Justifikasi yang salah = fitnah


“Sesungguhnya Allah membenci tiga hal untuk kalian: desas desus, membuang-buang harta, dan banyak bertanya (hal yang tidak penting) (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Daud).”

Pertama-tama memang tidak seberapa mengenal, sehingga sering timbul salah paham. Ketika baru pertama kali berinteraksi sering kali tanpa disadari membentuk persepsi sendiri tentang seseorang itu di alam bawah sadar. Karena diri saya sudah memiliki prasangka terhadap teman saya tersebut, sehingga saya sering merasa tidak enak terhadap apa yang beliau katakan. Padahal ketika saya konfirmasi, ternyata beliau cuma bercanda. Saya saja yang menanggapinya terlalu serius, dan memang saya belum terbiasa dengan guyonannya yang seperti itu.

Singkat cerita, lama-lama mencoba menghilangkan pre-perception terhadap apa yang dikatakan dan dilakukan orang. Artinya, tidak mendahulukan persepsi. And guess what? it works! Hahaha. Memang butuh adaptasi jika kita berada pada lingkungan yang sangat berbeda dengan lingkungan kita selama ini. Tetapi kini lebih memahami bagaimana hubungan pertemanan orang dewasa, dan bagaimana itu rasanya bergaul dengan orang yang background pergaulannya tidak seperti saya. Mencoba untuk berbaur tapi tidak lebur, tentu saja dengan gaya khas saya. Saya tidak mau pemikiran saya dipengaruhi orang lain, kecuali pemikiran yang bagus dan sesuai akan saya terima. Pada saat yang sama saya juga tidak mau menjustifikasi orang lain yang berbeda pemikiran dengan saya. Dan yang pasti, saling menghormati.

Ternyata, saya lebih nyaman bersama teman-teman baru saya. Teman-teman baru yang tidak merasa sebagai orang yang ‘wah’ dalam bidang agama. Disini tidak ada justifikasi. Disini, saya kembali merasa menjadi orang bumi yang berharap dan berusaha mendapatkan kebahagiaan seperti para penghuni langit.

Ada cerita seseorang yang mengatakan bahwa dia merasa terdholimi dan sakit hati dikarenakan ada saudaranya yang menyampaikan berita bahwa ada seorang wanita (sebut saja mawar) yang senang membicarakan kejelekan suaminya. Seharusnya langkah awal yang dia lakukan adalah mengkonfirmasi dan berbicara dengan sebaik-baiknya dengan mawar atau minimal berbicara dengan orang lain yang mengetahui permasalahan tersebut untuk mendapatkan berita yang seimbang. Jika konfirmasi dan perkataan baik bisa dibangun dengan mawar, maka alangkah baiknya jika terjadi suasana saling mengingatkan dan menasehati.

Tetapi yang terjadi saat itu adalah, ketika mendengar berita, wanita tersebut serta merta mengirim pesan singkat (SMS) kepada mawar dengan isi intinya adalah “ustadz pernah bercerita tentang beberapa akhwat yang pernah mengisi hari-harinya, lupakan hal yang dahulu, biarkan saya dan suami saya merenda rumah tangga yang bahagia”. Tentu saja mawar tidak terima, karena dia tidak mengerti apa yang dibicarakan si wanita tersebut. Selama ini mawar merasa hubungannya dengan suami wanita tersebut adalah murni hubungan pemimpin dengan yang dipimpin. Mawar merasa selama ini yang dikatakan tentang suami wanita tersebut adalah sesuatu yang wajar, dan banyak juga saksinya. Mawar merasa wanita tersebut telah mengeluarkan statement yang jauh dari kebenaran. Dan yang terjadi adalah, mawar kini yang menjadi sakit hati dikarenakan statement wanita tersebut. Hmmm.

Satu pelajaran yang saya petik adalah pentingnya bersikap seimbang dalam menghadapi sesuatu dan konfirmasi (tabayyun). Jika menemukan/mengalami kejadian tidak enak, atau mendengar perkataan tidak enak tentang kita, alangkah idealnya jika kita melakukan konfirmasi. Jika tidak berani/takut terbawa emosi jika melakukan konfirmasi sendiri, bisa juga mengundang seorang penengah yang netral dan bijaksana. Kita juga tidak seharusnya begitu saja percaya apa yang dikatakan orang lain, karena bisa jadi ada penambahan atau pengurangan kata-kata. Dan jika kata-kata dan pemilihan katanya tidak banyak yang diubah, bisa saja penambahan penampakan emosi yang dilakukan oleh pencerita bisa merubah konteks aslinya. Ketika mendengar sesuatu dari orang lain, tidak serta merta terlibat emosi dari pencerita atau sumber berita, apalagi hingga mengeluarkan berbagai kesimpulan sendiri yang menjustifikasi orang/golongan tertentu.

“Hati-hati, justifikasi yang salah = fitnah!

So becareful with our feeling, our perception. Jika tidak mengerti sendiri lebih baik berhati-hati, tidak usah berprasangka. Walaupun itu susah, apalagi kalau sudah terbiasa (suka menjustifikasi seseorang hanya karena berita sepihak). Naudzubillah.

“Ya Allah bersihkanlah hati kami agar menjauhi fitnah dan prasangka buruk. Dan jangan Kau jadikan hati kami sedih dan kotor karena fitnah, tuduhan dan prasangka buruk orang lain. Lindungilah kami Ya Allah”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s