friend itu nggak selamanya friend


“Cintailah orang yang Anda cintai sederhana saja, siapa tahu ia menjadi orang yang paling Anda benci di kemudian hari. Sebaliknya, bencilah orang yang Anda benci sederhana saja, siapa tahu besok ia menjadi orang yang paling Anda cintai.”

Ungkapan diatas sudah lazim dikenal pada kalangan orang beragama islam. Tidak seharusnya seseorang memiliki perasaan yang berlebihan terhadap makhluk Tuhan. Dalam hal ini berlaku juga dalam hubungan pertemanan. Tidak usahlah kita begitu “berbunga-bunga” dengan teman kita, atau pun sebaliknya.

Seakan asing di lingkungan sendiri. Mungkin itu yang sedang dirasakan seorang saudari saya. Bagaimana tidak, seluruh temannya (kecuali 1 orang) mengadakan pembicaraan rahasia di belakang dia. Bahkan dia tidak mengerti apa kesalahannya selama ini. Pembicaraan yang dijalani setiap hari adalah pembicaraan biasa saja, bercanda biasa, dan semuanya juga tertawa biasa, berbincang biasa saja. Dikira memang tidak ada masalah apa-apa, tetapi ternyata mereka semua tidak suka dengan saudari saya ini.

 

Itu kenyataan yang terjadi pada sebuah sekolah dasar. Sekolah ini memang baru terbentuk dan gurunya hanya perempuan. Mungkin hal itu juga yang menjadikan kurang profesionalnya mereka. Seharusnya dalam sebuah institusi berlaku surat peringatan terlebih dahulu jika ada yang salah dengan kinerja seseorang dalam bekerja. Tetapi jika berhubungan dengan kepribadian seharusnya pula bisa dilakukan pendekatan dan mekanisme saling mengingatkan terhadap seseorang itu. Jika mekanisme yang seharusnya sudah dijalankan, maka langkah selanjutnya yang lebih tegas bisa diambil jika yang bersangkutan tidak berubah. Tetapi yang terjadi adalah saudari saya harus keluar dari sekolah tersebut tanpa mengerti bagaimana hal-hal biasa menjadi sebuah kesalahan. Dan disitulah kegunaan seorang pemimpin. Seorang pemimpin bertugas mengendalikan semua yang dipimpinnya agar tetap pada ”rel” yang seharusnya.

 

Ironis menurut saya, dimana guru-guru yang seharusnya mengajarkan kebaikan tetapi mereka melanggar suatu konsep kebaikan. Konsep kebaikan dalam hal ini adalah konsep saling mengingatkan dalam kebaikan, konsep lapang dada, bahkan konsep persaudaraan.

 

Konspirasi untuk menyingkirkan seseorang memang sering terjadi dalam kompetisi. Seperti kejadian pada acara master chef indonesia di salah satu stasiun televisi. Sebuah kelompok berkonspirasi menyingkirkan seseorang karena salah satu alasannya adalah seseorang yang disingkirkan itu dianggap saingan terberat dalam kompetisi tersebut. Dalam kasus yang saya temui kali ini, semua kesalahan ditimpakan pada saudari saya ini. Entah sebabnya dianggap sebagai saingan atau yang lain. Seharusnya mekanisme tabayyun tetap berjalan, dan bukan didiamkan dan ditimbun. Padahal tabayyun sendiri pun diajarkan pada materi pengajian mereka. Apalagi konsep lapang dada dan persaudaraan.

 

Memang tidak seharusnya begitu saja percaya terhadap seseorang. Apalagi seperti yang baru saja saya temui (saya pernah berinteraksi dengan mereka). Seseorang itu bisa berkata-kata manis dan berwajah manis di depan kita, tetapi dibelakang dia berlaku sebaliknya. Tidak bisa kita nilai sama bahwa seseorang yang rajin menimba ilmu kebaikan bisa berperilaku sebaik teori yang mereka dapatkan. Atau mungkin ilmu-ilmu itu hanya berakhir di buku catatan ? Wallahua’lam.

Yang pasti kita semua akan berakhir di tempat yang sama, yaitu di liang lahat sendirian tanpa seorang teman pun, entah kita yang sekarang merasa menjadi pemenang atau sebagai yang disingkirkan. Dan biarlah Allah yang menilai, kebenaran hanya milik Allah SWT.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s