Hari kelima minggar, longmarch (2-fin-)


banyak memory lucu dengan pelatih satu ini🙂

Mendekati sore hari, cuaca di jatiluhur menjadi semakin panas. Pelatih sudah ada yang bersiap di pinggir jalan dengan mambawa ember-ember air. Bagi siswa yang kepanasan, bisa meminta untuk diguyur air. Kami semua akhirnya membasahi baju kami dengan air, dan tidak perlu khawatir masuk angin karena baju akan langsung kering dalam 15 menit. Setelah waktu azar kami memutar ke daerah yang tidak pernah kami lalui, dan di jatiluhur ini semua medannya naik turun alias berbukit-bukit. Sepanjang perjalanan, kami bisa memilih teman sebelah (maksudnya rekan baris sebelah kami). Untunglah saya menemukan rekan yang enak diajak ngobrol, jadilah longmarch bernuansa curhat, hehehe(mas adhie… kapan bisa ketemu lagi? Ngobrol sambil longmarch? Gak lagi lagi deh).

Saya Tunggu Engkau (song lyric)

Saya tunggu engkau 2x

Rupanya engkau forget to me 2x

Rambate rasa ayo tarik tambang

Di sini aku jadi tambah senang

Andaikan aku burung, aku akan terbang

Sebentar lagi jadi karyawan INDOSAT

Bangun pagi‐pagi menuju ke lapangan

Untuk mnegikuti latihan DIKDAS INDOSAT

Tak tahan rasanya ingin segera pulang

Pendidikan belum usai

Mau makan… jalan jongkok

Habis makan … lompat kodok

Dicaci dimaki dan dibentak bentak

Wahai pelatihku betapa tajam hatimu

Wahai pelatihku betapa jeli matamu

Tidakkah kau tau apa isi hatiku

Ku sayang padamu

Ku cinta padamu

istirahat makan snack

Ketika matahari sudah mulai bersahabat, kami tiba di sebuah kampung yang sangat sederhana. Rata-rata kondisi perkampungan di jatiluhur sepertinya kaum ekonomi menengah ke bawah. Rumah penduduk di kampung-kampung ini terbuat dari bambu (gedek) dan berlantai tanah. Saat tiba di kampung tersebut, waktunya bagi kami untuk memakan snack pagi yang belum sempat kami makan, sekaligus beristirahat sejenak. O ya, sudah jatuh korban 1 rekan yang harus dilarikan ke rumah sakit, sesampai disana ternyata  diketahui bahwa rekan tersebut terkena thypus. Mbak iya’ dirawat selama 3 hari di rumah sakit dan kemudian menyusul kami kembali berlatih setelah minggar.

Ditengah-tengah waktu istirahat kami, ternyata ada seekor kambing yang tertabrak mobil dan dalam kondisi sekarat. Para pelatih membawa sangkur di pinggang mereka, tetapi tidak ada yang berani menyembelih. Kami semua menahan tawa, wkwkwk. Ternyata pelatih yang pada sok keren-keren itu tidak ada yang berani menyembelih kambing, hehehe. Entah nasib kambing itu akhirnya disembelih siapa.

Setelah beristirahat, waktunya bagi kami untuk melalui rute kembali ke base camp di stasiun bumi. Rute kembali ke stasiun bumi dilalui dalam suasana sejuk karena matahari sudah tidak lagi menampakkan sinarnya yang panas. Kondisi perjalanan ke arah stasiun bumi termasuk berat seperti perjalanan hari pertama, karena menuju stasiun bumi artinya menuju salah satu puncak bukit. Jalanan menuju kesana konstan naik walaupun tidak begitu curam. Ditengah perjalanan kami harus beristirahat lagi untuk menghabiskan snack sore kami.

Sekitar pukul 4 atau setengah 5 sore kami tiba di stasiun bumi, alhamdulillah wa syukurillah. Menurut info yang kami dapat, longmarch yang baru kami lalui panjang rutenya sekitar 40 km lebih. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 8 jam. Perjalanan hari ini benar-benar sesuatu yang luar biasa, above the limit.

Sebelum benar-benar sampai di stasiun bumi, kami diberhentikan di sebuah tanah kosong terlindung pohon-pohon. Disana kami diijinkan untuk beristirahat sebentar. Kemudian mata kami ditutup dan diperintahkan mengikuti semua instruksi pelatih. Instruksi yang diberikan adalah seperti yang biasa kami lakukan, yaitu guling-guling, loncat, dll entah berapa lama sampai hari sudah gelap. Setelah itu kami digiring oleh pelatih ke sebuah tempat, entah dimana. Kami berjalan dengan memegang pundak seseorang didepan kami. Sesampainya di tempat tersebut, kami disiram air (air  dengan bunga) dan ketika penutup mata kami dibuka, ternyata kami sudah sampai di stasiun bumi. Kami dihadapkan pada bendera merah putih dan disuruh untuk menciumnya (seumur-umur baru sekali ini nyium bendera merah putih).

Setelah ceremony kelulusan minggar ternyata pelatih sudah menyiapkan pesta kecil-kecilan buat kami. Sekedar merayakan perjalanan minggar yang telah kami lalui (artinya hari ini adalah hari terakhir, hore). Api unggun telah disiapkan. Kami semua duduk mengelilingi api unggun dan membakar kain slayer siswa kami (slayer hitam) dan tanda nama panggilan yang kami kenakan selama ini. Setelah ini kami akan memakai hanya slayer indosat dan dipanggil dengan nama asli kami masing-masing.

Setelah acara api unggun, waktunya kami beristirahat.

Esok paginya kami bersama-sama membongkar tenda yang selama 5 hari kami gunakan sebagai tempat istirahat. Setelah merobohkan tenda, akhirnya kami bersama-sama naik pick up menuju ke mess kami, yang disebut sebagai barak. Hari ini adalah hari santai kami untuk membersihkan semua baju alias cuci-cuci baju dan semua perlengkapan kami. Besok (hari minggu) dan seterusnya, pengalaman menarik dan menyenangkan menunggu dengan senang hati.

 (fin)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s