Aku, kamu, dan perubahan (1)


Aku punya teman… teman sepermainan…

Sebenarnya cuma teman kuliah, nggak pernah ngobrol langsung, nggak pernah sekelompok tugas, apalagi diskusi langsung. Tapi saya tahu pemikiran-pemikirannya dari tulisan-tulisannya di komunitas mahasiswa di chat bulletin board system (BBS). Silo memang berbeda dari kebanyakan mahasiswa di kampus. Ketika pengkaderan, Silo terlihat menonjol tidak seperti saya yang apa adanya, “ape lu kate deh senior, anjing menggonggong kafilah berlalu…wusssh.  Bah kon ngomong opo, aku lho gak ngereken”. Silo menanggapi dengan serius acara pengkaderan di jurusan kami. Sepertinya memang didaerahnya tidak pernah ada penerimaan siswa baru dengan model seperti itu. Berbeda dengan saya yang sudah sejak SMP dan SMA mengikuti ‘ceremony’ seperti itu. Ketika Silo tidak setuju dengan yang dilakukan para senior, maka dia akan dengan lantang memprotes mereka. Silo tidak sendirian, ada seorang teman lain yang juga seperti itu, namanya Fahri. Fahri adalah anak perantauan dari Aceh, dia cukup disenangi karena selain berwajah ganteng, dia juga sangat baik dalam bergaul (maaf ini testimoni pribadi). Fahri juga sering kali mengutarakan ketidaksetujuannya ketika dalam acara forum pengkaderan. Hanya saja berbeda dengan Silo, Fahri mengutarakan maksud-maksudnya dengan bahasa yang kalem dan sopan, tidak berapi-api seperti Silo.

Hingga suatu hari, ketika di suatu acara forum pengkaderan dengan senior OC. Silo mengutarakan ketidaksetujuannya karena kami seangkatan dipanggil dengan sebutan yang tidak seharusnya. Sekali lagi, saya sih cuek saja “apa mau lu kata, gak peduli”. Kemudian salah seorang senior yang sudah saya kenal sejak SMA (di SMA juga dikenal sebagai pembuat onar) menendang dia, sehingga pada saat itu juga dia memutuskan untuk berhenti mengikuti pengkaderan karena merasa tidak diperlakukan dengan baik. Sebenarnya saya juga sepakat dengan dia, 100% sepakat, hanya saja saya tidak berniat merubahnya sekarang.

Ada lagi seorang teman saya bernama Romli. Romli memang tidak seaktif Silo atau Fahri ketika memprotes senior, tetapi saya yakin Romli memiliki visi kedepan untuk berusaha memperbaiki hal-hal yang tidak disetujuinya. Terkadang dia juga ikut mengutarakan pendapatnya di hadapan para senior.

Setelah kami melalui segala tetek bengek pengkaderan selama 1 tahun, akhirnya kami disahkan secara resmi menjadi anggota dari himpunan. Jadi tujuannya untuk dapat jaket himpunan (katanya biar keren), tapi saya tahu tujuan aslinya mulia hanya saja pelaksanaannya yang masih banyak error disana-sini. Pada tahun ketiga perkuliahan, tibalah masa pemilihan ketua himpunan yang baru untuk angkatan saya (maksudnya angkatan saya yang maju menjadi pengurus himpunan). Seperti halnya pemilu di negara kita, sebagian mahasiswa juga ada yang tidak mau peduli dengan urusan himpunan, termasuk pemilihan ketua himpunan.

Saya yakin Silo ingin merubah sistem himpunan yang sedemikian rupa agar menjadi lebih baik. Bisa saja misalnya ketika Silo menjadi ketua himpunan, dia akan merubah pengkaderan yang demikian menjadi acara penelitian, pelatihan atau hal lain yang lebih bermanfaat. Tetapi sayangnya Silo sudah terlanjur tidak mengikuti pengkaderan dan tidak bisa menjadi anggota himpunan. Berbeda dengan Romli dan teman-teman saya yang lain. Romli dan yang lain tetap setia berada di dalam himpunan dengan tujuannya merubah himpunan menjadi tempat pembinaan mahasiswa yang lebih baik. Fahri juga masih mengikuti pengkaderan hingga selesai (seingat saya). Tetapi Fahri juga pada akhirnya tidak mengambil bagian dalam kepengurusan himpunan.

Saya yakin banyak sekali mahasiswa yang menginginkan perubahan dari sistem pengkaderan atau yang lainnya. Hanya saja beberapa dari mereka sudah terlanjur ‘ill feel’ dan memutuskan untuk menjauh dari hal-hal yang demikian. Mengapa ketika diadakan suatu pemilihan ketua organisasi selalu saja para pendukungnya berjuang untuk memenangkan calonnya? Pasti kita berpikir karena keinginan untuk berkuasa. Kenapa seseorang (dan golongannya) itu ingin berkuasa? Karena mereka ingin membuat perubahan. Perubahan seperti apa? Tentu saja perubahan seperti yang mereka inginkan untuk mencapai sebuah maksud tertentu.

Sebenarnya saya membayangkan, mungkin dalam himpunan akan bisa tercipta banyak perubahan jika orang seperti Silo atau Fahri yang pemberani ikut ambil bagian dalam kepengurusan. Tetapi sayangnya mereka memilih menjauh. Dengan ada atau tidak adanya mereka, himpunan dan sistem pengkaderan tetap ada. Jika orang-orang yang berpotensi bagus menjauh, lantas orang-orang seperti apa yang menjadi pempimpin dan memimpin perubahan ? (Sebenarnya masih banyak sih mahasiswa yang berpotensi :D).

(bersambung)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s