Manis ada karena Pahit


Pasti setiap kita pernah merasakan minuman atau makanan yang rasanya pahit, misalnya minum jamu atau makan pare. Biasanya sehabis minum jamu, rasa pahitnya bisa dihilangkan dengan meminum madu atau emut permen. Rasa pahit yg sangat sewaktu minum jamu, bisa hilang dalam beberapa detik saja setelah kita meminum atau memakan sesuatu yang manis. Semakin pas komposisi rasa manis yang kita makan, akan semakin cepat rasa pahit bisa hilang. Tetapi ada penawar yang sifatnya sementara, artinya setelah penawar tersebut habis, rasa pahitnya bisa kembali terasa di lidah. Tetapi ada penawar yang sifatnya benar-benar menghilangkan rasa pahit, sehingga setelah penawar tersebut habis, maka rasa pahit tidak akan terasa kembali di lidah kita.

Tetapi yang perlu diingat, jangan sampai kita terus-terusan mengkonsumsi yg manis-manis. Walaupun rasanya enak, tetapi jika dikonsumsi terus menerus bisa-bisa memberi efek buruk bagi kesehatan kita.

Ternyata dalam hidup juga berlaku hal yang demikian. Setelah mengalami kejadian yg teramat ‘pahit’, pasti rasa ‘pahit’ itu tidak akan hilang jika tidak menemukan penawarnya. Rasa ‘pahit’ itu akan bisa terobati ketika kita menemukan hal-hal ‘manis’. Sama seperti penawar rasa pahit pada lidah, dalam hidup pun ada penawar yang sifatnya sementara dan ada yang ‘long lasting’. Setiap orang pasti memiliki penawar masing-masing yang bisa membantu mereka mengatasi ke-‘pahit’-an yang mereka alami. Penawar yang sudah disediakan bagi umat muslim adalah semua yang terdapat dalam Al Quran. Salah satu contohnya ada pada surat Ar-Ra’du ayat 28 :

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.”

Tetapi harus diingat juga, seperti analogi meminum yang manis setelah minum jamu. Jika penawar yang kita ambil tidak berasal dari Allah maka lebih baik kita tidak terus-terusan ‘meminum’nya karena bisa-bisa mengakibatkan ketergantungan atau memberi efek yang tidak baik pada kesehatan pribadi kita.

Analogi yang sama bisa juga dipakai dalam menyikapi episode hidup ini. Kenapa Allah tidak memberikan kita episode hidup yang selalu ‘manis’? Kalau manusia terus-terusan mengalami hal-hal/episode ‘manis’ dalam hidupnya, sepertinya bisa berakibat buruk bagi kesehatan jiwa dan kepribadiannya. Dia tidak akan belajar dan berkembang. Terlebih lagi dia tidak akan tahu bagaimana itu rasa pahit, sehingga tidak akan pernah muncul empati terhadap orang lain. Dan jika tidak ada yang pernah merasakan pahit, tidak akan pernah ada yang tahu nikmatnya rasa manis.

Setelah pahit, insyaAllah akan ada manis. Seperti Firman Allah SWT dalam QS Al-Insyirah 5-6 :

“karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

*anyway, sebenarnya pahit dan manis itu masalah sudut pandang dan kebiasaan saja. karena sebuah rasa itu nilainya relatif.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s