Halal, ada yang protes disini


Bagi masyarakat yang tinggal di negara mayoritas muslim tentunya tidak asing lagi dengan kata “halal”, apalagi bagi orang muslim itu sendiri. Menurut wikipedia, Halal (حلال, halāl, halaal) adalah istilah bahasa Arab dalam agama Islam yang berarti “diizinkan” atau “boleh”. Istilah ini dalam kosakata sehari-hari lebih sering digunakan untuk merujuk kepada makanan dan minuman yang diizinkan untuk dikonsumsi menurut dalam Islam. Sedangkan dalam konteks yang lebih luas istilah halal merujuk kepada segala sesuatu yang diizinkan menurut hukum Islam (aktivitas, tingkah laku, cara berpakaian dll).

Saya akan sedikit bercerita pengalaman saya pada tahun 2009 berkunjung ke pulau dewata dalam rangka dinas. Sebenarnya saya memang tidak terlalu merasa spesial pergi ke pulau ini karena sudah pernah berkunjung sewaktu SMA. Waktu itu saya dan teman-teman pergi ke sana setelah kejadian bom bali 1. Walaupun waktu kunjungan hanya sebentar tetapi memberikan kesan yang membuat saya beritikad dalam diri, seindah apapun pulau tersebut sebisa mungkin saya tidak akan kembali kesana. Ketika tahun 2009 saya pergi kesana, sudah tidak terlalu terasa aura seperti 7 tahun yang lalu.

Mumpung sudah disana, malam harinya saya manfaatkan untuk berjalan-jalan dengan teman di sekitar kuta. Berhubung tidak ada transportasi umum semacam bus yang bisa ditumpangi, akhirnya kami memutuskan untuk naik taxi saja. Sepanjang perjalanan kami isi dengan mengobrol bersama pak supir taxi. Dalam perjalanan berangkat, pak supir taxi jarang mengemukakan pendapat pribadinya, jadi hanya menjawab ketika ditanya. Berbeda dengan kondisi pulang. Supir taxi yang kami tumpangi rupanya gemar mengobrol, maklum sepertinya usianya juga masih muda. Pada obrolan inilah saya menemukan fakta menarik yang terlontar dari bapak supir taxi tersebut. Beliau menyatakan opininya kurang lebih seperti ini, “kenapa sih orang-orang itu selalu pilih-pilih tentang makanan? Ada yang selalu mencari dimana restoran halal. Kemudian restoran-restoran juga seperti itu, banyak yang mencantumkan tanda halal. Kok sepertinya membeda-bedakan sekali.”  Saya hanya tersenyum mendengar protes beliau. Kalaupun saya menjelaskan rasanya tidak akan cukup 30 menit waktu perjalanan ini. Mungkin pernyataan bapak tersebut bukan mewakili mayoritas penduduk disana yang tidak memahami tentang arti kata halal. Tetapi kalau dilihat dari caranya berbicara dan gaya bahasanya, beliau adalah tipe orang yang suka mencuplik pendapat orang lain. Jadi saya tahu bahwa opini tersebut bukan semata-mata dari pemikiran beliau, melainkan dari beberapa atau banyak orang disekitarnya.

Lain ladang, lain belalang. Lain di pulau dewata, lain pula di pulau merlion. Negara yang berukuran paling kecil di asia tenggara ini dihuni oleh beraneka macam suku bangsa. Disana juga susah mencari makanan halal karena memang bukan negara mayoritas muslim. Pernah ada suatu kejadian menarik ketika saya sedang mencari makan pada foodcourt di sebuah mall. Terlihat ada tulisan makanan indonesia, akhirnya saya melihat-lihat daftar menunya. Tetapi tiba-tiba muncul koki dari dalam dan memberi isyarat bahwa makanan yang dijual disitu tidak halal. Akhirnya saya bertemu dengan seseorang yang berbahasa indonesia dengan baik (entah memang orang indonesia atau malasya), kemudian beliau menunjukkan mana kios yang menjual makanan halal. Beruntunglah saya karena berjilbab sehingga dengan mudah para penjual makanan dan orang-orang sekitar mengenali bahwa saya seorang muslim, dan mereka mengerti bahwa saya pasti hanya mau makan makanan halal. Hal yang sama terjadi berulang kali ketika saya mencari makanan selama beberapa hari di singapura. Disana, sepertinya sudah terjadi saling kesepahaman bahwa orang-orang muslim memang hanya memakan makanan yang halal. Dan orang berbeda agama pun sudah maklum dengan hal tersebut. Bahkan tak jarang juga orang yang berbeda agama membeli makanan di kios makanan halal. No problemo.

Tidak bisa disalahkan, memang berbeda kultur setiap daerah. Mungkin ada masyarakat yang begitu terbuka dengan perbedaan walaupun sebuah kelompok atau golongan sudah dilabeli dengan image tertentu. Saya beranggapan hanya karena ketidaktahuan saja seseorang atau kelompok masyarakat  tidak toleran terhadap yang lain, yang berbeda dari mereka. Jadi saya juga maklum saja kalau di negara saya sendiri masih ada orang yang memprotes tentang “pilih-pilih” makanan ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s