Aku, kamu, dan perubahan (2-fin)


Ibaratkan kita tinggal dalam sebuah rumah. Rumah tersebut dibangun dengan bahan-bahan bangunan yang bagus, tetapi rumah tersebut tidak nyaman untuk ditempati, entah karena warnanya kusam, ada atap yang lubang, temboknya ada yang tergerus air, dll. Apa yang akan kita lakukan ? Apa kita akan meninggalkan rumah tersebut begitu saja dan mencari rumah baru ? Apakah kita akan mengajak sesama penghuni rumah untuk memperbaikinya ? Atau kita akan merobohkannya dan membangun rumah yang sesuai impian kita sendiri diatasnya ?

Pastilah kita tidak rela jika ‘rumah’ kita bersama dikuasai oleh sekelompok orang yang membawa sedikit saja bagi kebaikan para penghuni ‘rumah’, apalagi kalau banyak membawa keburukan, mengambil keuntungan untuk kelompok mereka dan mengabaikan penghuni yang lain. Kita pasti mengharapkan seorang pemimpin yang jujur, mengayomi semua aspirasi penghuninya, adil, dan mampu memperbaiki kondisi rumah. Tetapi seorang pemimpin adalah yang dipilih oleh mayoritas suara penghuni rumah. Mekanisme itu yang memang sudah disepakati bersama. Ketidakikutsertaan  kita dalam memilih pemimpin rumah tidak lantas akan memunculkan seseorang pemimpin yang ideal. Malah yang terjadi, secara tidak langsung kita meng-amin-i apapun hasil yang muncul, entah seorang yang terpilih itu dari golongan yang baik, setengah baik, atau bahkan tidak baik sama sekali.

Ibarat memakan buah simalakama (terus terang saya belum pernah melihat buahnya secara langsung, apalagi mencoba memakannya), sering kita menilai tidak ada calon pemimpin yang cocok untuk menjadi pemimpin dalam rumah kita. Tetapi figur pemimpin itu harus ada. Ibarat mobil yang harus memiliki seorang pengemudi. Tinggal keputusan itu kembali kepada kita, kita ingin memilih seorang pengemudi yang mana dari sekian pengemudi yang ditawarkan? Atau malah tidak memilih, yang artinya kita cuek saja siapapun pengemudinya sehingga nantinya kita juga tidak bisa menyalahkan ketika mobil kita terperosok kedalam jurang, karena kita diam saja ketika proses pemilihan itu berlangsung. Lebih bagus lagi jika kita malah yang menjadi solusi, artinya kita me-layak-kan diri kita untuk menjadi seorang pemimpin yang diidam-idamkan selama ini.

Walaupun kita tidak setuju dengan semua calon pemimpin yang ada, alangkah baiknya jika kita memilih yang paling sedikit keburukannya, bukannya ikut-ikutan memilih si A atau si B, atau bahkan tidak memilih. Memang sebuah pilihan yang sulit ketika tidak ada calon yang perfect (hey by the way, aren’t you ever heard about the words ‘nobody’s perfect’?). Dan ketika calon yang kita nilai baik pun masih kalah juga dalam pemilihan, paling tidak kita sudah tercatat (disisi Tuhan) berusaha meng-gol-kan kebaikan.

Dan tentu saja perjalanan tidak berhenti sampai disitu. Para kandidat pemimpin yang tidak puas pun akan berusaha (kebanyakan dengan segala cara) untuk ‘menggoyang’ kepemimpinan rival mereka. Padahal kalau dipikir-pikir, perbuatan tersebut malah akan merugikan para penghuni rumah itu sendiri. Karena perbaikan rumah akan terganggu, pemimpin rumah juga tidak lagi bisa mendengar aspirasi penghuni rumah karena sibuk menangani gangguan yang ada.

Dan kalaupun pemimpin yang kita anggap baik ternyata mengecewakan, mari kita doakan pemimpin yang saat ini agar bisa menjadi lebih baik dan agar nantinya bisa muncul seorang pemimpin yang ideal seperti yang kita idam-idamkan.

Menilik kepada bangunan yang lebih besar, yaitu sebuah negara. Membangun sebuah negara yang baik sebenarnya tidak susah, dimulai dari baiknya elemen terkecil dari negara yaitu pribadi. Keshalihan pribadi membentuk keshalehan keluarga. Keluarga-keluarga yang baik akan membentuk masyarakat yang baik. Masyarakat-masyarakat yang baik akan otomatis membentuk sebuah negara yang baik. (prinsip yang saya tangkap dari buku hasan al banna). Kebaikan pribadi tidak akan berarti tanpa kebaikan keluarga. Kebaikan keluarga tidak akan berarti tanpa kebaikan masyarakat. Karena jika tidak ada kebaikan masyarakat, tidak ada kebaikan negara. Tidak ada perjuangan dan perbaikan yang instan, apalagi seperti merubah sebuah negara. Tetapi langkah besar dimulai dari sebuah langkah kecil.

Riak-riak kecil perubahan mulai tampak di sekitar kita. Sebentar lagi ia akan berubah menjadi gelombang. Pada saat yang sama, riak-riak keburukan dan penghancuran malah sudah bertransformasi menjadi gelombang. Pilihan ada di tangan kita, kita termasuk Anda.

wallahua’lam bisshowab

(fin)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s