogahan untuk datang ke sana. Setelah acara selesai, saya masih belum bisa tersenyum, bahkan di forum diskusi dengan para upline, saya masih memasang tembok tinggi. Tetapi di sini saya memiliki tambahan informasi tentang, memang benar produk ini bermutu dan MLM ini bukan ecek-ecek. Satu lagi pintu “penolakan” terbuka. Di akhir acara, MC mengatakan bahwa kami diundang untuk hadir di acara besok malam. Dalam hati sudah terbayang betapa malesnya untuk datang. Keesokan harinya saya sangat mengantuk sepanjang siang di kantor karena kemarin pulang malam. Sehingga sore harinya saya meng-sms 2 upline saya bahwa saya butuh istirahat dan tidak bisa datang malam ini. Berhubung ini adalah acara rutin, saya menawar untuk datang hari kamis minggu depan. Tetapi balasan sms dari mbak Nia mengatakan “dek, waktu terus berjalan…bla bla bla”. Saya berpikir, oo begitu pentingnya ya acara ini, bukankah acara ini diadakan tiap minggu? Finally, berbekal rasa penasaran, walaupun saya tetep ogah berangkat, saya sms balik “oke saya jadi datang deh”.

Saya berangkat ke acara nebeng mobil keluarga mbak Nia. Mbak Nia berangkat dengan mamanya dan adiknya. Dalam mobil, kami berempat berdiskusi tentang banyak hal mengenai MLM ini. Saya tahu bahwa mereka adalah orang yang baik dan juga tidak suka bisnis MLM, tetapi mengapa ikut join? Lho kok? Ya, mereka juga bisa salah sih. Tapi semakin penasaran saya jadinya. Walaupun di mobil mereka bercerita panjang lebar, tetap saja saya belum menemukan ruh-nya dalam diri saya.

Oke, tibalah kami di tempat acara. Kami datang sedikit terlambat gara-gara saya telat datang ke rumah mbak Nia (ogah-ogahan sih). Dari depan gedung sudah terdengar musik seperti acara senam saja sambil terdengar orang berkata-kata dengan penuh semangat. Ketika masuk ruangan pun saya mengernyitkan kening dan berkomentar, nih orang-orang pada udah gila kali ya…mbok ya nyebut gitu, hehehe. Saat itu di ruangan sedang diputar musik disko dan beberapa leader memimpin untuk menggerakkan badan (saya tidak bilang joget, karena kebanyakan memperagakan gerakan tidak jelas). Mbak Nia hanya bilang, ya ini untuk melepaskan adrenalin, upline lain lagi yang juga akhwat tentu saja tidak ikut ber”senam” seperti leader di depan. Akhirnya musik pun berhenti dan saya lega sekali. Oh thank God akhirnya penyiksaan itu berhenti.

Kini tibalah saatnya belajar. Beberapa leader dan mentor share tentang pengalaman mereka. Semakin terbukalah pikiran saya bahwa hidup tidak perlu dibikin susah. Cerita-cerita yang menarik yang menunjukkan betapa mereka manusia-manusia bermental juara. Kemudian tibalah session terakhir, yaitu game. Game-nya agak mikir karena menyusun puzzle (seperti game waktu saya mengikuti training Prolead ITS). Game ditutup dengan beberapa hikmah menarik dari peserta untuk peserta, yang “out of the box”, luar biasa.

Well, disana saya semakin sering mendengar kata-kata “bootcamp” dan bagaimana jebolan alumnus-alumnus “bootcamp”, from zero to hero. Sampai-sampai upline saya mengatakan akan meng-garansi uang kami kembali jika “boot camp” tidak melejitkan potensi kami. Beliau yang mengatakan demikian adalah upline 3 level diatas saya. Ternyata kami pernah sekali bertemu sewaktu sama-sama mengisi pengajian di sebuah SMU di Surabaya. Wooo, what a world is so small, tapi untunglah Rahmat Allah SWT seluas langit dan bumi, bukan hanya sesempit bumi tempat kita berpijak (lagipula langit kan sampai lapis 7, berarti sangat-sangat luas). Akhirnya, saya sangat penasaran dan memutuskan untuk pergi “bootcamp”. Dalam pikiran saya ada separuh niat hendak mengambil paket sebagai member VIP. Worst case bisnis saya tidak jalan pun, saya mendapat beberapa macam produk mereka. Lagipula saya pernah mengalami investasi dengan kerugian lebih besar dari ini, jadi okelah kalau begitu. Tetapi sampai sekarang pun, formulir keanggotaan belum saya isi. Saya menunggu bagaimana hasil “bootcamp” mempengaruhi diri saya, baru setelah itu saya akan memutuskan apakah saya jadi mengambil paket VIP atau paket biasa saja. Tapi paling tidak, sampai saat ini saya sudah punya trust kepada para upline saya. Saya percaya kami bisa menjadi sebuah tim yang baik.

Saat ini saya memang membutuhkan turning point ditengah kehidupan saya yang seperti “flat line”, hidup serba cukup, pekerjaan santai, teman-teman yang baik….no challenge. I need to find something interesting that can change my life.

So “bootcamp”…I’m coming…
Stay tune ya… InsyaAllah saya akan tulis pengalaman boot camp nanti.
*sedang nyari tiket pesawat murah buat berangkat, semoga bisa berangkat, aamiin

Sent from my BlackCat, powered by Indosat’s Strong Signal


2 thoughts on “mbak Nia dan Titik Balik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s