Jangan bersedih, dirimu istimewa


Hidup itu adalah anugerah. Walaupun tidak berjalan seperti yang kita inginkan / harapkan. (Andai Aku Menjadi)

Setiap episode “Andai Aku Menjadi” yang saya lihat di televisi selalu saja membuat saya tercengang. Betapa tidak, selalu ada saja sebagian kecil (entah memang benar bagian kecil atau sebenarnya besar, hanya saja saya yang tidak tahu) yang bertahun-tahun hidup dalam kesusahan. Seperti episode yang saya lihat minggu kemarin. Seorang nenek menghidupi dirinya dan ketiga cucunya sendirian dengan berjualan tempe. Beliau memiliki 5 orang anak, anak yang paling “njowo” (apa ya istilah bahasa indonesianya?) sudah meninggal dunia dalam usia muda setelah memiliki 3 orang anak, disusul suaminya juga meninggal tak berapa lama. Anak-anaknya yang lain entah kemana.
Ada juga nenek yang harus menghidupi dirinya dan 2 orang cucunya dengan berjualan surabi. Dahulu masih bisa menjadi buruh tani, tetapi kini fisik beliau tidak kuat sehingga hanya bisa berjualan surabi di depan rumah. Bahkan dalam kondisi kesempitan keuangan, masih saja rela memberikan surabinya untuk anak kecil.

Guess what?? Bagi mereka nasi adalah barang mewah!!! Mereka makan umbi-umbian yang mudah di dapat di sekitar tempat tinggal. Jangan ditanya bagaimana kondisi cucu-cucu mereka. Anak-anak sekecil itu tidak pernah merasakan makan nasi (kecuali jika ada yang berbaik hati memberi). Padahal mereka masih dalam masa pertumbuhan dan membutuhkan banyak nutrisi. Mereka tidak pernah bisa membeli sabun mandi dan pasta gigi. Entah kenapa di wajah mereka terpancar ketabahan, tak tergambar keluhan atau putus asa. Memang terkadang mereka merasakan sedih, terlebih ketika malam tiba. Mereka sedih mengenang orangtua yang pergi begitu cepat, bahkan ketika mereka masih anak-anak dan membutuhkan bimbingan dan sosok panutan. Mereka juga sudah terbiasa mengurus segala keperluan mereka sendiri dengan fasilitas apa adanya.

Ada lagi di belahan bumi yang lain, kenya. Ada seorang ibu yang membesarkan anaknya sendirian. Anaknya mengalami kelainan, kelumpuhan bahkan berbicara pun tidak bisa. Sehingga kemana-mana sang ibu harus membawa serta anaknya yang selalu berada di atas kursi roda.

Guess what again??? Apa yang nenek dan ibu itu pikirkan sama dengan yang saya pikirkan. Apa jadinya anak-anak tersebut jika tidak ada para wanita yang mengurus mereka selama ini? And that is still mistery.

Setiap dari para wanita itu juga menangis ketika menceritakan keadaan mereka. Tapi setiap mereka tidak pernah diam dan berputus asa. Mereka tetap melanjutkan merawat anak-anak itu tanpa pernah mengabaikan mereka, apapun yang terjadi. Sungguh suatu kisah hidup yang membuat saya bercermin. Betapa saya salut dengan wanita-wanita tegar tersebut.

Dahulu ketika saya (merasa) mengalami masa-masa susah, saya sering merasa ingin menjadi anak-anak yang beruntung. Saya selalu bertanya dalam hati, mengapa Tuhan menakdirkan kami berada pada kondisi keluarga yang jauh berbeda? Apa bedanya saya dengan mereka? Mereka begitu mudah mendapatkan fasilitas, sedangkan saya tidak. Mereka begitu terpuaskan dengan kasih sayang dan canda tawa sedangkan saya tidak. Apa yang salah? Apa saya telah berbuat kesalahan sebelum lahir ke dunia? Ternyata tidak ada! Saya tidak salah dan tidak ada yang salah. Tuhan hanya memberikan pelajarannya bagi orang-orang yang Ia kehendaki. Bahkan nabi Muhammad pun diberikan masa-masa yang berat (bahkan sangat berat daripada kebanyakan yang kita terima) selama 23 tahun kenabian untuk menuju kegemilangan kekhalifahan islam. Apa yang salah dengan nabi? Nabi tidak melakukan kesalahan, bahkan beliau manusia yang dijamin Maksum (suci) oleh Allah SWT. Ternyata itu semua hanya jalan Allah mengasah keistimewaan manusia suci tersebut. Dan jalan perjuangan itu juga telah dilalui manusia-manusia suci pembawa risalah sebelum beliau. Begitupun yang dialami para sahabat yang mengiringi beliau. Mereka mengalami perjuangan dan banyak cobaan selama mengiringi perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Itu semua karena mereka teristimewa di hadapan Allah SWT.

Subhanallah… Ya Rabbi… Maafkanlah hambaMu yang sering lalai berterimakasih atas semua yang Engkau beri, termasuk pelajaran berharga kehidupan ini.

Sent from my BeBe CaCa®
powered by Matrix – INDOSAT’s strong signal


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s