empati dan wujud syukur


“kaya dan tidak sombong, jagoan lagipula pintar… oh boy”

Perfect banget ya si boy ini. Tapi saya pernah punya teman yang ciri-cirinya seperti itu, hanya saja kata jagoan dihilangkan karena jaman sekarang sudah nggak jamannya lagi berkelahi kayak dulu jaman si boy (jadi kepikiran, apa para pelajar itu suka tawuran gara-gara terinspirasi dari si boy, biar keren kayak si boy).

Walaupun saya tidak pernah mengaudit berapa harta kekayaan orang tuanya, tapi cukuplah terlihat bahwa teman saya ini anak orang kaya (sekali). Seringkali saya dan teman-teman ‘nunut’ alias menumpang mobilnya sewaktu di kampus. Dia juga sangat enak untuk diajak ngobrol, ramah, mungkin istilah yang tepat adalah membumi. Banyak alasan untuk menjadikan teman saya ini dianugerahi gelar ‘perfect’ antara lain good looking, smart and rich. Walaupun begitu, saya yang punya penyakit ‘gak pede’, nyaman saja memulai pembicaraan dengan dia karena dia memang friendly.

Ada lagi senior yang juga anak orang kaya, berjilbab, lumayan manis, naik mobil juga kalau ke kampus serta katanya baik banget. Saya cuma sekedar kenal. Pernah juga suatu saat ketemu dan duduk bareng di tempat ngumpulnya mahasiswa jurusan saya kalau sedang menunggu kuliah. Spontan saya bilang “capek juga ya mbak habis jalan, apalagi ditambah bawa buku-buku di tas”. Si mbak tajir berkata “tapi belum jalan jauh banget kan?”, saya menjawab “ya sih, tapi saya jalannya dari ujung jalan sana”, mbak tajir menjawab “masih dari situ, belum dari jauh lagi kan?”, saya menjawab “tapi saya setiap hari lho mbak jalan sejauh itu”, dan lagi-lagi mbak tajir menjawab “ masih belum jauh lagi dari itu kan?”… saya kemudian tidak menjawab, hanya dalam hati ngomel sendiri “nih orang apa gak punya perasaan ya? Kalau orang dengan beban buku kuliah segitu disuruh jalan lebih jauh dari itu bisa-bisa nggak jadi ikut kuliah, yang ada pijet-pijetan tiap hari”. Dalam hati terbersit, oh iya saya lupa, dia kan tidak pernah merasakan kemana-mana berjalan kaki jauh seperti saya. Kapok lah saya ngomong dengan mbak tajir yang katanya baik. Mungkin niatnya baik, tapi saya sama sekali tidak bisa menangkap maksud baiknya. Apalagi saya saat itu merasa sebagai obyek penderita. Sepertinya kalau mbak itu menjawab “sabar aja dek, mungkin siapa tahu ada yang berbaik hati ngasih motor”, mungkin saya akan langsung lupa kalau sedang capek, hehehe.

Memang tidak mudah berempati terhadap apa yang dirasakan orang lain, apalagi kalau kita tidak pernah mengalami langsung seperti yang orang lain rasakan. Misalnya saja memang banyak dari kita yang sejak lahir bertubuh sempurna, tidak ada keterbatasan dan tidak kekurangan secara fisik. Tetapi ada juga saudara-saudara kita yang lain yang tidak seberuntung kita, ada yang tidak bisa melihat, ada yang tidak memiliki tangan atau kaki sejak lahir, ada yang miskin, dll. Mungkin bagi kita jika melihat seseorang yang tidak bisa melihat akan dengan mudahnya berkata “ya bersyukur cuma tidak bisa melihat, indera yang lain masih bisa berfungsi dengan baik”. Hey begitu mudahnya kita mengatakan hal itu karena kita tidak pernah merasakan bagaimana setiap hari berada dalam kegelapan. Ada juga yang tidak tergerak hatinya untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Tetapi berbeda jika kita pernah mengalami kesusahan. Biasanya kita akan dengan mudah merasakan kesusahan orang lain dan ikut berempati. Walaupun belum tentu juga bahwa orang yang tidak pernah kesusahan tidak mengerti bagaimana itu rasa susah. Susah disini memang sangat relatif, definisi susah itu pasti berbeda antara orang yang satu dengan yang lain. Nah, ketika kita bisa memahami kesulitan orang lain yang bagi kita itu sesuatu yang mudah untuk dilalui, ini yang luar biasa.

Bagi orang yang bisa dan biasa berempati, dia akan mengerti apa yang sedang dirasakan orang lain. Dia akan memahami bahwa mungkin seseorang itu butuh bantuan semangat atau yang lebih dari itu. Karena menyadari bahwa untuk melalui kesulitan itu tidak mudah, maka akan hadir kesadaran untuk membantu. Dan semakin besar kemampuan seseorang untuk berempati, dia akan memahami bahwa diluar dirinya banyak orang yang mengalami kesusahan, bahkan masih banyak orang yang tidak memiliki kebahagiaan seperti yang dia dapatkan. Sehingga besarnya empati akan berbanding lurus dengan rasa terimakasih atas semua yang dikaruniakan Tuhan kepada dirinya dan keluarganya.

>>> just another theory

>>> biasanya orang yang mudah memberi bantuan dan berderma banyak yang mendoakan dikarenakan kebaikannya

>>> “Barang siapa bersyukur, maka niscaya akan Ku tambah nikmat-Ku padamu, dan barang siapa kufur maka sesungguhnya azab Allah lsangat pedih.” (QS Ibrahim ayat 7)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s