sky sailing and night caraka


Entah kenapa sejak kecil saya suka sekali melihat langit malam. Bahkan saya sempat bercita-cita menjadi salah satu manusia yang bisa pergi ke luar angkasa. Tapi setelah SD pertengahan akhirnya saya tahu kalau keinginan saya itu 50-50, maksudnya 50% gagal dan 50% tidak mungkin. Jadilah saya ganti cita-cita saya menjadi manusia yang banyak uang (mulailah pikiran saya terwarnai paham materalistis, hehehe).

Kemarin malam seorang teman merekomendasikan sebuah lagu dari sky sailing berjudul brielle (Pantas saja hafalan qur’an sering hilang, lha suka dengerin lagu kayak gini, hiks) … Wait wait wait… What? Sky sailing? Hmmm… Langsung pikiran saya membayangkan sebuah perjalanan mengarungi langit malam yang indah. . Seakan saya kembali ke jatiluhur 4 tahun yang lalu, menikmati kembali keindahan langit malam di perbukitan jatiluhur yang penuh bintang. Bahkan saya juga sempat melihat bulan merah disana ketika dalam satu tugas jaga malam bersama ketua senat (saya biasa memanggilnya pakde atau werewolf).

Di salah satu malam dikdas saya, tersebutlah tugas yang harus kami seangkatan jalani yaitu caraka malam, mungkin ada yang terbiasa menyebutnya sebagai jurit malam. Rute yang harus kami lewati memang creepy banget karena selain di kampung sekitar mess kami penduduknya sedikit, di sana juga masih banyak lahan tak berpenghuni yang ditumbuhi bambu atau pohon-pohon besar. Ada juga jalanan menurun agak licin yang menuju sungai. Dan beberapa jalanan kampung yang belum pernah kami lalui sebelumnya. Tentu saja ada beberapa pos pengecekan yang harus kami lewati yang dijaga oleh pelatih.

Rute ini seperti biasa berkilo-kilo meter jauhnya (yang jelas lebih dari 10 kilometer, mungkin 20 kilometer-an), dalam medan yang naik turun dan tidak terduga anehnya. Pada caraka ini, misi kami adalah mencari nama kami pada sebuah kuburan dan menyampaikan pesan hanya kepada 1 orang (saya lupa namanya). Hal yang menjengkelkan adalah ketika saya tidak bisa melihat dengan jelas antara pembatas jalan setapak dengan turunan terjal karena cahaya langit terhalang rimbunnya pepohonan hutan. Hampir saja saya tersesat karena keluar dari jalan setapak. Saya juga rasanya hampir putus asa, kapan jalan setapak di tempat mirip hutan itu berakhir. Dan juga ada bau dupa yang membuat saya merasa harus selalu dzikir dan sholawat banyak-banyak. Ngeri memang melewati daerah yang jauh dari perkampungan, karena pepohonannya rimbun dan banyak juga pohon bambu. Ada juga jebakan pocong yang sama sekali tidak menakutkan bagi saya, karena ketika pocong itu muncul, pohon disebelahnya juga ikut bergoyang. Jadi pocongnya terlihat tergantung di pohon. Overall, caraka malam is very exciting experience. And here is the best part. Ketika sudah melewati hutan, petunjuk jalan mengarahkan saya ke arah jalan besar menuju bukit cimumput. Di kaki bukit, saya berharap petunjuk jalan akan membelok dan tidak terus naik. Tetapi petunjuk mengarahkan untuk naik ke arah bukit. Dalam hati sudah deg-deg an membayangkan bakal naik ke bukit 45 derajat sendirian, OMG!… Untunglah di tengah jalan, petunjuk berbelok menuju ke sebuah area mirip hutan (lagi) yang belum pernah kami lewati sebelumnya. Jalannya berlumpur dan ditumbuhi pohon-pohon yang sangat tinggi, namun jalan setapak tampak jelas diterangi cahaya langit. Ketika dipersimpangan akan berbelok, saya sempatkan diri menengadah ke atas. And guess what? I found so many stars at sky. Seperti banyaknya wijen di atas onde-onde. Pemandangan langit saat itu membuat saya berpikir bahwa saya berada dalam bola kaca raksasa yang ditempeli ribuan manik-manik di bagian luar kaca. Saya belum pernah melihat langit benar-benar penuh bintang seperti itu, seakan-akan tidak ada ruang kosong selain diisi oleh bintang. Maklum dari lahir procot sampai dewasa hidupnya di kota getooo. Bagi saya menemukan sebuah rasi bintang di langit saja sudah merupakan hal yang luar biasa.

Setelah semua sudah sampai dengan selamat di base camp, kami melanjutkan dengan tidur sebentar…. Ah leganya. Ternyata ada seorang teman yang menemui kejadian tak terduga tadi, padahal dia jalan persis dengan urutan dibelakang saya. Ketika melewati pepohonan bambu dalam jalanan turunan menuju hutan, teman saya MJ mengaku melihat seorang wanita tidur dijalan. MJ mengira bahwa itu adalah pelatih perempuan kami yang bernama pelatih Heny (beliau adalah satu-satunya pelatih perempuan saat itu), sehingga dia cuek saja melewati perempuan tersebut. Ada juga bang Helmi yang cerita kalau bertemu ular besar sekali menyeberang jalan. Posisinya ketika itu memang di daerah sepi di dekat sebuah bukit, dan diseberang jalan ada rumah kosong. Padahal tidak seorang pun dari kami menemukan ular di daerah situ…wow…
Dan yang mereka temui ternyata bukan dari skenario pelatih. Pelatih heny tidak pernah ‘aksi’ tidur di pinggir jalan, dan ular besar juga tidak masuk dalam daftar jebakan. Hmm… I’m glad we all save…

That was a very adventurous night ^_^
But I’m afraid that I won’t meet that sky anymore. Until now, binocular is still on my wishlist. But my friend said that binocular won’t work at city’s sky, coz there’s too much pollution and high buildings. So the stars won’t appear.
So then, the next wishlist is to buy a house at a hill or a mountain. No need to buy a big one, just a small one to place my binocular…
Whooo…. I hope someday I can see very beautiful sky like in jatiluhur.

~jatiluhur tak akan kulupa~

Posted with WordPress for BlackBerry.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s