Tentang Andre (2)


Takdir Allah mempertemukan dia dengan seorang perempuan pujaan hatinya, serta dipertemukan dengan saya sebagai kakak seniornya ^_^. Saya mengenal Andre, ketika Andre menjadi adik bimbingan saya sewaktu praktikum. Semenjak itu, setiap bertemu saya, dia selalu menyapa saya keras-keras seakan-akan saya orang dengan kemampuan pendengaran lemah. Bahkan ketika sedang duduk dengan pacarnya sekalipun, ketika bertemu saya, dia langsung berdiri dan menyapa saya dengan suara keras-keras. Memang Andre anak yang lucu dan menyenangkan (sebenarnya saya ingin bilang ‘mbencekno’ alias menyebalkan, hehehe).

Beberapa saat kemudian ayahnya didiagnosa menderita penyakit kanker. Walaupun sakit, ayahnya tidak mau berobat kemotrapi karena takut uang tabungannya akan habis untuk berobat dan bukan digunakan untuk menyekolahkan anak-anaknya. Ketika penyakitnya menginjak stadium 4, ayahnya kembali menetap di Surabaya. Penyakit ayahnya menjadi semakin parah ketika dia menginjak semester akhir perkuliahan. Pada saat yang bersamaan, pacarnya menderita sakit yang tidak diketahui jenis penyakitnya. Tak berapa lama, ayahnya meninggal dunia.  Belum habis rasa sedih ditinggal ayahnya, pacarnya tiba-tiba dirawat di rumah sakit dan koma berhari-hari. Dokter tidak bisa mengetahui apa penyakit yang diderita lili, pacar Andre. Pihak keluarga heran dengan sakit lili tersebut. Bahkan mereka sempat berpikiran bahwa lili mengidap AIDS dan Andre adalah penularnya. Andre kemudian melakukan cek darah dan terbukti bahwa dia terbukti bebas dari AIDS. Tak berapa lama, Andre kembali harus merelakan kepergian orang yang disayanginya. Lili, meninggal tak berapa lama setelah koma dan mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Setelah kematian lili, 3 bulan setelah kematian ayahnya, dan 2 hari sebelum ulangtahunnya, ibunya mendadak terkena serangan jantung dan meninggal dunia. Terhitung dalam rentang waktu 3 bulan, 3 orang yang disayanginya dipanggil Sang Maha Pencipta. Depresi dan kesedihan mendalam sempat dia rasakan bersamaan dengan waktu pengerjaan tugas akhirnya. Setelah kepergian orang tuanya, hidupnya bisa dikatakan prihatin. Untunglah dia masih bisa menata semangatnya untuk menyelesaikan kuliahnya secepatnya. Dan dia pun menyelesaikan kuliah tepat pada waktunya.

(bersambung)

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s