Hamba yang profesional


Apakah yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar kata profesional ? Terus terang, dalam benak saya terlintas gambar seorang eksekutif yang berjas dan berdasi. Ya padahal tidak harus demikian yang dinamakan profesional. Terjemahan bebas dari wikipedia :

Seringkali seseorang yang merupakan ahli dalam suatu bidang juga disebut “profesional” dalam bidangnya meskipun bukan merupakan anggota sebuah entitas yang didirikan dengan sah.

Saya tidak ingin menceramahi tentang apa itu profesionalisme, karena memang saya sendiri (jujur) belum menjadi pribadi yang profesional dan juga sudah banyak buku serta forum yang membahas tentang profesionalisme. Tetapi saya hanya ingin berbagi pikiran tentang profesionalisme sebagai seorang muslim.

 Jika pengertian profesional diatas dikembangkan lagi, maka profesional adalah mengerjakan sesuatu sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan terbaik yang kita miliki untuk mendapatkan hasil yang terbaik, dengan kata lain “all out”. Salah satu contoh profesionalisme Rasulullah dalam peran beliau sebagai hamba Allah adalah ketika beliau beribadah hingga kaki beliau bengkak. Tentu kita semua sudah sangat familiar dengan kisah ini. Saat Ummul Mukminin Aisyah ra. bertanya, mengapa beliau sampai harus bersusah-payah seperti itu, padahal beliau ma’shûm (terpelihara dari dosa), sambil tersenyum beliau malah balik bertanya,

“Wahai Aisyah, tidak sepantasnyakah aku menjadi hamba yang bersyukur kepada-Nya dengan semua itu?”

 (HR al-Bukhari, Muslim, Ibn Majah dan Ahmad) – copas. Jadi walaupun Rasulullah merupakan manusia yang terpelihara dari dosa, tetapi beliau tetap menjalankan perannya sebagai seorang hamba. Tetap merasa khouf dan roja’ kepada Allah SWT.

Saat ini kata profesional sering dikaitkan dengan profesi kita di dunia. Sebenarnya profesional tidak hanya harus dicapai dalam ukuran dunia tetapi juga dalam rangka mengejar akhirat. Profesional dalam ukuran dunia sudah ada ukurannya dan cara-caranya sesuai dengan bidang keahlian kita masing-masing. Tetapi profesional dalam penilaian akhirat pastinya mengambil tolok ukur dari apa yang sudah digariskan Allah SWT dalam Al-Quran serta terkisah dalam hadits-hadits Rasulullah SAW. Tetapi pada dasarnya motivasi mencapai keprofesionalan dalam hal duniawi akan ‘long lasting’ jika berawal dari motivasi untuk mencapai profesionalisme akhirat kita. Teringat kembali kata-kata :

“Barangsiapa mengejar akhirat, maka dunia akan mengikutinya, tapi barangsiapa mengejar dunia, maka akhirat akan lari darinya”.

Saya tidak tahu apakah ini hadits atau bukan, tapi bagi saya cukup bisa diterima oleh hati dan akal sehat.

Sejalan dengan logika diatas, maka jika kita bisa menerapkan profesionalisme dalam hal ukhrawi maka profesionalisme dalam hal duniawi akan mengikuti. Mari kita tilik satu saja contoh dalam hal ini yaitu dalam hal menjaga amanah.

Sebuah riwayat yang dikemukakan oleh Ali bin Abi Thalib RA menceritakan, pada suatu hari ketika Rasulullah SAW sedang duduk-duduk bersama beberapa orang sahabat, datang seseorang yang dilihat dari penampilannya berasal dari kawasan perbukitan. Setelah mengucapkan salam dan dijawab oleh semua yang hadir, orang itu tanpa basa-basi lagi bertanya: “Wahai Rasulullah, terangkan kepada saya, apakah ketetapan agama yang paling ringan dan ketetapan apa pula yang paling berat”. Dengan senyum Rasul menjawab: “Yang paling ringan adalah mengucapkan dua kalimat syahadat: Asyhadu anla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuluh.” Sedangkan yang paling berat wahai saudaraku, ialah amanah. Tidak beragama dengan benar, orang yang tidak menjaga amanah; tidak diterima dari orang itu shalatnya dan zakatnya”. [HR Al Bazar]. Hadits ini mengemukakan dua hal. Pertama, amanah itu sangat penting, dan kedua: menjaga amanah adalah pekerjaan yang sangat sulit. (http://almustaqiim.blogspot.com/2010/05/77-menunaikan-amanah_25.html).

Dalam kerangka bisnis, kepercayaan adalah yang utama. Sehingga tidak akan besar bisnis seseorang selama dia tidak amanah, misalnya amanah dalam hal memenuhi janji kepada pelanggan maupun amanah dalam hal mengembalikan pinjaman (jika kita berhutang).

Menjadi hamba Allah yang profesional bisa dimulai dari sesuatu yang kita lakukan setiap hari, yaitu sholat. Profesional dalam sholat berarti benar-benar menghadapkan seluruh jiwa raga pada Allah SWT (sesuai dengan tuntunan sholat). Dengan demikian, kita akan terbiasa fokus dalam melaksanakan sesuatu dan masih banyak lagi hikmah yang bisa digali dari sholat yang “all out“.

Disini terlihat jelas dimana tuntunan agama membawa dampak luar biasa juga terhadap kehidupan duniawi kita. Ini hanya salah satu contoh saja dari sekian banyak contoh ajaran agama islam yang menuntun manusia menuju kepada pembaikan kehidupan.

Beberapa saat yang lalu saya beruntung dapat mengikuti sebuah training alumni muda ITS yang diadakan oleh IKA ITS, yaitu PROLEAD. Sebuah pengalaman berharga disana bisa mendapatkan sharing dari senior-senior yang sangat sukses. Senior yang beragama islam ternyata masing-masing memiliki sebuah hadist atau ayat Al-Quran yang mereka gunakan untuk memotivasi setiap langkah mereka untuk menjadi ‘besar’ seperti saat ini.

Menjadi hamba Allah yang profesional akan menjadikan manusia otomatis juga menjadi seseorang yang profesional dalam tingkah lakunya di dunia. Sekali lagi memang mudah berteori, tetapi kenyataannya tidak semudah itu. Dan semoga nantinya saya tidak diazab Allah karena tidak bisa melakukan seperti pemikiran yang saya tuliskan. Dan sepertinya tidak ada sesuatu hasil baik yang dicapai dengan mudah.

Wallahua’lam.

Semoga Allah SWT senantiasa menuntun kita menjadi hamba-Nya yang profesional.

(Terinspirasi dari taujih murobbi pada  liqo pekanan)


One thought on “Hamba yang profesional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s