Tentang orang munafik dan seruan jihad (QS. At-Taubah : 49-50)


QS.At-Taubah : 48

Sungguh, sebelum itu mereka memang sudah berusaha membuat kekacauan dan mengatur berbagai macam tipu daya bagimu (memutarbalikkan persoalan), hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah), dan menanglah urusan (agama) Allah, padahal mereka tidak menyukainya.

 Disini jelas diebutkan bahwa orang-orang munafik tidak menginginkan kebaikan bagi umat islam, tetapi menginginkan fitnah / kerusakan.

QS.At-Taubah : 49

Dan diantara mereka ada orang yang berkata, ”Berilah aku izin (tidak pergi berperang) dan janganlah engkau (Muhammad) menjadikan aku terjerumus ke dalam fitnah. Dan sungguh, Jahanam meliputi orang-orang yang kafir.

Ketika Rasulullah SAW berangkat perang Tabuk, terjadi musim panas yang panjang dan paceklik. Pada saat itu orang-orang munafik banyak yang tidak ikut berangkat berperang dengan membuat berbagai macam alasan. Salah satu alasan mereka adalah seperti yang diceritakan oleh Ibnu Qois, alasan orang-orang munadik terhadap bani Asfar (kaum arab berkulit putih). Daerah Tabuk letaknya berdekatan dengan daerah Asfar, sehingga mereka lebih baik tidak ikut berperang dikarenakan takut tergoda dengan wanita-wanita bani Asfar tersebut. Tetapi, orang-orang munafik berkata bahwa mereka tidak ingin dianggap mencari alasan. Sesungguhnya mereka ingin terlihat baik dan bersungguh-sungguh dihadapan manusia, walaupun kenyataan di dalam hati mereka tidak demikian.

QS.At-Taubah : 50

Jika engkau (Muhammad) mendapat kebaikan, mereka tidak senang; tetapi jika engkau ditimpa bencana, mereka berkata “Sungguh, sejak semula kami telah berhati-hati (tidak pergi berperang)”, dan mereka berpaling dengan (perasaan) gembira.

Ciri khas orang-orang munafik yang jelas adalah mereka susah melihat orang-orang beriman senang, dan sebaliknya mereka senang melihat orang-orang beriman susah. Ketika orang-orang beriman ditimpa cobaan atau kesusahan, mereka akan senang dan merasa bersyukur bahwa pilihan mereka tepat untuk tidak ikut pergi berperang bersama orang-orang beriman. Karena mereka melihat orang-orang beriman yang pergi berperang bersama Rasulullah SAW banyak yang terluka atau bahkan terbunuh, sehingga mereka merasa pilihan mereka untuk tidak berperang adalah tepat.

Padahal bagi orang beriman, ujian apapun bisa menghasilkan kebaikan. Orang mukmin itu menakjubkan. Ketika diberi kesenangan maka ia bersyukur. Ketika diberi permasalahan, dan ia bersabar maka akan mendapatkan kebaikan. Sebuah fitrah bahwa mereka juga menangis atau bersedih tetapi tidak berkepanjangan karena mereka menyandarkan semua urusan pada Allah SWT saja. Sehingga orang-orang mukmin hanya berharap kepada Allah SWT. Seperti sahabat Rasulullah, Abu Bakar ra, ketika hijrah bersama Rasulullah dan bersembunyi dalam gua tsur untuk menyelamatkan diri dari kejaran orang-orang kafir, beliau sempat menangis. Kemudian Rasulullah menghibur sahabatnya ”Laa tahzan, innallaha ma’ana” (jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita).

Ada kalanya juga orang-orang beriman banyak menangis dikarenakan takut kepada Allah. Menangis dikarenakan takut kepada Allah dapat mengantarkan seseorang ke surga. Air mata yang jatuh akan menjadi saksi dihadapan Allah. Kehidupan orang-orang mukmin selalu diliputi oleh khauf dan roja’ (takut dan berharap kepada Allah).

Sehingga ketika seorang mukmin ditimpa musibah atau masalah maka ia akan berdoa kepada Allah. Berdoa untuk dihilangkan masalah tersebut baginya tetapi tetap dilapangkan hati, karena selama hidupnya manusia akan penuh dengan masalah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s