Beban itu …


Orang bijak berkata “Bukan beratnya beban yang membuat beban itu berat, tetapi cara kita membawa beban itu”. Perkataan tersebut sangatlah benar. Teringat kisah perjuangan Rasulullah dan para sahabat, terutama pada fase Makkiyah. Bagaimana di tengah tekanan dan intimidasi masyarakat bani Quraisy saat itu, Rasulullah dengan tabah menyebarkan risalah secara sirr hingga akhirnya turun perintah berhijrah. Ibaratkan seseorang dengan gerobak, diberi beban diatas gerobaknya. Semakin berat beban yang diberikan tentu semakin lambat orang itu berjalan. Tetapi seperti Rasulullah, dengan beban berat itu bukannya malah berhenti dan putus asa, tetapi tetap berjalan selangkah demi selangkah hingga akhirnya sampai ke tujuan. Teman seperjalanan yang saling menanggung beban tentu akan sangat membantu kita, hingga berat yang dipikul tidak lagi terasa berat. Seperti pengalaman saya longmarch sampai 40an km. Perjalanan sepanjang itu tidak begitu terasa berat, karena ada teman yang saling menyemangati. Teman yang mengajak untuk berbagi, membuat tidak terasa sudah begitu jauh kaki melangkah. Terlebih lagi, mindset dalam diri, meyakinkan diri sendiri bahwa beban itu tidak berat dan bahwa kita mampu membawanya. Cara membawa beban seperti itu akan membawa kita mampu membawa beban seberat apapun.

 “Semakin tinggi pohon, semakin kuat terpaan angin”. Berat beban diibaratkan seperti terpaan angin. Semakin tinggi ketaqwaan seseorang, akan semakin kencang terpaan angin. Seharusnya berbahagialah mereka yang mendapat terpaan angin lebih kencang dari manusia yang lain. Berbahagialah mereka yang menerima tambahan beban. Karena mengindikasikan bertambahnya ketaqwaan.

 Jika menangis karena lelah dan ingin beristirahat, maka menangislah, istirahatkan sejenak jiwa dan raga dalam taqarrub pada-Nya. Karena kita hanya manusia. Bahkan sahabat Abu Bakar radhiyallahu-anhu pun pernah menangis dalam gua tsur. Beliau menangis karena sedih dan takut terhadap kejaran orang-orang Quraisy, kemudian Rasulullah mendamaikan hati sahabatnya dengan berkata “Laa tahzan, innallaha ma ana”. Jika lelah dan sedih, jangan meminta untuk dihilangkan beban itu karena itulah sarana kita untuk menempa diri. Tetapi mintalah kesabaran, karena sampai kapanpun “angin” dan “beban” itu akan selalu ada sampai akhir menutup mata, selama Allah sayang kepada kita.

Wallahua’lambisshowab

 *dari berbagai sumber yang masuk dalam kepala dan hati,  jazakumullah kepada para ustadz dan ustadzah


2 thoughts on “Beban itu …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s