Mencari jati diri


Mencari jati diri…

Halah koyok arek enom ae… lho, emange aku wes tuwek ta?

Wong ini ngomong dewe, dijawab-jawab dewe… wes gendheng be’e…

Terjemahan :

Halah seperti anak muda saja… lho, memangnya aku sudah tua?

Orang ini bicara sendiri, dijawab sendiri… mungkin sudah gila

Mencari jati diri… rasanya bukan hanya anak muda bin ABG yang suka mencari jati diri. Orang yang lebih senior dari ABG pun tidak usah malu jika masih ingin mencari jati diri. Bagi orang yang sudah senior, mencari jati diri mungkin lebih ke arah pengokohan jati diri atau lebih menajamkan lagi arah visi misi hidup.

Seperti film atau sinetron. Perjalanan hidup manusia terbagi menjadi episode-episode. Sutradara menuntut setiap aktor harus bermain cantik di setiap episode, tidak peduli apa yang sedang dia hadapi pada kehidupannya yang sebenarnya. Setiap aktor harus menghayati perannya dan memerankan dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan perhatian penonton televisi walaupun sang aktor tidak menyukai peran tersebut, misal menjadi peran antagonis. Rating yang naik dan rejeki lancar merupakan efek otomatis dari hasil kerja keras mereka bermain cantik.

Oke kita stop tentang sinetron. Saya tidak membahas sinetron karena i hate sinetron very much.

Kembali kepada kehidupan manusia yang sesungguhnya. Pasti kita menyadari jika permasalahan itu terus menerus datang silih berganti dalam kehidupan kita. Sepertinya permasalahan yang datang itu sesuai dengan level kemanusiaan kita. Misalnya dulu ketika balita, permasalahan kita adalah ibu kita tidak mengerti dengan bahasa balita sehingga kita sering ngomong sesuatu yang tidak dimengerti ibu kita, dan ujung-ujungnya kita hanya bisa nangis (atau saya saja ya…hehehe). Kemudian ketika beranjak TK atau SD, permasalahan kita berganti menjadi seputar sekolah, berteman dan bermain. Ketika mulai menginjak remaja, biasanya kita sudah mulai mengenal yang namanya cinta kepada lawan jenis, patah hati dan bahkan sudah mulai merenda cita-cita. Berbeda lagi ketika kita beranjak dewasa, seseorang sudah mulai berpikir lebih serius tentang masa depannya yang sudah di depan mata. Semuanya yang kita tuju, semua yang kita usahakan dan telah kita lalui menjadi sebuah kesimpulan : sebuah jati diri.

Tentunya kita tidak mengharapkan orang yang sama di setiap episode tersebut, bukan? Bahkan kita malah berharap bertemu dengan orang yang berbeda, orang yang senantiasa belajar dan menjadi lebih baik. Ada salah seorang senior saya waktu SMA dulu yang pernah mengatakan kepada saya, ”iyo awakmu kok saiki berubah dek” (terjemahan : iya, kamu kok sekarang berubah dek). Dalam hati menjawab, you have no idea what i have been through mbak, and that’s make me change… a lot. Malahan sekarang saya sedang mencari jati diri kembali. Jati diri sebagai seorang yang dewasa, bukan seperti ABG yang mencari jati diri… (beda lhooo…), mengokohkan jati diri saya yang selama ini sempat sedikit berubah haluan. Ketika tiba-tiba keinginan akan cita-cita yang ingin saya raih bermunculan satu per satu. Ketika jenjang kehidupan yang lain belum bisa saya raih. Maka manakah yang seharusnya menjadi prioritas? Manakah jalan hidup yang seharusnya saya ambil? Disinilah pencarian jati diri saya.

Well, seperti pemain sinetron yang dituntut bermain cantik dalam setiap episode yang mereka lakoni. Saya pun tampaknya juga harus ‘bermain’ cantik di episode yang saya jalani saat ini, terlepas saya menyukainya atau tidak. Kalaupun saya belum bisa menghayati peran saya kali ini dan belum mampu untuk bermain cantik, maka saya harus segera mencari jati diri peran ini. Saya tidak bisa membuang waktu terlalu banyak, karena bumi ini juga tidak berhenti berputar. Sutradara juga senantiasa menuntut para tokoh untuk segera berkontribusi positif.

Jika peran kita disukai sutradara kehidupan which is our God, bisa-bisa “kenikmatan” yang diberikan akan ditambah, atau kalau beruntung, akan dapat rejeki tambahan dengan bermain menjadi peran-peran utama di cerita yang lain. Wallahua’lam ^_^

QS. Ibrahim (14) ayat 7 :

… “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

*Sent from indosat Broadband 3,5 G


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s